BAIK DAN BURUK ADA DI DALAM DIRI KITA, JANGAN MENCARINYA DI DALAM DIRI ORANG LAIN

“Hidup kita seperti mengalami proses berlian dari sebongkah batubara yang diasah terus-menerus sampai berlian itu bersinar.”~Djajendra

Baik dan buruk menempati diri kita. Mereka berdua berbagi ruang kehidupan di dalam diri kita. Dan, hidup adalah pilihan pribadi. Setiap orang bisa melakukan apapun yang mereka mau. Setiap orang bisa memberikan kebaikan dan keburukan bagi kehidupan. Ketika kita meminta dan bekerja keras melalui kekuatan buruk, maka kita akan menerima hasil yang dihasilkan oleh kekuatan buruk kita. Ketika kita mengetuk pintu kebaikan di dalam diri kita sendiri, maka pintu kebaikan akan membukakan jalan bagi hidup terbaik bagi kita. Hidup adalah pilihan. Kita bisa mencapai sukses melalui kekuatan baik, ataupun kita bisa mencapai sukses melalui kekuatan buruk.

Ketika baik menjadi dominan di dalam diri kita, maka kita mampu menjalani kehidupan yang penuh sukacita. Sebaliknya, bila buruk yang menjadi dominan di dalam diri kita, maka kita akan dikuasai emosi dan nafsu yang rendah, sehingga penderitaan dan kekurangan yang akan kita rasakan setiap saat.

Baik dan buruk menempati diri kita, bertujuan untuk menguji kemampuan kita dalam menemukan sumber kebahagiaan hidup dari dalam diri kita masing-masing. Jadi, dalam hal ini, kita dituntut untuk menemukan sumber kebaikan dari dalam diri kita sendiri. Intinya, hidup kita ini seperti mengalami proses berlian dari sebongkah batu bara menjadi berlian. Bila kita tidak mengasah batu bara itu terus menerus, maka kita tidak akan menemukan berlian. Demikian juga, bila kita tidak mengasah kekuatan baik di dalam diri kita terus-menerus, maka kita tidak akan pernah menemukan sumber kebahagiaan dari dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus sadar untuk menyinari diri kita dengan cahaya yang terang agar diri kita tidak terjebak di dalam kegelapan. Bila kita terjebak di dalam kegelapan, maka setiap hari hidup akan kita lalui dengan perasaan tidak ikhlas dan tidak puas. Jelas, hal ini menjadikan hidup kita tidak pernah bahagia. Dan, kitapun pasti mengira bahwa bahagia itu hanyalah sebuah teori yang tidak mampu dimiliki manusia. Padahal bahagia itu hak setiap orang yang sudah diberikan Tuhan di dalam diri kita masing-masing.

Bila kita tidak melatih pikiran positif setiap hari dan terus-menerus, maka pikiran negatif kita akan keluar setiap hari untuk menyakiti diri kita sendiri. Pikiran menciptakan tindakan yang memiliki dampak langsung terhadap suasana hati dan pencapaian. Ketika setiap hari kita memproduksi pikiran negatif, maka kita hanya akan menemukan dunia dan kehidupan yang gelap dan tak menyenangkan hidup kita. Sebaliknya, bila setiap hari kita memproduksi pikiran positif, maka kita menemukan dunia dan kehidupan yang indah dan membahagiakan jiwa kita. Jadi, hidup ini hanyalah sebuah pilihan yang harus kita pilih, lalu menerimanya dengan ikhlas untuk kebahagiaan kita.

Kesadaran dan penerimaan atas baik dan buruk di dalam diri sangat diperlukan. Ketika kita mengakui bahwa di dalam diri kita ada baik dan buruk, lalu menerimanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, maka kita bisa menciptakan kehidupan yang kita inginkan. Kita yang menerima realitas baik dan buruk yang ada di dalam diri kita, tidak akan mudah menyalahkan orang lain ataupun menghindari tanggung jawab. Kita selalu mampu tampil dengan bijak dan positif, untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul dari energi kegelapan diri kita sendiri.

Berhati-hatilah dengan apa yang kita inginkan. Bila keinginan kita itu bersumber dari kekuatan buruk kita, maka kita akan memetik hasil yang menjauhkan kita dari kehidupan Bahagia. Oleh karena itu, mulailah segala sesuatu dengan niat baik dan tidak menyerah pada ego yang begitu menginginkan sesuatu, sehingga kita dipaksa untuk mengabaikan kebaikan.

Ego sangat diperlukan untuk menjaga harga diri dan kepercayaan diri kita. Tetapi, ego tidak boleh dibiarkan untuk dikuasai oleh kekuatan tidak baik di dalam diri, ego harus dilatih dan dibiasakan agar dia menyatu dengan kekuatan baik di dalam diri. Bila ego sudah terlatih dan terbiasa dengan kekuatan baik, maka ego menjadi kekuatan yang tidak mengenal kesulitan ataupun menyerah pada situasi yang tidak diinginkan. Saat diri yang baik terdesak, ego bisa tampil untuk menyelamatkan diri yang baik tersebut dengan kekuatan yang tidak mengenal menyerah. Jadi, di sinilah peran ego diperlukan. Tanpa ego yang kuat di dalam kebaikan, kita menjadi pribadi yang pasrah dan pasif.

Dua aspek di dalam diri kita masing-masing, aspek positif dan aspek negatif sifatnya abadi. Kita tidak bisa menghapus atau menghilangkan salah satu aspek. Keduanya selalu hidup berdampingan dan memberikan pengalaman kepada hidup kita. Jadi, siapapun kita, kita semua pasti akan merasakan pengalaman yang kita suka ataupun yang tidak kita suka. Tetapi, kita diberikan akal dan kesadaran sama Tuhan, sehingga akal dan kesadaran tersebut dapat kita gunakan untuk membantu perjalanan hidup kita dengan pengalaman-pengalaman yang indah dan menyenangkan.

Ketika kekuatan buruk menguasai diri kita, maka kita menjadi sumber penciptaan kerusakan hidup. Kekuatan buruk dari dalam diri kita akan menjadi kekuatan yang menghancurkan kedamaian, keamanan, keindahan, dan kebahagiaan hidup. Di sinilah diperlukan pengendalian diri yang terus-menerus agar energi buruk tidak mengalahkan energi baik. Bila di dalam diri kita, energi buruk mengalahkan energi baik, maka kita secara otomatis akan memproduksi hal-hal yang merusak kedamaian diri sendiri dan kedamaian kehidupan sosial. Oleh karena itu, sangatlah penting memiliki kesadaran untuk menjauhkan diri dari energi buruk, dan senantiasa berlatih dengan disiplin yang tinggi, untuk membuat diri selalu berada dan menguat di dalam energi kebaikan.

Ketika kekuatan baik menguasai pikiran dan jiwa kita, maka semua tindakan kita terpusat untuk menciptakan kehidupan yang indah dan damai. Kitapun tidak akan memaksa kehendak kita pada situasi apapun. kita selalu tenang dan terkendali untuk menghadapi hal-hal yang tak diinginkan dengan kekuatan baik. Kita mampu tampil rendah hati dan optimis untuk menghadapi setiap situasi yang penuh tantangan dan resiko.

Ketika kekuatan baik menguasai dan mengisi diri kita, maka apapun persoalan hidup yang muncul, kita mampu memperbaikinya dari dalam diri kita. Kita selalu tahu diri untuk menemukan kekuatan baik dari dasar lubuk hati kita. Kekuatan baik dari dalam diri kita tidak akan ngotot untuk mewujudkan keinginan, tetapi membiarkan kerja keras berproses untuk menghasilkan yang terbaik. Kekuatan baik selalu menyerah pada Tuhan dan membiarkan kerja keras berproses sesuai kehendak Tuhan. Sebaliknya, kekuatan buruk di dalam diri suka ngotot dan terlalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkan. Biasanya, ketika gagal mendapatkan yang diinginkan, maka diri akan marah, lalu menyalahkan orang lain sebagai penyebab kegagalannya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Iklan