MENCEGAH PERILAKU KORUPTIF

“Perilaku koruptif terjadi karena ketidakmampuan seseorang untuk menjalankan integritas, komitmen, tanggung jawab, dan kejujuran.”~Djajendra

Korupsi adalah tindakan ilegal yang memperdagangkan kekuasaan, kepercayaan, dan jabatan untuk keuntungan diri sendiri dan kelompoknya. Biasanya, korupsi terjadi karena ada kesempatan untuk memecahkan masalah bersama secara rahasia, dan mereka percaya bahwa tidak seorang pun yang melihat dan mengetahui perbuatan mereka. Di samping itu, perilaku koruptif sangat meyakini bahwa sistem dan pengawasan yang ada bisa mereka mengakali, sehingga tidak mampu mendeteksi korupsi yang mereka lakukan secara rahasia.

Siapa pun bisa jujur dan jauh dari perilaku koruptif, ketika tidak ada godaan, tidak ada peluang untuk korupsi, dan tidak ada budaya untuk korupsi di sana. Persoalannya, ketika keimanan dan integritas seseorang rendah, tetapi dia memiliki kekuasaan dan peluang untuk memperkaya diri, maka dia akan tergoda untuk melakukan korupsi dengan berbagai cara.

Perilaku koruptif sangat berani pasang badan dan tidak takut malu, mereka hanya takut kehilangan uang dan kekayaannya. Jadi, apapun hukumannya, selama uang dan kekayaannya utuh, perilaku koruptif akan bahagia dan damai-damai saja hidupnya. Hal ini terjadi, karena korupsi dilakukan bukan sekedar untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk menjamin terpenuhinya kehidupan ekonomi dan keuangan keluarganya secara turun-temurun. Ingat, korupsi itu tujuannya hanya satu yaitu uang, bukan yang lain. Jadi, walaupun dia dihukum mati, tetapi selama uang dan hartanya utuh, maka itu tidak akan menjadi persoalan baginya. Oleh karena itu, selama tidak ada hukuman tegas untuk kekayaan yang dimiliki, perilaku koruptif akan terus tumbuh dan sulit diberantas ataupun dicegah dengan cara apapun. Miskinkan perilaku koruptif, maka dia akan takut, dan korupsi pun bisa turun drastis.

Bagi perilaku koruptif perbuatan mereka adalah benar dan tidak merasa bersalah, sehingga walaupun pernah dihukum bukan berarti mereka akan berhenti untuk melakukan korupsi. Mereka tetap akan melakukannya kalau ada peluang untuk dilakukan secara rahasia. Di samping itu, mereka juga memiliki seribu satu akal untuk mengelabui sistem dan pengawasan yang ada. Jadi, selama sistem, tata kelola, dan pengawasan tidak ditingkatkan kualitasnya secara terus-menerus, maka perilaku koruptif akan selalu mampu melampaui kemampuan yang dimiliki oleh sistem dan pengawasan tersebut.

Siapapun boleh dipercaya dan kepercayaan adalah sesuatu yang paling penting. Persoalannya, bila kepercayaan yang diberikan tidak dilengkapi dengan sistem, tata kelola yang terbaik, kepemimpinan yang tegas dan berani, serta pengawasan yang jujur dan bertanggung jawab. Maka, kepercayaan itu mudah tergoda untuk memiliki perilaku koruptif.

Rasa cinta yang berlebihan kepada sesuatu, apakah itu barang ataupun orang, dapat menjadi jalan untuk terciptanya perilaku koruptif. Sebagai contoh: si A sangat mencintai sebuah merek mobil, sudah lama dia terobsesi untuk memiliki mobil tersebut, dan sekarang dia memiliki kekuasaan untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin secara ilegal. Karena cinta sudah mengalahkan integritas dan keimanannya, maka dia akan mencari cara paling rahasia, untuk mendapatkan uang ilegal sebanyak mungkin agar dapat memiliki semua yang dia cintai. Cinta yang berlebihan berpotensi menciptakan perilaku koruptif.

Ketika integritas tidak menyentuh hati nurani; ketika tidak percaya bahwa jiwa yang kaya integritas di dalam rasa syukur mampu mendatangkan keberlimpahan; ketika tidak sadar atau tidak yakin bahwa Tuhan melihat segalanya; ketika tidak percaya adanya hukum sebab-akibat, hukum konsekuensi; ketika tidak percaya pada hukum karma. Maka, hati nurani akan kehilangan kemampuan untuk menemukan kebenaran sejati. Dan saat itu, perilaku koruptif akan hadir dan menghancurkan integritas diri.

Bagi perilaku koruptif, tertangkap dan dihukum hanyalah sebuah musibah. Walaupun sudah tertangkap dan dihukum berkali-kali, selama dirinya tidak memiliki integritas, perilaku koruptifnya tidak akan pernah sembuh, sehingga manipulasi dan kebohongan tetap menjadi perilaku sejatinya.

Integritas adalah sebuah nilai yang menerangkan tentang sifat dan perilaku seseorang yang jujur dan sangat kompeten dibidangnya. Artinya, dia berkualitas dan dapat diandalkan untuk menjalankan sebuah pekerjaan dengan jujur, bertanggung jawab, etis, berkualitas, berkinerja tinggi, dan sulit untuk menggantikannya. Seseorang yang memiliki integritas yang tinggi lahir dari kekuatan moralitas dan spiritualitas yang sangat tinggi. Seseorang yang memiliki integritas takut kepada hukum Tuhan, sehingga dia menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh menjalankan amanah dengan kompetensi dan kualitas terbaik, tanpa mengambil apapun untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk memperkaya diri sendiri ataupun keluarga.

Perilaku koruptif merupakan akar untuk terciptanya budaya korupsi. Kalau sudah menjadi budaya, maka tidak bisa lagi digunakan konsep pencegahan ataupun pemberantasan, harus digunakan konsep transformasi ataupun revolusi mental. Revolusi mental harus diikuti dengan sistem baru yang mengarahkan semua perilaku kepada disiplin untuk taat kepada sistem anti perilaku koruptif. Bila sistem mampu memaksa mental dan perilaku untuk menghindari perilaku koruptif, maka secara perlahan-lahan, perilaku koruptif akan berubah menjadi perilaku yang jujur dan penuh tanggung jawab. Dan, disinilah akan lahir budaya tanpa korupsi, dimana semua orang akan hidup dari kerja kerasnya yang halal.

Sistem yang baik dan kuat mampu mengelola wilayah resiko yang berpotensi dikendalikan oleh perilaku koruptif. Jadi, harus dengan tegas memetakan wilayah potensi korupsi, lalu wilayah yang dianggap sangat beresiko tersebut diperkuat pengawasannya, dan ditingkatkan revolusi mentalnya dengan intensitas yang lebih tinggi, secara terus-menerus, berulang-ulang, sampai perubahan itu terjadi.

Perilaku koruptif seperti penyakit menular yang sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Dia seperti kisah vampire yang bila menggigit langsung menjadikan orang sebagai vampire, lalu bisa hidup abadi di dalam kegelapan dengan kekuatan dahasyatnya, dan hanya terang atau sinar matahari yang ditakuti. Sebab, sinar terang bisa membakar dan memusnahkan vampire. Demikian juga dengan perilaku koruptif, sekali seseorang menikmati atau memiliki kekuatan lebih dari hasil korupsinya, maka dia akan menjadi contoh dan teladan yang mengundang minat orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.

Ketika perilaku koruptif sudah sangat kuat dengan kekuatan uangnya yang mampu membeli dan membayar apapun untuk membuatnya menang, maka realitas ini akan menjadi contoh bagi siapapun untuk memiliki perilaku koruptif. Persepsi orang akan mengatakan daripada jujur hidup miskin, lebih baik korupsi, walau tertangkap, anak-isteri masih bisa hidup kaya raya. Jadi, secara normatif bisa saja orang mengatakan tidak pada korupsi, tetapi secara perilaku dia sangat koruptif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com