MEMPERHATIKAN SIFAT-SIFAT KARYAWAN YANG MEMBUAT BUDAYA PERUSAHAAN KUAT

“Sifat-sifat karyawan yang tidak diinginkan menciptakan budaya perusahaan yang tidak diinginkan. Jangan membiarkan budaya terjadi secara liar dari sifat-sifat yang tidak baik. Latihlah sifat-sifat karyawan yang mampu menguatkan budaya perusahaan yang diinginkan.”~Djajendra

Setiap karyawan harus membawa sifat-sifat yang dibutuhkan perusahaan untuk meraih kinerja terbaik. Sifat-sifat karyawan yang dibutuhkan perusahaan haruslah dirancang dan dikelola dengan baik oleh manajemen. Sifat-sifat karyawan yang dibutuhkan tersebut merupakan fondasi budaya yang diinginkan oleh perusahaan.

Manajemen yang kuat tidak akan membiarkan budaya terjadi oleh sifat-sifat karyawan yang tidak sesuai dengan strategi perusahaan. Sifat-sifat apa saja yang dibutuhkan untuk strategi pastilah dirancang dengan nilai-nilai yang diberikan narasi yang jelas, lalu dikelola secara sistematis untuk menjadi energi positif bagi budaya organisasi yang kuat.

Sifat-sifat karyawan yang membuat mereka terlibat secara total di setiap aspek bisnis dan aspek kerja, serta sifat-sifat karyawan yang menciptakan kebahagiaan dan keharmonisan di tempat kerja, adalah inti dari pembentukan budaya kerja yang kuat. Kegembiraan, kebahagiaan, ketenangan, keharmonisan, rasa syukur, kerja keras, antusiasme, tekun, rendah hati, optimisme, tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, disiplin, dan fokus, adalah nilai-nilai yang mampu meningkatkan sifat-sifat positif untuk produktivitas kerja yang tinggi.

Budaya perusahaan yang kuat bekerja melalui sifat-sifat karyawan yang sesuai dengan misi, visi, nilai-nilai, dan strategi perusahaan. Jadi, pertama, top manajemen perusahaan harus memilih dan memutuskan siapa-siapa saja yang cocok untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut. Cocok artinya karyawan-karyawan tersebut sudah memiliki sifat-sifat untuk menggerakan misi, visi, nilai-nilai, dan strategi perusahaan. Bila karyawan belum memiliki sifat-sifat untuk menciptakan kinerja hebat di perusahaan, maka sudah menjadi tugas manajemen untuk mendidik dan melatih semua karyawan secara berkelanjutan agar sifat-sifat yang diinginkan tersebut dapat diberikan oleh karyawan. Jelas, hal ini, harus diawali dengan pembentukan nilai-nilai perilaku kerja yang diinginkan dan juga sistem yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai perilaku kerja.

Ketika perusahaan ingin mempekerjakan orang, pertama, harus selalu dimulai dengan sifat-sifat yang cocok dengan budaya yang diinginkan. Budaya selalu dimulai dari visi pemilik dan strategi pemimpin. Dalam setiap perekrutan, bukan kepintaran yang harus dijadikan pertimbangan utama, tetapi sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan. Kepintaran dan kompetensi bisa dilatih dan ditingkatkan dengan mudah, tetapi melatih dan meningkatkan sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan tidaklah mudah. Diperlukan kesadaran dan komitmen individu di dalam integritas yang tinggi untuk bisa menciptakan sifat-sifat yang sesuai dengan budaya yang diinginkan.

Sifat-sifat positif karyawan menciptakan energi besar pertumbuhan pada budaya perusahaan yang kuat. Budaya yang kuat menciptakan tempat kerja yang manusiawi untuk mendorong karyawan berkarya dan berkinerja tinggi. Sifat-sifat positif juga menciptakan sistem kerja yang dipercaya bersama, sehingga semua orang dengan gembira mampu berbagi sistem yang baik untuk mencapai kinerja tertinggi.

Setiap merekrut karyawan baru, maka harus dijaga jangan sampai mereka menyalahkan budaya yang diinginkan, lalu membanggakan budaya dari tempat kerjanya yang lama. Oleh karena itu, orientasi budaya merupakan sesuatu yang sangat penting. Setiap karyawan baru wajib menentukan sikap yang tepat dan benar sesuai budaya kuat yang perusahaan inginkan. Jadi, setiap karyawan baru wajib hadir dengan sifat-sifat untuk menguatkan budaya perusahaan yang diinginkan.

Selama proses wawancara, budaya haruslah menjadi hal terpenting. Pastikan calon karyawan memiliki sifat-sifat untuk memperkuat budaya yang diinginkan. Jadi, walaupun seorang kandidat memiliki kecerdasan, pengalaman, dan kompetensi yang hebat. Tetapi, bila sifat-sifat dia tidak sesuai dengan budaya kuat yang diinginkan oleh perusahaan, maka lebih baik tidak direkrut. Terimalah kandidat yang sesuai dengan budaya perusahaan yang Anda inginkan, dan latih mereka untuk berkinerja hebat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Iklan

MENGUATKAN BUDAYA KERJA BERLANDASKAN CORE VALUES PERUSAHAAN

“Membangun nilai-nilai perusahaan menjadi budaya kerja membutuhkan niat, disiplin, energi positif, dan perilaku setiap hari sesuai nilai-nilai perusahaan.”~Djajendra

Nilai-nilai perusahaan atau biasa yang disebut dengan core values bertujuan untuk membentuk kebiasaan kerja yang baru. Sangat diyakini bahwa bila setiap orang di tempat kerja terbiasa bersikap dan bertindak berlandaskan core values, maka mereka telah turut serta membangun fondasi budaya perusahaan yang kuat. Memiliki budaya perusahaan yang kuat berarti telah menyiapkan strategi yang unggul untuk berkembang dengan kinerja terbaik. Kebiasaan kerja berlandaskan core values menciptakan kekuatan sumber daya manusia yang unggul dan yang siap memenangkan tujuan perusahaan.

Core values hanya bekerja saat karyawan terhubung secara emosional dan fisik dengan core values, lalu mampu memfokuskan perhatian pada setiap momen kerja dengan bantuan energi dari core values. Setiap keputusan dan pilihan di tempat kerja haruslah didapatkan dari energi core values. Core values harus benar-benar menjadi pengetahuan yang solid untuk melaksanakan proses kerja, termasuk dalam pencapaian hasil akhir. Intinya, core values adalah sebuah strategi yang menjadi kebutuhan dasar organisasi, untuk menjalankan operasional dan mendapatkan kinerja terbaik. Disiplin yang tinggi terhadap core values dapat mencegah godaan untuk bekerja di luar sistem dan nilai-nilai budaya yang kuat.

Core values harus sesering mungkin diinternalisasi dan dijadikan kebiasaan dalam perilaku kerja karyawan. Satu kali atau dua kali internalisasi tidak akan pernah cukup. Diperlukan program internalisasi yang terus-menerus di sepanjang waktu agar budaya kerja yang unggul betul-betul terintegrasi ke dalam kepribadian karyawan.

Peran manajemen perusahaan untuk menginternalisasi core values sangatlah penting. Dalam hal ini, core values harus didefinisikan dengan sangat jelas dan sederhana. Bahasa yang mudah dipahami dan kata-kata yang tidak terlalu panjang akan lebih mudah diserap. Menjelaskan core values harus menyentuh ke wilayah fisik dan wilayah rohani karyawan. Emosi dan pikiran harus terhubung ke wilayah rohani agar energi dari core values menyatu ke dalam kepribadian karyawan. Perusahaan harus mengartikulasikan core values dengan tepat agar benar-benar menjadi strategi yang dimengerti dan mampu dijalankan di wilayah eksekusi.

Core values harus betul-betul dijelaskan kepada setiap karyawan dengan bantuan berbagai alat dan cara. Perusahaan harus membuat deskripsi yang mudah dipahami oleh karyawan; perusahaan harus membuat gambar dan contoh dari etos kerja yang diinginkan berdasarkan core values; perusahaan harus membuat video pendek untuk menggambarkan perilaku yang diinginkan perusahaan dari core values tersebut; perusahaan harus membuat buku saku kecil buat setiap karyawan, untuk menjelaskan core values dalam bahasa tindakan yang sangat sederhana; perusahaan harus sesering mungkin mengundang motivator atau narasumber untuk menghidupkan core values ke dalam jiwa dan kepribadian karyawan; perusahaan harus memiliki program-program yang berkelanjutan, untuk membuat core values semakin mendalam pengaruhnya di dalam kekuatan kerja yang dimiliki perusahaan.

Organisasi yang terus-menerus belajar untuk menjadikan core values sebagai DNA organisasi. Artinya, core values menjadi energi genetika perusahaan yang dipergunakan untuk membentuk perusahaan yang kuat dan unggul. Dalam hal ini, manajemen perusahaan harus proaktif mendidik organisasi untuk menguasai core values secara sempurna. Ini semua adalah proses yang panjang, dan jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bila perusahaan dan sumber daya manusia tidak dididik terus-menerus, untuk menguasai core values sebagai perilaku kerja dan cara dalam pengambilan keputusan, maka core values hanya akan menjadi slogan tanpa bisa dijadikan budaya kerja. Jadi, tindakan yang serius dan terencana dari top manajemen, untuk mendidik karyawan dengan core values harus dilakukan dengan banyak cara. Cara-cara seperti: dialog, diskusi, role play, serta berbagai cara lainnya dapat dilakukan dengan disiplin tinggi  agar core values benar-benar terinternalisasi ke dalam jiwa dan kepribadian karyawan.

Core values harus dijadikan sebagai komponen terpenting dalam hal penilaian kinerja karyawan. Dalam hal ini, harus betul-betul dievaluasi apakah sikap dan perilaku karyawan sudah terbentuk dari core values. Jika sikap dan perilaku karyawan belum terbentuk dari core values, maka mereka belum menjadi bagian dari strategi perusahaan. Oleh karena itu, dalam setiap penilaian untuk promosi dan kenaikan gaji, syarat utamanya haruslah si karyawan sudah memiliki sikap dan perilaku sesuai core values. Mengabaikan core values berarti tidak serius untuk membentuk budaya organisasi yang kuat, dan cendrung akan melemahkan organisasi untuk mencapai kinerja dan prestasi terbaik.

Manusia itu dinamis dan suka tidak pasti. Pikiran manusia mudah terpengaruh oleh berbagai pendapat dan pengetahuan. Manusia itu tak terduga dan sangat kompleks persepsinya. Oleh karena itu, walaupun semua karyawan bersumber dari perbedaan dan keberagaman, tetapi semua orang harus disatukan ke dalam core values agar dapat menjadi kekuatan yang solid dalam menjalankan strategi perusahaan. Untuk itu, harus ada aturan yang tegas agar setiap orang dalam proses kerja betul-betul menjunjung tinggi core values. Setiap karyawan wajib menghormati core values dan hanya bertindak berdasarkan core values. Tidak boleh ada tindakan apapun di luar core values. Tidak seorang pun boleh mengubah nilai-nilai kerja sesuai maunya dia, semua orang harus patuh dan taat untuk menjalankan nilai-nilai perusahaan secara sungguh-sungguh, sesuai dengan deskripsi yang dibuat perusahaan.

Sifat core values adalah sebagai fondasi dan sekaligus sebagai tonggak budaya untuk melihat kekuatan budaya kerja. Apa pun situasi dan peristiwa yang dihadapi perusahaan, maka core values mampu menjadi kekuatan untuk melindungi perusahaan dan karyawan. Jadi, bila karyawan bersungguh-sungguh dan sepenuh hati bekerja berlandaskan core values, maka krisis dan kemerosotan bisnis tidak akan menjatuhkan perusahaan ke dalam kegagalan. Perusahaan tetap mampu memperkuat dirinya kembali dan mengatur langkah selanjutnya untuk mengatasi krisis yang dihadapi. Intinya, selama semua orang sangat disiplin menjalankan core values di perusahaan, maka bisnis akan selalu berkelanjutan walau berbagai kesulitan harus dilalui.

Core values harus hidup dan dihidupkan selalu agar mereka menjadi abadi dan konsisten di tempat kerja. Disiplin terhadap core values haruslah menjadi prioritas manajemen. Core values harus dihidupkan dalam realitas kerja, dihidupkan dalam praktek dan tindakan setiap hari. Penjelasan tentang core values dalam bahasa yang singkat dan mudah dimengerti haruslah didistribusikan kepada setiap karyawan dan pimpinan. Setiap orang harus memiliki makna tertulis dari core values perusahaan. Setiap orang harus diberi contoh tentang cara menggunakan core values dalam rutinitas kerja sehari-hari. Manajemen juga harus menyiapkan pemodelan perilaku secara visual atas core values agar core values dapat dipahami dan dijadikan landasan perilaku kerja.

Kemampuan perusahaan untuk membangun cerita melalui core values juga dapat menjadi cara yang efektif dalam proses internalisasi. Setiap nilai dari core values harus digambarkan melalui cerita yang heroik. Kisah-kisah karyawan yang mampu menjalankan setiap nilai dari core values dibuat film dan dijadikan cerita yang heroik. Hal ini juga akan menjadi motivasi dan pengaruh yang kuat untuk proses internalisasi core values. Kemampuan mendongengkan ataupun menceritakan kisah-kisah sukses karyawan bersama core values harus menjadi bagian yang penting dalam proses internalisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

MENGGUNAKAN CORE VALUES KETIKA BEKERJA

“Keberadaan core values membuat karyawan tidak melihat sisi yang berlawanan. Sebaliknya, mampu menjaga hati dan pikiran yang sesuai dengan core values.”~Djajendra

Ketika core values perusahaan tidak terinternalisasi dengan baik, maka wilayah kerja mudah ditarik ke dalam permainan politik kantor, dan semua perhatian akan tercurahkan dalam politik kantor. Orang-orang di lingkungan kerja akan melihat sisi yang saling berlawanan dengan argumen masing-masing yang membuat konflik tumbuh subur. Kehidupan sosial di tempat kerja akan ramai dengan gosip dan pikiran setiap orang juga menjadi tidak jernih karena terisi argumen-argumen yang tidak sesuai dengan realitas kerja. Dampaknya, pemberdayaan jiwa dan kesadaran karyawan tidak akan searah dengan nilai-nilai perusahaan. Jelas, hal ini akan merusak strategi perusahaan untuk menciptakan proses dan hasil akhir terbaik.

Core values merupakan tuntunan untuk berperilaku dan pengambilan keputusan di tempat kerja. Apa pun perbedaan yang ada di tempat kerja, core values berfungsi menyatukan perbedaan dan menciptakan perilaku kerja yang sama berdasarkan kekuatan nilai-nilai perusahaan. Manusia sendiri membutuhkan perhatian, kasih sayang, pengakuan, kepedulian, dan perlindungan. Jadi, tugas kepemimpinan adalah memenuhi kebutuhan manusia perusahaan dan sekaligus memenuhi strategi perusahaan melalui internalisasi core values ke dalam jati diri manusia perusahaan. Hal ini berarti, core values harus terus-menerus diinternalisasi sampai menjadi budaya dan perilaku sehari-hari di alam bawah sadar.

Internalisasi core values haruslah memilih langkah untuk membangkitkan kesadaran tertinggi karyawan dalam menghadapi semua situasi yang menantang. Karyawan harus bangkit kesadarannya untuk melakukan perubahan di dalam diri. Karyawan harus dibukakan pikirannya untuk dapat melihat semua sisi yang berlawanan secara positif. Kesadaran tertinggi karyawan harus dibangkitkan agar tidak melawan antara satu sama lain hanya karena perbedaan persepsi, perbedaan keyakinan, atau pun menentukan benar dan salah sesuai pola pikir masing-masing. Kesadaran karyawan diperlukan agar masing-masing orang bisa menjaga hati dengan pikiran yang terbuka untuk menerima realitas di tempat kerja. Bila masing-masing orang ngotot dengan pola pikirnya tanpa fondasi core values perusahaan, maka keterpurukanlah yang akan terjadi di tempat kerja. Intinya, core values perusahaan adalah energi yang membawa setiap individu di tempat kerja, untuk fokus dalam core values dan bersama sebagai satu kekuatan kerja yang solid dan unggul.

Core values berfungsi sebagai pengikat dan penyatu energi kerja menjadi jauh lebih kuat dan lebih unggul untuk menghadapi perbedaan dan kekacauan. Core values adalah pilihan melalui kesadaran diri, bukan paksaan. Kalau dipaksakan mungkin saja bisa, tetapi bersifat sementara. Core values harus diterapkan sejak rekrutmen. Bila saat wawancara dan test masuk mindset calon karyawan tidak nyambung dengan core values perusahaan, maka lebih baik tidak merekrut calon karyawan tersebut. Carilah calon karyawan yang nantinya mudah menerima internalisasi core values perusahaan, hindari calon karyawan yang sulit menerima internalisasi core values perusahaan.

Di dalam diri setiap orang ada nilai-nilai baik dan nilai-nilai buruk yang hidup berdampingan. Ini adalah fakta. Sebaik apapun diri kita, nilai-nilai baik dan nilai-nilai buruk tetap menghuni pikiran kita. Bila kita tidak berhari-hati, maka nilai-nilai baik bisa dipengaruhi dan dilemahkan oleh nilai-nilai buruk. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dan energi perhatian yang tinggi untuk mendukung diri sendiri agar bisa fokus pada nilai-nilai positif. Dalam hal ini, nilai-nilai positif tersebut di dalam wujud core values perusahaan. Kemampuan karyawan untuk memberikan perhatian penuh terhadap makna dari core values perusahaan, serta kemampuan untuk menjadikannya sebagai perilaku kerja dan alat pengambilan keputusan di tempat kerja, akan memberikan kekuatan yang hebat untuk mencapai masa depan dan menyelesaikan proses kerja dengan profesional.

Kita semua tahu bahwa core values adalah bagian dari strategi manajemen dalam membentuk keyakinan di tempat kerja, untuk menghasilkan proses kerja terbaik dan hasil akhir terbaik. Intinya, core values ini seperti sebuah keyakinan yang dipercayai mampu membentuk kekuatan sumber daya manusia yang unggul, untuk mencapai masa depan dan menyelesaikan proses bisnis dengan sempurna. Dengan demikian, core values selalu melekat dalam proses bisnis, ia mampu menyatukan orang-orang yang mengelola bisnis dan membentuk budaya yang mengantar manusia perusahaan untuk mencapai prestasi.

Core values adalah alat untuk pembentukan tim kerja yang hebat. Di mana, core values menyatukan pikiran dan perasaan setiap individu karyawan, untuk mengelola bisnis dan membentuk budaya kerja sama yang andal. Core values harus hidup di dalam diri setiap orang. Core values harus menjadi kebiasaan kerja yang dihasilkan dari alam bawah sadar setiap orang. Oleh karena itu, core values harus dilatih terus-menerus, ditanam ke dalam perilaku hingga mampu terlihat dalam setiap tindakan dan etos kerja karyawan.

Core values merupakan standar yang dipakai untuk membedakan cara terbaik dengan sesuatu yang kurang baik. Jadi, dalam operasional sehari-hari di tempat kerja, cara kerja terbaik adalah dengan memaknai core values secara benar dan menjadikannya perilaku di setiap proses kerja hingga pencapaian hasil akhir.

Setiap individu harus menanam sendiri core values ke dalam jati dirinya; meyakininya sebagai nilai-nilai terbaik untuk menghasilkan kinerja; dan membentuknya ke dalam sistem untuk dapat dijalankan secara operasional dalam rutinitas kerja. Komitmen dan niat suci dari setiap individu untuk menjadikan core values sebagai kekuatan bersama adalah penting.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CORE VALUES PERUSAHAAN MENYATUKAN MANUSIA PERUSAHAAN DAN SEBAGAI DASAR UNTUK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

motivasi-14022017

CORE VALUES PERUSAHAAN MENYATUKAN MANUSIA PERUSAHAAN DAN SEBAGAI DASAR UNTUK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

“Core values perusahaan menciptakan budaya perusahaan yang kuat, dan budaya perusahaan yang kuat menciptakan tindakan yang fokus untuk mencapai kinerja terbaik.”~Djajendra

Perusahaan bernyawa dan hidup karena manusia. Tanpa manusia, perusahaan tidak ada. Manusia perusahaan mungkin bersumber dari berbagai macam latar belakang yang berbeda. Semua orang datang ke perusahaan dengan membawa berbagai nilai-nilai yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang persis sama. Pola pikir yang berbeda, emosi yang berbeda, cara pandang yang berbeda, dan yang pastinya nilai-nilai kehidupan yang berbeda. Karena manusia perusahaan berbeda-beda, maka perusahaan harus menyatukan semua perbedaan tersebut di dalam sebuah budaya, yang secara sengaja dan khusus dibentuk untuk kepentingan pencapaian visi dan kinerja perusahaan.

Nilai-nilai inti perusahaan (corporate core values) adalah energi untuk menciptakan kepribadian dan perilaku kerja yang sesuai dengan misi dan visi perusahaan. Core values perusahaan menyatukan latar belakang manusia perusahaan yang berbeda-beda itu ke dalam satu budaya perusahaan yang sama. Bila semua manusia perusahaan sudah terintegrasi ke dalam satu budaya yang kuat berfondasikan dari setiap nilai-nilai inti perusahaan,  maka manusia perusahaan menjadi sumber kekuatan dan modal yang hebat, untuk mendorong terciptanya kinerja melalui inovasi dan kreatifitas.

Ketika core values berhasil diinternalisasi ke dalam jiwa, emosi, pikiran, dan perilaku kerja manusia perusahaan. Maka, proses kerja akan berlangsung dengan efektif dan produktif. Tidak ada lagi konflik dan keraguan di dalam proses kerja. Komunikasi dan kolaborasi akan berlangsung dengan sangat efektif dan tepat sasaran. Setiap orang mampu bekerja sama dan menunjukkan etos terbaik untuk mencapai kinerja. Semua orang bisa bersatupadu dalam satu visi dan satu persepsi untuk membuat keputusan dan tindakan yang tepat. Semua ini bisa terjadi karena nilai-nilai inti (core values) yang sudah tertanam di dalam pola pikir setiap manusia perusahaan, menjadikan mereka satu persepsi dan satu visi, dan sudah tidak ada ruang untuk konflik, sebab core values sudah menyatukan mereka menjadi satu kekuatan yang solid.

Core values merupakan jati diri perusahaan. Core values mendefinisikan tentang kepribadian perusahaan, yang mana ditampilkan melalui perilaku dan keterampilan kerja dari sumber daya manusianya. Core values inilah yang mengisi jiwa dan kepribadian pimpinan dan karyawan, sehingga mereka menjadi energi inti untuk menggerakan budaya perusahaan. Core values merupakan nilai-nilai fundamental, fondasi budaya, nilai-nilai abadi, nilai-nilai yang menciptakan karakter kerja, dan nilai-nilai yang wajib ditindaklanjuti di dalam semua aspek perilaku organisasi.

Core values harus dapat diimplementasikan di level eksekusi di semua tingkatan kerja. Kepemimpinan yang berbudaya dan profesional pasti bersikap dan bertindak melalui core values. Kepemimpinan sebagai sumber kekuasaan perusahaan wajib menjadi teladan di dalam implementasi nilai-nilai inti perusahaan (corporate core values). Bila pemimpin dengan jujur mampu menjalankan kepemimpinannya berdasarkan core values perusahaan. Maka, semua keputusan menjadi mudah diputuskan dan dijalankan, semua bakat dan potensi hebat menjadi mudah untuk dimanfaatkan bagi kemajuan perusahaan, semua potensi konflik dapat dihilangkan, serta proses kerja dapat dijalankan dengan efektif dan produktif.

Core values yang berhasil diintegrasikan ke dalam perilaku kerja, struktur, dan sistem perusahaan; menciptakan iklim kerja yang sesuai dengan misi dan visi perusahaan. Dalam hal ini, core values berfungsi untuk menggerakan manusia perusahaan dalam mencapai kinerja terbaik. Sepanjang proses kerja, core values berfungsi sebagai energi dalam menciptakan budaya perusahaan yang kuat dan solid. Intinya, core values sangat penting di dalam proses kerja untuk dapat mencapai kinerja terbaik. Bila karyawan dan pimpinan mengabaikan core values di dalam proses kerja, maka perusahaan sulit mendapatkan kinerja terbaik secara konsisten dan berkelanjutan.

Core values perusahaan haruslah ditentukan dengan cerdas untuk tujuan menggerakan manusia perusahaan agar mereka mudah mencapai visi dengan kinerja yang hebat. Jadi, dalam hal ini, perusahaan wajib mengidentifikasi realitas sumber daya manusia yang dimiliki, lalu mengkaji nilai-nilai inti yang paling tepat dan sesuai untuk dapat menggerakan sumber daya manusia bagi pencapaian misi, tujuan, target, visi, dan kinerja terbaik.

Setiap perilaku, tindakan, dan keputusan manajemen harus terorganisir di sekitar core values. Ini penting, agar tidak ada konflik di dalam kedinamisan bisnis perusahaan. Tindakan dan perilaku yang tidak konsisten dengan core values menyebabkan keraguan dan konflik. Oleh karena itu, manajemen yang profesional tidak akan mau berspekulasi dengan core values nya. Apa pun situasi dan peristiwanya, manajemen yang baik tetap bersikap berdasarkan core values perusahaan.

Internalisasi core values harus dilakukan sesering mungkin, tidak cukup kalau hanya dilakukan sekali. Secara rutin, perusahaan harus membuat program-program dengan tujuan penguatan budaya kerja dan peningkatan kualitas internalisasi core values. Hal ini dibutuhkan, agar manusia perusahaan bisa memiliki pemahaman yang sangat mendalam atas core values, sehingga mereka bisa menjadi energi positif dalam pembentukan budaya perusahaan yang kuat dan yang diinginkan.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CORE COMPETENCE UNTUK MENINGKATKAN KEUNGGULAN BISNIS ANDA

motivasi-30092016

“Kompetensi inti adalah keunikan dan keunggulan yang sulit ditiru oleh pihak lain. Ini adalah tentang energi yang terpancar melalui pengetahuan, cara, gaya, dan kemampuan yang meninggikan kualitas seseorang.”~Djajendra

Kompetensi inti (Core Competence) adalah kemampuan menguasai sebuah pekerjaan secara total berdasarkan nilai-nilai pribadi ataupun nilai-nilai perusahaan, baik secara spiritual maupun ritual. Artinya, Anda dengan kompetensi inti mampu menentukan proses kerja terbaik, menentukan arah yang benar, membuat keputusan yang tepat, dan bertindak mewujudkan pekerjaan tersebut dengan kemampuan total berdasarkan nilai-nilai yang sudah menyatu secara holistik ke dalam diri Anda. Dalam hal ini; hati, pikiran, jiwa, dan tubuh menyatu dalam integritas dan akuntabilitas, untuk mewujudkan hasil akhir terbaik dari pekerjaan yang Anda kuasai dengan sepenuh hati.

Dalam perusahaan, selalu ada core values yang dimaksudkan untuk membentuk core competence. Core competence karyawan yang bersumber dari core values terlihat melalui etos kerja dan keterampilan kerja karyawan. Internalisasi core values perusahaan menjadi core competence karyawan bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan latihan, pencerahan, dan sistem yang membiasakan karyawan untuk memiliki core competence dari core values perusahaan. Biasanya, untuk membuat karyawan memiliki core competence dari core values perusahaan membutuhkan waktu, kesabaran, disiplin, ketekunan, dan moralitas yang tinggi.

Core competence atau kompetensi inti dihasilkan dari pembelajaran dan pengalaman yang lama, dan kompetensi inti ini sudah berwujud di dalam intuisi. Jadi, core competence seolah menjadi gaya atau cara Anda dalam menjalankan usaha atau pekerjaan, yang unik dan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh siapapun.

Core competence membedakan antara satu usaha dengan usaha yang lain. Misalnya, Anda mengunjungi beberapa bank, lalu Anda merasakan perbedaan pelayanan dari satu bank dengan bank yang lainnya. Padahal, semua bank tersebut sudah memiliki standar operasional yang sama, dan rasa beda yang Anda rasakan itulah bersumber dari core competence. Jadi, core competence ini adalah nilai-nilai yang membentuk rahasia dari kesuksesan sebuah usaha. Nilai-nilai dalam core competence tidak lagi berdiri sendiri, tetapi melebur dan menyatu dalam satu energi yang sifatnya holistik, sehingga tidak semua orang bisa mengkloning atau mengcopynya untuk diterapkan pada usaha lain.

Contoh lain: di sebuah lokasi ada lima rumah makan yang sama menu makanannya, Anda dan banyak orang paling suka dan merasa paling cocok dengan salah satunya. Rasa paling cocok yang Anda dan orang-orang rasakan tersebut bersumber dari core competence rumah makan tersebut. Intinya, core competence menghasilkan rahasia dapur, sehingga tidak mudah dikloning oleh orang lain. Hal ini menciptakan keunggulan dalam kompetisi bisnis. Jadi, para pesaing tidak mudah mengalahkan usaha yang terbentuk dari core competence. Usaha yang dijalankan dengan core competence selalu unggul untuk meningkatkan keberhasilan bisnisnya.

Core competence tidak bisa dimiliki secara instan, dia hanya dapat dimiliki setelah Anda melewati berbagai jenis proses dan pengalaman, lalu menemukan makna suci dari pekerjaan yang Anda lakukan. Termasuk, Anda memiliki semangat yang tinggi dan cinta yang mendalam terhadap pekerjaan atau bisnis yang Anda kerjakan.

Mengembangkan core competence memerlukan kerja sangat keras, kemampuan untuk menggunakan nilai-nilai secara konsisten dalam menemukan solusi terbaik, dan terus-menerus menekuni dan mengembangkan pekerjaan atau bisnis secara berkelanjutan.

Sebuah bisnis atau pekerjaan yang dilandasi oleh core competence selalu menawarkan sesuatu yang unik dan unggul. Pelanggan selalu bersedia membelih dan membayar lebih untuk sesuatu yang unik dan unggul. Jadi, perusahaan yang mengembangkan sumber daya manusianya dengan core competence sesuai strategi perusahaan akan melakukan hal-hal yang kreatif, unik, dan mampu mempengaruhi pelanggan untuk membeli lebih banyak.

Core competence sangat dibutuhkan untuk membangun keunggulan kompetitif berkelanjutan. Karyawan-karyawan dengan core competence selalu memiliki keahlian untuk memenangkan kompetisi bisnis. Ini seperti memiliki tim bermental pemenang yang selalu kreatif untuk memenangkan target bisnis. Di samping itu, mampu mengembangkan keterampilan yang dimiliki menjadi lebih berkualitas dan lebih siap memenangkan kompetisi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

CODE OF CONDUCT

code of conduct 30032016

“Di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan.Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.”~Djajendra

Kode etik perilaku atau biasa yang disebut dengan code of conduct  adalah payung etika di tempat kerja. Code of conduct mengatur apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh setiap orang di tempat kerja. Tujuannya sederhana, yaitu agar sistem dan struktur bergerak dengan perilaku kerja yang etis dan tepat. Tanpa code of conduct akan terjadi kebingungan untuk memastikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang benar dan apa yang tidak benar, sehingga proses kerja berpotensi di dalam konflik dan ketidakpastian.

Pertempuran antara baik dan tidak baik selalu ada. Kehadiran code of conduct dimaksudkan untuk membangun kehidupan kerja yang etis dan saling bertanggung jawab atas perilakunya masing-masing. Ini juga dimaksudkan untuk membangun kehidupan yang melancarkan proses kerja dengan etos yang baik. Code of conduct secara tegas membela yang baik dan menguatkan yang baik agar selalu menang melawan yang tidak baik. Code of conduct membuat karyawan dan pimpinan  percaya bahwa dengan kekuatan etis, tanggung jawab dapat dipertanggung jawabkan secara terhormat.

Moral adalah bagian terpenting dari code of conduct. Secara alami setiap orang memiliki karunia moral untuk memiliki perilaku etis, dan mereka punya hati nurani untuk membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dengan memberikan code of conduct kepada setiap orang di tempat kerja, maka kehidupan kerja akan menghasilkan perilaku yang terhormat dan etis. Perilaku etis bekerja dan melayani untuk kejujuran, kebenaran, keadilan, kesetaraan, kebahagiaan, dan tanggung jawab.

Code of conduct harus diimbangi dengan internalisasi nilai-nilai inti (core values) perusahaan. Core values bertujuan membentuk fondasi etos kerja untuk mendukung tujuan dan strategi perusahaan. Sedangkan, code of conduct memberikan kekuatan untuk menangkis perilaku-perilaku tidak baik atau tidak etis. Bila core values dan code of conduct dapat dijalankan menjadi perilaku kerja setiap individu di tempat kerja, maka proses kerja akan bergerak tanpa resiko, dan hal ini menguntungkan semua pihak di tempat kerja.

Ketika code of conduct dan core values menjadi fondasi budaya organisasi, maka ini menjadi landasan untuk menjalankan kepatuhan organisasi. Tingkat kepatuhan dan ketaatan terhadap tata kelola dan etika akan menguat. Dalam hal ini, kepatuhan dan komitmen dapat berjalan harmonis, sehingga setiap individu dapat memberikan kinerja yang produktif dan yang terbaik. Kepatuhan berarti melakukan perintah organisasi dengan penuh tanggung jawab; komitmen berarti memenuhi janji dan melakukan yang dikatakan dengan benar. Jadi, di tempat kerja, ada dua hal yang harus dihormati oleh setiap karyawan dan pimpinan. Pertama: kepatuhan, dan yang kedua: komitmen. Kepatuhan berarti tunduk pada sistem, prosedur, kebijakan, aturan, dan struktur organisasi. Komitmen berarti melakukan janji dan menepati semua ucapan dengan integritas yang tinggi.

Code of conduct tidak hanya sebatas menjadi kepatuhan, tetapi juga menjadi komitmen yang bersumber dari kesadaran moralitas. Intinya, menjalankan code of conduct harus dari komitmen yang tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Kode perilaku merupakan dasar untuk menjadikan karyawan dan pimpinan sebagai aset berharga organisasi. Oleh karena itu, code of conduct tidak dibuat sebagai dokumen untuk memenuhi persyaratan good governance, tetapi harus menjadi investasi perusahaan untuk membangun sumber daya manusia yang berharga dan bernilai tinggi. Pada saat code of conduct betul-betul terimplementasi menjadi perilaku kerja, hal ini menunjukkan tingginya kualitas dan komitmen di tempat kerja untuk bekerja dengan cara-cara etis dalam mencapai kinerja terbaik.

Dalam dunia nyata di tempat kerja, perilaku negatif yang sulit berubah(hardcore) atau ekstrem adalah sebuah tantangan. Sesungguhnya, semua orang diberkahi dengan pikiran baik dan etis agar mereka mampu menghadapi tantangan dari perilaku negatif yang sulit berubah. Nyatanya, perilaku ekstrem yang melihat semua aturan etis sebagai sesuatu yang merugikan dirinya juga muncul di tempat kerja. Jadi, tidak semua orang bisa berhubungan dengan code of conduct, ada juga yang secara mental sulit beradaptasi dan cendrung menjadi energi perusak.

Code of conduct mengarahkan perilaku kerja menjadi terukur dan etis, sehingga resiko dapat dihindari. Dalam hal ini, orang-orang yang patuh pada code of conduct mampu menghindari masalah, serta mampu bekerja sesuai tujuan dan aturan yang ada.

Keberadaan code of conduct untuk menghasilkan perilaku etis, sehingga perilaku etis dapat secara otomatis mengubah yang tidak baik menjadi baik. Kondisi ini mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika dan kehormatan masing-masing. Setiap orang menjadi kuat di dalam integritas, dan berani menghadapi tanggung jawab dengan penuh semangat. Jadi, pemimpin dan karyawan mengubah kehidupan kerja melalui hubungan antar pribadi yang saling menjaga etika. Mereka menjadi kuat secara fisik dan mental, dan berani menghadapi ketakutan atas berbagai dilema etika yang membuat mereka berada pada posisi sulit. Perilaku etis bekerja dengan contoh yang baik, dan memiliki mentalitas di dalam kekuatan integritas.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

NILAI-NILAI BUDAYA KERJA TIDAK HANYA DITULISKAN, TETAPI HARUS DIHIDUPKAN MENJADI PERILAKU

MOTIVASI BUDAYA KERJA 05032016

“Bila nilai-nilai budaya kerja tidak menjadi mindset ataupun perilaku sehari-hari, maka mereka hanya akan menjadi kata-kata kosong yang tidak bermakna dalam proses kerja.”~Djajendra

Walaupun keberadaan Enron telah berakhir, tetapi Enron meninggalkan sejarah pengetahuan yang sangat penting tentang implementasi dan internalisasi nilai-nilai inti perusahaan. Core values Enron terdiri dari Integrity, Communication, Respect, dan Excellence. Semua nilai-nilai Enron ini dipajang dan sangat dibanggakan. Tetapi, ketika Enron jatuh bangrut karena skandal rekayasa keuangan dan kebohongan terhadap semua pemangku kepentingan, maka pertanyaan muncul tentang makna dari core values Enron. Jelas, dari skandal yang terjadi, kita dapat melihat bahwa nilai-nilai inti Enron tidak membentuk perilaku kerja sehari-hari. Nilai-nilai inti tersebut hanya menjadi pajangan dan penghias budaya organisasi.

Dari peristiwa Enron, kita belajar bahwa dalam praktik ada nilai-nilai lain yang lebih dominan daripada nilai-nilai inti yang dipajang tersebut. Budaya nyata Enron bertentangan dengan budaya yang mereka nyantumkan atau sampaikan kepada publik. Jadi, semua nilai-nilai inti Enron menjadi kata-kata kosong tanpa makna dalam proses kerja mereka.

Sesungguhnya, bukan hanya Enron yang berperilaku dengan budaya ganda.Sangat banyak perusahaan dan organisasi yang lain juga demikian, hanya saja tidak terekspos dan tidak digali secara mendalam seperti orang menggali tentang Enron. Dari pembelajaran penulis, sangat banyak juga perusahaan-perusahaan yang berperilaku lebih buruk dari Enron, tetapi tidak tergali dan terekspos ke ruang publik.

Pelajaran terbesar dari peristiwa kejatuhan Enron adalah bahwa ketika nilai-nilai inti perusahaan dikalahkan oleh budaya kepentingan sesaat yang mengabaikan integritas, maka terciptalah perilaku yang tidak etis. Peristiwa kejatuhan Enron membuat para stakeholders penting menjadi korban dan mereka sangat terluka. Peristiwa Enron merupakan kegagalan moralitas kerja, artinya kegagalan dalam mengimplementasikan dan menginternalisasikan nilai integritas.

Nilai-nilai budaya kerja merupakan pendorong utama dalam pembentukan perilaku kerja karyawan dan pimpinan. Juga, merupakan cara untuk membentuk budaya organisasi yang kuat dari sisi perilaku dan kebiasaan kerja. Jadi, sangatlah penting memiliki keseriusan dan niat baik untuk menjadikan nilai-nilai inti perusahaan sebagai perilaku yang dominan di tempat kerja. Bila tidak ada upaya yang keras untuk mentransformasikan nilai-nilai budaya kerja menjadi budaya organisasi dan perilaku kerja yang dominan, maka nilai-nilai lain di luar nilai-nilai inti organisasi akan mendominasi kehidupan budaya kerja Anda.

Setiap nilai memiliki tujuan, terlepas dari apakah bertujuan baik ataupun tidak baik. Disinilah harus ditimbulkan kesadaran untuk selalu mengevaluasi fakta-fakta di lapangan, dan juga kejadian-kejadian dalam proses kerja yang bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Budaya kerja terlihat melalui peristiwa sehari-hari di tempat kerja. Bila pimpinan dan karyawan selalu berbuat salah. Itu artinya, ada yang tidak beres dengan budaya kerja, dan harus segera diambil tindakan untuk membereskannya. Membereskan berarti bukan sekedar memecat atau mengganti orang yang berbuat salah, tetapi mengevaluasi kembali atas budaya kerja. Melihat kembali budaya apa yang dominan, nilai-nilai apa yang membuat budaya dominan itu eksis dan kuat. Bila nilai-nilai yang tidak dikehendaki menguasai budaya organisasi, maka nilai-nilai tersebutlah yang harus dihilangkan dari perilaku kerja sehari-hari.

Tidak pernah ada sebuah perusahaan yang sempurna budayanya. Manusia selalu bisa membawa sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai inti perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya dan pembelajaran yang terus-menerus agar budaya perusahaan yang diinginkan dapat dijaga dan dirawat dengan baik. Harus selalu diberikan pencerahan dan motivasi kepada karyawan dan pimpinan agar mereka menghargai dan menghormati nilai-nilai inti perusahaan. Dan juga, agar mereka menjadi energi positif untuk mewujudkan lingkungan kerja yang berbudaya positif dan kuat.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com