JANGAN BIARKAN BUDAYA DOMINAN TIDAK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

BUDAYA DOMINAN 16022016JANGAN BIARKAN BUDAYA DOMINAN TIDAK MEMBANGUN BUDAYA PERUSAHAAN YANG KUAT

“Budaya dominan dalam perusahaan adalah tentang kekuatan yang berkuasa dan berpengaruh secara informal.”~Djajendra

Beberapa orang berkumpul budaya terbentuk. Budaya terbentuk dari keyakinan dan kepercayaan yang ditunjukkan dalam sikap, perilaku, kebiasaan, gaya, ambisi, dan rutinitas. Nilai-nilai pribadi dari orang yang paling kuat dan dominan dapat menjadi fondasi untuk terbentuknya sebuah budaya.

Perusahaan yang dijalankan secara profesional dengan tata kelola yang terbaik selalu berambisi memiliki budaya organisasi yang kuat. Mereka pun mengembangkan nilai-nilai perusahaan yang sesuai dengan strategi dan visi. Nilai-nilai diformalkan dengan pernyataan misi, visi, dan slogan untuk tujuan menyatukan semua insan perusahaan dalam satu persepsi. Selama nilai-nilai bukan sebagai slogan hampa, tetapi sebagai perilaku yang menjalankan proses kerja dan proses bisnis, maka nilai-nilai tersebut akan menjadi dasar bagi pembentukan budaya organisasi yang kuat.

Budaya organisasi yang kuat mengungkapkan nilai-nilai inti organisasi sebagai kenyataan yang dipatuhi, diyakini, dan diterima di seluruh organisasi secara luas bersama-sama. Sedangkan budaya dominan mengungkapkan nilai-nilai inti yang dimiliki oleh mayoritas anggota organisasi berdasarkan pengalaman, pengaruh, kekuasaan, kekuatan, situasi, dan masa lalu.

Dalam realitas, banyak perusahaan dan instansi merasa tak berdaya melawan budaya dominan. Walaupun nilai-nilai inti sudah diinternalisasikan dalam organisasi, untuk menjadi perilaku dan pola pikir yang nyata di tempat kerja, tetapi budaya dominan masih lebih kuat pengaruhnya. Budaya dominan adalah tentang kekuatan yang berkuasa dan berpengaruh secara informal.

Pembentukan budaya organisasi yang kuat haruslah dengan menghitung kekuatan budaya dominan. Strategi dan cara mengkomunikasikan nilai-nilai perusahaan secara tepat diperlukan untuk melemahkan budaya dominan. Bila budaya dominan dibiarkan atau diabaikan, maka dia akan menjadi tembok yang menghalangi pembentukan budaya kuat.

Membiarkan budaya dominan saat proses pembentukan budaya kuat akan menciptakan konflik batin di internal organisasi. Orang-orang merasa terpaksa untuk mengadopsi nilai-nilai inti. Orang-orang merasa tidak yakin dengan nilai-nilai inti perusahaan. Mereka masih berpikir bahwa akar dari budaya yang benar adalah budaya dominan tersebut, sehingga keyakinan yang sudah sekian lama hidup di dalam diri mereka, menjadi tidak mudah diganti dengan yang nilai-nilai inti perusahaan.

Budaya dominan harus dibukakan pikirannya agar memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan budaya kuat. Dalam hal ini, diperlukan membangkitkan kesadaran untuk berubah dan melatih mereka agar terbiasa di luar zona nyaman. Jadi, budaya dominan adalah kekuatan luar biasa yang diperlihatkan oleh zona nyaman. Biasanya, mayoritas pegawai inti yang berkuasa suka terjebak dalam budaya dominan. Saat pemilik perusahaan atau dewan direksi memiliki program pengembangan budaya kuat, yang ditugaskan pastilah pegawai inti tersebut, sedangkan mereka sendiri sedang terjebak mindsetnya dalam nyamannya budaya dominan. Hal inilah yang selalu menjadi faktor kegagalan untuk pembentukan budaya perusahaan yang kuat.

Kesadaran, jiwa besar, moralitas, etika, dan kemauan untuk berubah adalah faktor terpenting dalam membangun budaya perusahaan yang kuat. Semakin sadar dan mau berubah sesuai nilai-nilai inti perusahaan, semakin terbentuk fondasi yang kuat untuk budaya organisasi yang kuat. Nilai-nilai berfungsi untuk menguatkan langkah pencapaian strategi, dan juga memberikan makna kerja dalam organisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com