REVOLUSI MENTAL MENJADI BAGIAN INTI DARI PERUBAHAN BUDAYA ORGANISASI

REVOLUSI MENTAL DJAJENDRA 2016

“Sebuah perubahan menuju kemajuan membutuhkan pengorbanan. Dan, karena dalam perubahan tersebut ada korban, maka disebutlah revolusi. Karena yang dikorbankan adalah emosi, pikiran, perilaku, dan jiwa. Maka, disebutlah revolusi mental.”~Djajendra

Revolusi mental adalah perubahan tanpa kompromi dan dipaksa untuk berubah. Biasanya, revolusi mental menjadi bagian inti dari perubahan budaya organisasi. Budaya terbentuk dari kebiasaan, perilaku, rutinitas, dan pola pikir kolektif. Ketika budaya lama dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan masa depan organisasi, maka budaya lama dipaksa untuk berubah. Pada saat budaya lama dipaksa berubah, selalu ada perlawanan yang keras dari kebiasaan dan pola pikir kolektif yang merasa nyaman dengan budaya lama. Perlawanan keras inilah yang membutuhkan revolusi mental agar perlawanan tersebut bisa dikalahkan dengan cepat.

Dalam dunia korporasi, revolusi mental adalah sesuatu yang biasa terjadi. Ketika pimpinan ingin merubah budaya kerja, biasanya, terpaksa harus melalui sebuah revolusi mental. Ketika pemilik baru ingin merubah budaya perusahaan sesuai nilai-nilai yang diyakininya, maka revolusi mental tidak terelakan lagi. Karena kata revolusi mengandung makna yang keras, maka biasanya digunakan kata perubahan atau pun transformasi. Padahal, dalam praktiknya, revolusilah yang terjadi, sehingga banyak orang yang tidak sejalan dengan manajemen baru atau pimpinan baru selalu disingkirkan dengan berbagai cara dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Di Singapore, sejak awal memimpin, Lee Kuan Yew melakukan revolusi mental dengan membangun budaya baru yang taat aturan, disiplin, dan bertanggung jawab. Lee Kuan Yew mengatur perilaku dan kebiasaan warga negaranya, dan bila melanggar dikenakan denda ataupun hukuman yang tegas dan cukup besar. Hari ini, kita bisa melihat Singapore sebagai negara maju dan bersih dalam banyak aspek kehidupan.

Banyak perusahaan-perusahaan besar tumbuh melalui revolusi mental. Membangun budaya baru selalu melalui revolusi mental. Berbagai tindakan korporasi yang bertujuan menciptakan tata kelola bisnis yang terbaik, harus dilalui melalui revolusi mental. Bukan pekerjaan mudah untuk menjadi lebih baik, harus ada pengorbanan yang besar. Intinya, sebuah perubahan menuju kemajuan membutuhkan pengorbanan. Dan, karena ada korban dalam perubahan tersebut, maka disebutlah revolusi. Karena yang dikorbankan adalah emosi, pikiran, perilaku, dan jiwa. Maka, disebutlah revolusi mental.

Revolusi mental dimulai dari slogan-slogan perubahan yang secara terus-menerus dikobarkan dan disemangatkan kepada pegawai. Diikuti doktrin dan internalisasi nilai-nilai untuk ditanam dalam pikiran bawah sadar. Program doktrin dan internalisasi harus terus-menerus dan berkelanjutan. Evaluasi dan perbaikan harus terus-menerus dilakukan sampai budaya baru terinternalisasi menjadi perilaku, karakter, etos, sikap, kebiasaan, persepsi, dan akal sehat.

Revolusi diperlukan karena kebanyakan orang tidak suka dengan perubahan, mereka cendrung melawan dan tidak membantu perubahan. Sedangkan perubahan adalah inti dari kemajuan menuju masa depan yang lebih baik. Revolusi mental membutuhkan ketegasan yang luar biasa konsisten dari pemimpin. Pada saat melakukan revolusi mental, perlawanan hidup-mati akan muncul dari orang-orang yang merasa sebagai korban perubahan. Di sinilah, ujian terbesar bagi kepemimpinan revolusi tersebut, apakah tetap tegas dan tangguh mengatasi perlawanan tersebut, atau menyerah oleh keadaan. Pemimpin revolusi mental sejati adalah pemenang dalam membangun budaya baru yang kuat dan produktif.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com