MENJALANKAN USAHA DENGAN INTEGRITAS

“Integritas memiliki makna yang sangat holistik untuk membuat sikap dan perilaku seseorang menjadi terpercaya.”~Djajendra

Ketika raksasa bisnis Enron jatuh, banyak orang mengatakan bahwa kejatuhan Enron disebabkan mereka tidak memiliki integritas. Perilaku kerja yang tidak taat aturan dan etika menjadikan Enron sebagai korban.

Apa itu integritas? Menjalankan usaha yang baik memerlukan ketaatan dan kepatuhan pada aturan, etika, SOP, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Kejujuran sikap, kejujuran hati, kejujuran perilaku, kejujuran pikiran, kejujuran niat, kejujuran emosi, dan kejujuran tindakan merupakan satu kesatuan yang harus melebur dalam etos kerja setiap individu. Ucapan, perbuatan, dan pikiran haruslah sama walau dilihat atau tidak dilihat oleh siapapun. Jadi, integritas adalah sebuah kata atau nilai yang mendeskripsikan sebuah realitas perilaku yang bersumber dari kejujuran, tanggung jawab, kemampuan, kualitas, dan niat suci. Intinya, integritas itu memiliki makna yang sangat holistik untuk membuat sikap dan perilaku seseorang menjadi terpercaya.

Untuk menjalankan usaha berlandaskan integritas memerlukan kesadaran dan niat yang suci. Biasanya, perusahaan melengkapi tata kelola terbaiknya dengan berbagai pedoman dan aturan untuk mengikat dan mengawasi perilaku kerja setiap orang. Selanjutnya, dibangun sistem pengawasan dan sistem untuk peningkatan kualitas kepribadian secara terus-menerus. Intinya, setiap karyawan dan pimpinan wajib memahami garis terang yang membedakan perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima oleh integritas.

Perusahaan yang menjalankan bisnis dengan budaya integritas memperoleh banyak manfaat untuk menjaga pertumbuhan dan pencapaian kinerja terbaik. Di samping itu, perusahaan mampu meningkatkan reputasi dan kredibilitas di persepsi stakeholders, sehingga menjadi sangat dipercaya dan diandalkan oleh stakeholders. Kondisi ini memudahkan perusahaan untuk mendapatkan sumber daya terbaik dalam menumbuhkan dan mengembangkan usaha.

Budaya integritas dalam bisnis secara otomatis memperkuat manajemen resiko dan integrasi etos kerja terbaik ke dalam perilaku kerja karyawan. Hal ini akan mendorong setiap insan perusahaan untuk membangun bisnis dengan integritas, dan berkomitmen untuk melihat visi perusahaan melalui integritas. Intinya, setiap insan perusahaan akan bekerja dengan niat dan fokus untuk menjaga pertumbuhan dengan perilaku kerja berlandaskan integritas.

Integritas dalam bisnis menjadi kekuatan untuk memperkuat modal usaha; memperkuat tim kerja yang efektif dan produktif; meningkatkan keuntungan usaha; meningkatkan pertumbuhan; meningkatkan fokus sesuai keahlian masing-masing fungsi dan peran; menguatkan daya tahan dalam menghadapi tantangan; mendorong masa depan dengan pertumbuhan dan kinerja; serta membangun kepercayaan diri setiap orang untuk melihat visi dengan optimis.

Ketika integritas sudah menjadi perilaku kerja, maka setiap orang di tempat kerja sudah mampu menyempitkan fokus mereka ke daerah-daerah kunci di mana mereka bekerja dengan unik untuk bisa memberikan nilai tertinggi kepada perusahaan dan pelanggan.

Perilaku integritas secara langsung memperkuat implementasi etika dan etiket di tempat kerja. Hal ini, akan menciptakan budaya kerja yang secara fundamental mempromosikan prinsip-prinsip untuk secara terus-menerus memperbaiki dan meningkatkan semua aspek di lingkungan tempat kerja. Kejujuran dan tanggung jawab menjadi fondasi untuk memotivasi orang-orang berbakat dengan landasan etika.

Budaya integritas di tempat kerja menyatukan semua fungsi dan peran melalui kemampuan komunikasi positif. Intinya, setiap orang memiliki kesadaran dan niat suci untuk kolaboratif dan melayani satu sama lain. Semua orang merasa bertanggung jawab dan bekerja dari diri sejati yang paling jujur, untuk memenuhi harapan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Inovasi yang terus-menerus akan menjadi budaya untuk menjawab tantangan bisnis di masa depan. Setiap orang secara sadar dengan intuisi yang tajam mampu menjaga komitmen untuk praktik bisnis yang etis.

Budaya integritas memunculkan mindset bahwa perusahaan adalah manusia, dan bisnis adalah manusia. Kesadaran bahwa perilaku dan sikap manusialah yang menentukan kemajuan dari usaha tersebut. Oleh karena itu, setiap orang di tempat kerja wajib membangun standar kerja yang lebih tinggi, kolaborasi yang lebih solid di internal organisasi, dan komunikasi yang lebih menyatukan perbedaan. Intinya, perilaku integritas membuat semua orang bangkit dan sadar untuk mengambil tanggung jawab dari hati yang paling tulus dan ikhlas agar dapat bekerja untuk pertumbuhan, bekerja membangun kinerja, menguatkan kekompakan dan sinergi lintas fungsi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Iklan

KEPEMIMPINAN DENGAN STANDAR ETIKA YANG TINGGI

“Pengabaian etika bisnis menimbulkan proses bisnis berbiaya tinggi, dan juga potensi resiko hukum atas ketidakjujuran.”~Djajendra

Kepemimpinan perusahaan adalah kekuasaan dan tanggung jawab di tempat kerja. Agar kekuasaan dan tanggung jawab ini dapat dijalankan dengan cara-cara yang benar dan baik, serta kemampuan untuk menghindari cara-cara tidak benar dan tidak baik; maka, para pemimpin di perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya kerja yang etis. Membangun standar etika yang tinggi, model perilaku yang tepat, integritas dan akuntabilitas yang konsisten.

Dalam proses bisnis, sangat banyak peristiwa yang memungkinkan terjadinya pengabaian etika. Sering sekali, kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok bisa memicu perbuatan yang mengabaikan etika. Sebagai contoh: seorang staf dari bagian pembelian menerima komisi dari penjual, dan komisi tersebut masuk ke kantong pribadi. Contoh yang lain, seorang staf dari bagian pembayaran meminta komisi agar pembayaran bisa dipercepat. Dan, sangat banyak wilayah dalam proses bisnis yang berpotensi mengabaikan etika.

Pertanyaannya, apa yang akan terjadi kalau etika bisnis selalu diabaikan? Jawabannya jelas, pengabaian etika bisnis menimbulkan proses bisnis berbiaya tinggi, dan juga potensi resiko hukum atas ketidakjujuran.

Proses bisnis yang efektif dan efisien membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan berani menjalankan etika bisnis dengan standar yang tinggi. Tanpa implementasi etika bisnis dan kode etik perilaku di tempat kerja, maka tata kelola perusahaan yang terbaik sulit diwujudkan. Tanpa internalisasi etika bisnis dan kode etik perilaku ke dalam mental dan perilaku pegawai, maka proses bisnis berpotensi berbiaya tinggi. Kepemimpinan yang etis berani mengambil tindakan dan menunjukkan kepada semua stakeholder bahwa organisasinya mematuhi isu-isu etis. Keberanian dan kepastian pemimpin untuk menjalankan nilai-nilai etika, akan meningkatkan kualitas budaya organisasi etis di tempat kerja.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi tidak hanya membuat tata kelola bisnis yang terbaik, panduan etika bisnis, panduan kode etik perilaku, prosedur kerja yang profesional, aturan, peraturan, dan kebijakan yang mempromosikan etika sebagai fondasi budaya perusahaan. Mereka juga merupakan kepemimpinan yang membentuk perilaku dan karakter kerja dengan nilai-nilai inti perusahaan. Nilai-nilai inti (core values) perusahaan merupakan jati diri dan identitas unik dari perusahaan. Oleh karena itu, kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi merasa bertanggung jawab untuk mengatur perilaku karyawan agar selalu selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan. Bila ada karyawan yang perilaku kerjanya tidak selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan, maka dia akan menjadi kekuatan negatif yang merusak implementasi dan internalisasi etika bisnis.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi wajib menjadi contoh dan memberikan keteladanan melalui sikap dan perilaku etis. Intinya, kepemimpinan etis memberitahu kepada semua stakeholder tentang cara menjalankan etika bisnis dan kode etik perilaku melalui kepribadian dan karakter kerjanya.

Nilai-nilai inti pribadi dan nilai-nilai inti perusahaan harus menyatu. Misalnya, nilai-nilai inti pribadi tidak mempercayai transparansi, sedangkan nilai-nilai inti perusahaan mempercayai transparansi. Kondisi ini akan membuat nilai-nilai inti pribadi bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Akibatnya, karyawan tidak mungkin bisa bekerja dengan sepenuh hati bersama perusahaan. Padahal, setiap orang di tempat kerja harus mampu menjadi kekuatan dari budaya organisasi yang unik dan sesuai dengan napas perusahaan.

Untuk mendapatkan nilai-nilai inti pribadi karyawan yang selaras dengan nilai-nilai inti perusahaan dimulai dari perekrutan dan pelatihan. Dalam proses perekrutan jangan terjebak dengan tingginya nilai akademik calon karyawan, tetapi berikan perhatian pada nilai-nilai inti pribadi calon karyawan. Tingginya nilai akademik calon karyawan tidak menjamin bahwa dia akan menjadi kekuatan positif bagi budaya kerja yang etis. Jadi, begitu seseorang diterima sebagai pegawai, sudah tidak ada lagi urusannya dengan nilai-nilai akademik, urusannya sekarang adalah kemampuannya untuk bekerja bersama budaya etis di perusahaan.

Penguatan budaya etis di setiap aspek di dalam organisasi menjadikan perusahaan kuat dan mampu beradaptasi di setiap situasi yang tidak pasti. Benar dan salah bukanlah dihasilkan dari persepsi, tetapi dari standar etika dan sistem yang dapat dipercaya.

Pemimpin etis harus memiliki mental yang etis agar dapat melakukan tindakan yang benar, pada waktu yang tepat, untuk alasan yang tepat. Etika harus menjadi dasar pemikiran dan tindakan dalam melakukan apa saja di tempat kerja. Pemimpin dan karyawan harus hidup dalam satu jiwa dan satu napas bersama prinsip-prinsip kerja yang jujur, bertanggung jawab, adil, melayani, menepati janji, menghormati orang lain, mematuhi aturan-aturan, dan berkepastian hukum.

Kepemimpinan dengan standar etika yang tinggi mampu mengenali dan mengelola dilema etika secara profesional. Dilema etika berarti dihadapkan dengan pilihan sulit untuk menjalankan etika secara benar. Seperti dipahami oleh banyak pemimpin perusahaan bahwa di tempat kerja sangat banyak kepentingan, apalagi bila kepentingan itu datang dari orang-orang yang lebih tinggi kekuasaannya dari para pemimpin di perusahaan. Dalam hal ini, dilema etika sudah tidak dapat lagi disembunyikan dengan cara apapun. Di sinilah diperlukan untuk mendengarkan suara hati yang sudah terbentuk sejak lama dari integritas pribadi yang tinggi. Artinya, saat dilema etika begitu sulit, dengarkan suara hati nurani Anda, lalu berpikirlah secara rasional dengan akal sehat sebelum mengambil keputusan atas dilema etika yang Anda hadapi. Itulah cara menjalankan standar etika kepemimpinan walau Anda sedang menghadapi dilema etika yang sulit.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

PERAN INTERNAL AUDITOR DALAM WHISTLEBLOWING SYSTEM

“Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.”~Djajendra

Whistleblowing system sebagai alat untuk pencegahan terhadap praktik tata kelola perusahaan yang buruk. Whistleblowing system mampu menguatkan sistem manajemen resiko dan membantu melindungi reputasi perusahaan. Intinya, whistleblowing system sangat diperlukan untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang terbaik dan pengelolaan resiko yang berkualitas.

Perusahaan yang kuat dan sehat menjadikan whistleblowing system sebagai komponen penting dalam budaya perusahaan. Dalam hal ini, fungsi internal audit diperkuat dengan kualitas dan kompetensi, baik hard skill maupun soft skill, untuk dapat menjadi kekuatan yang andal dan hebat dalam menjalankan whistleblowing system. Internal audit yang berkualitas mampu menunjukkan kemampuan dan kecerdasan dalam mendeteksi, mencegah, juga melakukan penyelidikan atas informasi dan laporan yang di terima dari para whistleblower. Semua kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik; semua kegiatan yang dianggap ilegal, tidak etis, melanggar prosedur, dan berbahaya bagi perusahaan; haruslah ditindaklanjuti dengan tegas dan penuh percaya diri dalam sikap rendah hati oleh setiap insan internal auditor.

Ketika menjalankan peran dalam whistleblowing system, auditor wajib menguasai dan terbiasa dengan soft skills, khususnya untuk mengelola emosi dan pikiran diri sendiri dan kemampuan untuk membaca emosi dan pikiran orang lain. Whistleblowing system membutuhkan karakter kerja auditor yang selalu bersikap rendah hati, optimis, profesional, percaya diri, empati yang tinggi, fleksible, intuisi yang hebat, jujur dan bertanggung jawab, menyenangkan, tenang dan tidak suka marah, tegas dan tidak ragu, selalu bekerja dengan perasaan positif, dan tidak menghakimi atau menilai orang lain.

Auditor harus terbiasa untuk merasa baik dan kuat saat menjalankan fungsi dan perannya di dalam whistleblowing system. Auditor yang berkualitas bekerja melalui prosedur dan audit program yang dirancang secara profesional. Auditor yang berkualitas tidak bekerja untuk menilai dan menghakimi pribadi seseorang, tetapi bekerja untuk menilai dan memastikan setiap proses kerja di dalam organisasi sudah sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang terbaik.

Menjalankan whistleblowing system tidaklah sederhana, diperlukan komitmen dan kekuatan mental yang hebat. Hal ini disebabkan, dalam realitas dunia kerja, selalu ada orang baik dan orang tidak baik, selalu ada yang jujur dan yang tidak jujur. Tidaklah mungkin auditor bisa menghilangkan yang tidak jujur dari tempat kerja. Jadi, hanya melalui sistem dan tata kelola yang penuh integritas, ketidakjujuran dapat diminimalkan. Oleh karena itu, auditor haruslah cerdas emosional dan bermental hebat dalam mengatur diri sendiri, mengelola hubungan dengan orang lain, mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang ditangani, serta selalu menjalankan integritas dengan sepenuh hati.

Kekuatan auditor ada dalam kertas kerja yang dikerjakan dengan prinsip-prinsip audit yang profesional dan masuk akal. Auditor harus hebat dalam menangani kritik dan penolakan tanpa menyalahkan siapapun dengan alasan apapun. Auditor tidak boleh bereaksi berdasarkan emosional atau persepsi; auditor hanya boleh bekerja sesuai fakta, data, dan kebenaran. Jadi, apapun informasi yang didapatkan oleh auditor dari para whistleblower, auditor tidak boleh langsung menilai dan menyimpulkan sesuatu atas informasi tersebut. Auditor wajib menjadi sangat profesional untuk menemukan data, fakta, dan kebenaran atas informasi yang diterima dari para whistleblower.

Manajemen perusahaan secara konsisten wajib membangun dan menguatkan karakter kerja, kebiasaan, perilaku, sikap, etos, mental tangguh, dan daya tahan emosi dari para auditor agar dapat menjalankan whistleblowing system dengan profesional. Auditor bertanggung jawab untuk memastikan prosedur whistleblowing system berjalan efektif; memastikan dan menjamin kerahasiaan dari orang yang menyampikan informasi; bekerja untuk menghindari konflik kepentingan, dan juga penyalahgunaan whistleblowing system untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan misi whistleblowing system.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

AKAL SEHAT DAN INTEGRITAS PUBLIK MENJADI PENILAI TERHADAP INTEGRITAS PEJABAT PUBLIK

MOTIVASI 16042016

“Integritas dan akal sehat merupakan kekuatan yang membongkar semua yang tidak transparan.”~Djajendra

Di zaman transparansi, publik menjadi penilai atas kinerja dan etos pejabat publik. Sekarang ini, pejabat publik hidup di wilayah kerja yang dapat dilihat oleh siapa pun dan dari mana pun. Sudah tidak ada lagi ruang gelap untuk menyembunyikan sesuatu. Seiring waktu, baik dan buruk, pintar dan tidak pintar, terlihat dengan jelas oleh siapa pun.

Akal sehat dan integritas publik menjadi penilai terhadap integritas pejabat publik. Pelajaran penting di jaman baru ini adalah bekerjanya akal sehat masyarakat untuk menilai kinerja dan perilaku pejabat publik. Bagi pejabat publik harus ada kesadaran bahwa zaman sudah berubah, perilaku dan etos kerja juga harus segera dirubah, agar bisa tetap eksis dan karirnya berkembang.

Pada saat integritas dan akal sehat publik bersatu menjadi kekuatan moral positif, maka mereka mampu membongkar semua yang tidak transparan. Integritas dan akal sehat hidup dan tumbuh di tengah kehidupan masyarakat yang demokratis. Di zaman transparansi, kehidupan masyarakat disatukan oleh teknologi dan informasi. Semakin banyak masyarakat yang menjadi cerdas oleh informasi dan pengetahuan. Semakin banyak masyarakat yang memiliki alat komunikasi dengan teknologi untuk bisa beropini terhadap pejabat yang tidak transparan. Dunia sudah berubah, pejabat publik harusnya segera berubah sebelum menjadi korban opini publik.

Pengawasan dari publik adalah sesuatu yang nyata,tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan niat dan perilaku. Sebab, akal sehat dan integritas publik mampu membongkar semua yang tidak transparan, dan semua yang tidak jujur.

Sudah bukan zamannya lagi kata transparansi sebatas dibibir atau sebatas normatif. Kata transparansi harus tampil sebagai perilaku pejabat publik dalam wujud ide-ide yang sederhana, bersih, jernih, jujur, tegas, lugas, tidak membingungkan, menjalankan komitmen dengan berani, bertanggung jawab, dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Tidak boleh seorang pejabat publik mencari alasan untuk ketidakmampuannya. Bila merasa tidak mampu, belajarlah dengan rendah hati agar lebih mampu. Pejabat publik adalah pelayan yang harus siap melayani negara dan masyarakat dengan jujur, terbuka, bertanggung jawab, adil, dan tepat waktu. Jadi, tidak boleh ada dalam pola pikir seorang pejabat publik bahwa dirinya adalah yang berhak menerima pelayanan dari publik. Diperlukan sikap rendah hati dan tanggung jawab untuk memberikan layanan terbaik bagi publik.

Transparansi adalah realitas zaman. Bila seorang pejabat publik hidup jauh dari transparansi dan kejelasan, maka konsekuensinya dia akan dijatuhkan oleh opini negatif publik. Jadi, pejabat publik harus sadar dan memahami bahwa kenyataan hidup pejabat publik harus di wilayah yang terang dan jelas.

Di zaman transparansi, setinggi apapun sebuah jabatan publik, haruslah menjadi pelayan publik yang transparan dan bertanggung jawab. Bukan zamannya lagi seorang pejabat publik memerankan diri menjadi Raja, sekarang peran seorang pejabat publik adalah pelayan masyarakat. Masyarakat dengan kekuatan akal sehat dan integritas menjadi wasit yang memberikan kartu merah atau pun kartu kuning terhadap pejabat yang tidak berkinerja baik.

Setiap praktik, pikiran, ucapan, perbuatan, masalah, dan solusi haruslah di dalam transparansi. Ketidakjujuran seorang pejabat publik mudah dibaca oleh akal sehat publik. Sekarang ini, publik sudah sangat cerdas dan terus-menerus diperkaya oleh informasi terbaru.

Akal sehat dan integritas publik mampu menjaga segala hal dengan jujur. Walau pejabat publik mencoba membingungkan publik dengan menerjemahkan yang benar sebagai yang salah, tetapi akal sehat dan integritas publik mampu mengawasinya dan menemukan yang benar.

Transparansi pejabat publik sudah menjadi kewajiban. Siapa pun yang tidak transparan terhadap pekerjaan publik, akan menjadi bagian yang tidak dipercaya oleh publik.

Zaman sudah berubah, integritas dan akuntabilitas adalah mutlak bagi pejabat publik. Tanpa integritas dan akuntabilitas, pejabat publik kehilangan kepercayaan dari publik.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CODE OF CONDUCT

code of conduct 30032016

“Di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan.Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.”~Djajendra

Kode etik perilaku atau biasa yang disebut dengan code of conduct  adalah payung etika di tempat kerja. Code of conduct mengatur apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh setiap orang di tempat kerja. Tujuannya sederhana, yaitu agar sistem dan struktur bergerak dengan perilaku kerja yang etis dan tepat. Tanpa code of conduct akan terjadi kebingungan untuk memastikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang benar dan apa yang tidak benar, sehingga proses kerja berpotensi di dalam konflik dan ketidakpastian.

Pertempuran antara baik dan tidak baik selalu ada. Kehadiran code of conduct dimaksudkan untuk membangun kehidupan kerja yang etis dan saling bertanggung jawab atas perilakunya masing-masing. Ini juga dimaksudkan untuk membangun kehidupan yang melancarkan proses kerja dengan etos yang baik. Code of conduct secara tegas membela yang baik dan menguatkan yang baik agar selalu menang melawan yang tidak baik. Code of conduct membuat karyawan dan pimpinan  percaya bahwa dengan kekuatan etis, tanggung jawab dapat dipertanggung jawabkan secara terhormat.

Moral adalah bagian terpenting dari code of conduct. Secara alami setiap orang memiliki karunia moral untuk memiliki perilaku etis, dan mereka punya hati nurani untuk membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan memberikan code of conduct kepada setiap orang di tempat kerja, maka kehidupan kerja akan menghasilkan perilaku yang terhormat dan etis. Perilaku etis bekerja dan melayani untuk kejujuran, kebenaran, keadilan, kesetaraan, kebahagiaan, dan tanggung jawab.

Code of conduct harus diimbangi dengan internalisasi nilai-nilai inti (core values) perusahaan. Core values bertujuan membentuk fondasi etos kerja untuk mendukung tujuan dan strategi perusahaan. Sedangkan, code of conduct memberikan kekuatan untuk menangkis perilaku-perilaku tidak baik atau tidak etis. Bila core values dan code of conduct dapat dijalankan menjadi perilaku kerja setiap individu di tempat kerja, maka proses kerja akan bergerak tanpa resiko, dan hal ini menguntungkan semua pihak di tempat kerja.

Ketika code of conduct dan core values menjadi fondasi budaya organisasi, maka ini menjadi landasan untuk menjalankan kepatuhan organisasi. Tingkat kepatuhan dan ketaatan terhadap tata kelola dan etika akan menguat. Dalam hal ini, kepatuhan dan komitmen dapat berjalan harmonis, sehingga setiap individu dapat memberikan kinerja yang produktif dan yang terbaik. Kepatuhan berarti melakukan perintah organisasi dengan penuh tanggung jawab; komitmen berarti memenuhi janji dan melakukan yang dikatakan dengan benar. Jadi, di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan dan pimpinan. Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.

Code of conduct tidak hanya sebatas menjadi kepatuhan, tetapi juga menjadi komitmen yang bersumber dari kesadaran moralitas. Intinya, menjalankan code of conduct harus dari komitmen yang tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Kode perilaku merupakan dasar untuk menjadikan karyawan dan pimpinan sebagai aset berharga organisasi. Oleh karena itu, code of conduct tidak dibuat sebagai dokumen untuk memenuhi persyaratan good governance, tetapi harus menjadi investasi perusahaan untuk membangun sumber daya manusia yang berharga dan bernilai tinggi. Pada saat code of conduct betul-betul terimplementasi menjadi perilaku kerja, hal ini menunjukkan tingginya kualitas dan komitmen di tempat kerja untuk bekerja dengan cara-cara etis dalam mencapai kinerja terbaik.

Dalam dunia nyata di tempat kerja, perilaku negatif yang sulit berubah(hardcore) atau ekstrem adalah sebuah tantangan. Sesungguhnya, semua orang diberkahi dengan pikiran baik dan etis agar mereka mampu menghadapi tantangan dari perilaku negatif yang sulit berubah. Nyatanya, perilaku ekstrem yang melihat semua aturan etis sebagai sesuatu yang merugikan dirinya juga muncul di tempat kerja. Jadi, tidak semua orang bisa berhubungan dengan code of conduct, ada juga yang secara mental sulit beradaptasi dan cendrung menjadi energi perusak.

Code of conduct mengarahkan perilaku kerja menjadi terukur dan etis, sehingga resiko dapat dihindari. Dalam hal ini, orang-orang yang patuh pada code of conduct mampu menghindari masalah, serta mampu bekerja sesuai tujuan dan aturan yang ada.

Keberadaan code of conduct untuk menghasilkan perilaku etis, sehingga perilaku etis dapat secara otomatis mengubah yang tidak baik menjadi baik. Kondisi ini mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika dan kehormatan masing-masing. Setiap orang menjadi kuat di dalam integritas, dan berani menghadapi tanggung jawab dengan penuh semangat. Jadi, pemimpin dan karyawan mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika. Mereka menjadi kuat secara fisik dan mental, dan berani menghadapi ketakutan atas berbagai dilema etika yang membuat mereka berada pada posisi sulit. Perilaku etis bekerja dengan contoh yang baik, dan memiliki mentalitas di dalam kekuatan integritas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

SEBUAH KETIDAKJUJURAN AKAN MENCIPTAKAN KETIDAKJUJURAN BERIKUTNYA

NILAI INTEGRITAS 14032016

“Integritas adalah tentang menegakkan kebenaran dan kejujuran, bukan tentang keadilan ataupun rasa kasihan”.~Djajendra

Tanpa integritas kejujuran tidak mungkin ada; tanpa integritas ketidakjujuran demi ketidakjujuran akan merusak kehidupan. Memiliki integritas berarti mengetahui cara yang benar, tepat, etis, dan jujur dalam bersikap dan bertindak. Intinya, dengan integritas Anda dapat menjalankan pekerjaan dan kehidupan yang produktif untuk mencapai kinerja terbaik

Integritas merupakan sebuah nilai yang menjamin dan memastikan semua nilai-nilai yang lain dijalankan dengan niat baik dan pikiran positif. Jadi, apapun situasi dan realitas yang dihadapi, pikiran positif tetap memimpin dengan tingkat kejujuran yang sempurna dan benar. Oleh karena itu, tidak mungkin ketidakjujuran berani hadir dalam nilai integritas. Sebab, nilai integritas berfungsi untuk meniadakan semua yang tidak baik, dan mendatangkan semua yang baik.

Pribadi dengan integritas selalu berperilaku etis dan hanya mengatakan kebenaran walau kebenaran yang dia katakan itu merugikan dirinya sendiri. Dia berprinsip lebih baik jujur daripada membohongi orang lain. Bagi pribadi dengan integritas tidak ada kata kompromi pada situasi yang mengabaikan integritas. Dia tetap menjaga pikiran positifnya untuk jujur dan menjalankan apa yang benar. Apapun konsekuensi yang harus dihadapi demi sebuah kebenaran, dia tetap menjalankan kebenaran dengan sepenuh hati dan ikhlas pada hasil akhirnya.

Integritas merupakan sebuah nilai yang menciptakan perilaku untuk dipercaya.  Integritas adalah nilai yang membuat seseorang tetap jujur dan berani dalam setiap situasi dan kondisi. Ini adalah tentang karakter yang menjalankan moralitas secara sempurna. Ini adalah karakter yang tidak mau berkompromi dalam menjalankan kejujuran dan kebenaran. Integritas membuat seseorang konsisten dengan kejujurannya. Dia tidak akan membangun apapun di atas kebohongan dan kecurangan, dia hanya melakukan hal-hal benar dengan cara yang paling benar.

Seseorang yang berintegritas tidak akan mengobral janji, dia sangat berhati-hati memberikan janji, dan tidak mau memberikan janji yang tidak dapat dia penuhi. Komitmennya untuk menjadi orang yang benar dan jujur di semua bagian kehidupannya, adalah realitas tentang kebenaran dirinya. Dia hidup jujur dan benar di dalam realitas, dan selalu menjaga pikiran untuk tetap jujur dalam menghadapi realitas apapun.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

BENTURAN ANTARA ETIKA DAN ETIKET MENCIPTAKAN DILEMA

“Saat Anda tegas menegakkan etika, etiket sulit berfungsi.”~Djajendra

Memiliki kemampuan untuk menjaga etika dan etiket secara bersama-sama tidaklah mudah. Dalam realitas bisnis, etika selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sering sekali muncul dilema etika yang bersumber dari kepentingan. Ketika dilema etika muncul, maka persoalan juga bisa muncul di etiket.

Contoh, untuk memperlancar proses bisnis, A menjaga hubungan baik dengan B. B adalah orang yang berpengaruh dalam membuat keputusan kepada siapa proyek diberikan. B selalu memprioritaskan A untuk mengerjakan proyek-proyeknya. A merasa B sangat membantu dan banyak menolong. Rasa terima kasih dan sopan-santun A kepada B ditunjukkan dengan cara memberikan hadiah dan fasilitas. Dalam hal ini, A ingat bahwa dia harus memiliki etiket agar hubungannya dengan B baik selalu. A pun berusaha memaksimalkan kenyamanan pribadi B dan hubungan yang saling menghargai. Ya, memang, memiliki etiket berarti harus mampu berperilaku tahu diri, menyamankan hati orang yang membantu, serta merawat hubungan bisnis yang saling menghargai.

Etiket bersumber dari konsensus sosial dan budaya tentang perilaku dan penampilan yang sopan-santun. Etiket bisa berubah dari waktu ke waktu sesuai kemajuan peradaban. Etiket terlihat melalui kepantasan perilaku, sikap, dan penampilan. Etiket adalah tentang memaksimalkan kenyamanan pribadi dan hubungan sosial yang saling menghargai. Seseorang yang beretiket berarti memiliki keterampilan sosial dan keterampilan diri yang tahu diri dan sopan-santun. Etiket tidak hanya mengatur perilaku dan sikap mulai dari gaya pribadi, bahasa tubuh, cara berpakaian, perilaku di meja makan, cara menyapa, dan banyak lagi yang berkaitan dengan sopan-santun. Tetapi, etiket juga mengatur bagaimana cara berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu dan memperlancar kehidupan kita.

Jadi, A memikirkan tentang perasaan B yang sudah membantunya, sehingga hati nuraninya berkata bahwa sangatlah wajar bila dia memberikan sesuatu buat B. Benar memang bahwa etiket bukanlah tentang prinsip-prinsip moral, etiket adalah tentang prinsip-prinsip menjaga hubungan baik dengan tata krama yang tinggi. Etiket berarti menghormati, menghargai, dan selalu berbaik hati kepada orang lain. Apalagi bila orang yang membantu kita, maka haruslah tahu diri dan tahu terima kasih. Ini biasanya yang ada dipikiran dunia nyata kehidupan, dan sangat berbeda dengan dunia pikiran normatif.

Lain etiket, lain lagi etika. Etika sifatnya normatif dan dipaksakan menjadi terapan di dunia bisnis. Etika berisi tentang penilaian moral dan kriteria apa yang benar dan apa yang tidak benar. Etika diperusahaan dipandu dengan pedoman etika bisnis dan kode perilaku yang etis. Etika adalah alat untuk menjaga tata kelola perusahaan yang baik, yaitu: tata kelola bisnis yang mengedepankan isu-isu moral.

Dalam dunia nyata, etika menjadi beban etiket. Etika diatur secara normatif dan melihat segala sesuatu dari sisi benar dan salah. Tidak boleh ada banyak warna dalam etika. Hanya boleh hitam atau putih, benar atau salah. Etika tidak memiliki kemampuan untuk merespon situasi yang berubah dan berbeda dari sikap manusia. Sebagai contoh, dalam bisnis yang banyak saingan, terjadi kompetisi memperebutkan pelanggan. Biasanya, orang yang mengendalikan pelanggan sangat menentukan kepada siapa dia akan memberikan bisnis tersebut. Di sini, pihak yang paling pintar mengambil hati dan menyenangkan hati pengendali pelanggan berpotensi mendapatkan bisnis. Artinya, hubungan baik dan sopan-santun menjadi lebih penting daripada aturan-aturan moral yang diatur secara normatif dalam etika bisnis.

Dalam konsep hubungan baik, perilaku yang melayani dan menghormati selalu menjadi lebih bekerja daripada perilaku etis yang terikat pada norma-norma moralitas. Intinya, dunia bisnis adalah dunia etiket, dan etika tetap dijadikan sebagai hal-hal normatif yang sering sekali malas diterapkan menjadi perilaku.

Perlu konsensus sosial yang penuh integritas untuk membuat etika dan etiket hidup berdampingan dan saling mengisi. Bila etika dan etiket saling mengisi menjadi etos di tempat kerja. Maka, kebiasaan, karakter, perilaku, watak, adat, budaya, dan sikap akan menjadi kekuatan untuk praktik tata kelola perusahaan yang terbaik (good corporate governance).

Benturan antara etika dan etiket selalu menciptakan dilema, yang membuat hati ragu dan takut bertindak. Dunia bisnis bukanlah dunia moralitas. Dunia bisnis adalah dunia hubungan baik. Dunia bisnis adalah dunia yang harus pintar etiket agar mudah mendapatkan bisnis.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com