MEMINDAHKAN MENTAL ZONA NYAMAN KE ZONA PERUBAHAN

MOTIVASI PERUBAHAN 03022016“Pada umumnya, orang mudah terjebak dalam zona nyaman, walau zona nyaman tersebut tidak memberikan kebaikan bagi mereka.”~Djajendra

Dalam hidup, hanya perubahan yang abadi, perubahan itu pasti, tidak seorang pun yang mampu melawan perubahan. Persoalannya, tidak semua orang memiliki keberanian untuk berubah, kebanyakan orang takut dengan perubahan. Orang-orang mudah terjebak dalam zona nyaman, walau zona nyaman tersebut tidak memberikan kebaikan bagi mereka. Hanya karena terbiasa dengan sebuah pola hidup, memulai pola hidup baru menjadi tidak mudah.

Perubahan perlu disiapkan secara baik agar proses perubahan tidak diguncang dengan stres berat. Mengingat kebanyakan orang selalu tidak siap menerima perubahan, maka diperlukan sebuah awal yang terencana dengan baik agar perubahan tidak berdampak negatif.

Perubahan yang baik dimulai dengan komunikasi yang jelas untuk mempengaruhi orang-orang agar secara ikhlas mau berubah. Dalam hal ini, harus ada yang pintar mempengaruhi, yang kerjanya mempengaruhi mental zona nyaman untuk berubah. Komunikasi yang mendorong orang-orang dari zona nyaman pindah ke zona perubahan harus dikerjakan secara total. Biasanya, akan ada perlawanan dan umpan balik yang anti perubahan. Sikap para perubah dengan kekuatan pengaruhnya harus mampu menanggapi dan mendengarkan realitas, dan juga menemukan logika yang tepat untuk memaksa yang ngotot di zona nyaman agar mau pindah ke zona perubahan.

Ketika dari zona nyaman harus pindah ke zona perubahan, stres akan mengganggu perubahan. Biasanya, stres muncul melalui sikap dan perilaku yang merasa tidak nyaman dengan perubahan. Bila kondisi stres ini dibiarkan, maka perubahan bisa sulit dilaksanakan, karena akan ada perlawanan melalui sikap dan perilaku yang tidak membantu proses perubahan.

Stres dalam perubahan muncul karena rasa takut kehilangan realitas yang sudah biasa dijalani. Karena sudah cukup lama berada dalam satu cara atau sistem, maka saat diminta berubah atau melakukan transformasi, sikap menolak perubahan akan menguat. Dalam rangka memastikan perubahan berjalan sesuai rencana, perusahaan perlu bersikap tegas melalui komunikasi yang meminta semua orang berpartisipasi dan mendukung perubahan.

Sering sekali, saat menerima kabar tentang perubahan, suasana kerja langsung kasak-kusuk dan gosip pun mulai diciptakan. Pada dasarnya, di tempat kerja, sangat sedikit jumlah orang yang berani berubah, ataupun siap mental untuk berubah. Oleh karena itu, pihak manajemen harus sadar untuk membangun komunikasi yang sejelas-jelasnya agar mendapatkan dukungan karyawan terhadap proses perubahan. Bila komunikasi tidak jelas, maka perilaku karyawan yang anti perubahan akan mempengaruhi upaya perubahan, sehingga perubahan menjadi sulit dicapai.

Perubahan yang drastis bisa menciptakan ketidakstabilan. Biasanya, karyawan-karyawan yang sudah bekerja sangat keras dan menunjukkan loyalitas yang tinggi, saat mereka harus menghadapi perubahan yang tidak mereka inginkan, mereka akan merasa tidak dihargai. Hal ini selalu terjadi di dunia nyata perubahan. Mereka merasa komitmen telah dilanggar, karena perubahan membuat mereka terlempar dari posisi semula. Resistensi terhadap perubahan adalah sebuah fakta yang harus dihadapi dengan serius saat perubahan terjadi.

Orang-orang yang merasa beruntung dengan sistem yang ada, akan menolak perubahan dengan segala cara, dan berupaya menggagalkan perubahan tersebut. Mereka sangat membenci perubahan. Mereka takut dan khawatir bahwa perubahan akan membuat situasi mereka lebih buruk. Untuk itu, pimpinan perubahan harus dapat berkomunikasi dengan para penolak perubahan, dan meyakinkan mereka bahwa perubahan harus segera diimplementasikan untuk kemajuan. Jangan biarkan rasa takut mereka menjadi kekuatan yang menggagalkan perubahan. Miliki solusi dan didik orang-orang tersebut dengan pencerahan yang mendalam agar mereka dapat memahami pentingnya perubahan. Mungkin saja beberapa karyawan akan tetap ngotot tidak mau berubah, sebab mereka sudah melihat kehilangan sesuatu yang berharga bagi mereka selama ini. Ya, perubahan memang tidak mungkin memuaskan semua pihak, akan ada yang tersingkir dan akan ada yang dipromosikan.

Rasa takut kehilangan adalah reaksi wajar dari perubahan. Saat perubahan terjadi, sangat banyak karyawan yang selalu khawatir ataupun takut. Mereka sangat takut kehilangan posisi mereka di perusahaan. Mereka juga sangat takut terkena PHK. Jadi, selama masa transisi, suasana kerja penuh dengan rasa curiga. Kepercayaan diri akan hilang dan perilaku menjadi mudah berubah. Di sinilah, diperlukan komunikasi dan pencerahan yang terus-menerus untuk menjaga semangat kerja. Sebab, bila semangat kerja turun, maka kinerja pun berpotensi turun.

Saat masa transisi dan perubahan terjadi, karyawan harus diberikan pelatihan dan motivasi agar mereka kuat dan tetap semangat. Jadi, perusahaan wajib mendukung perubahan dengan menyediakan pelatihan yang menjadikan karyawan bergerak ikhlas dari mental zona nyaman ke mental zona perubahan. Bila karyawan tidak diberi pelatihan dan pengertian, maka mereka akan kehilangan arah dan berada di dalam titik ketidakpastian. Kondisi ini, akan menghilangkan gairah dan produktivitas kerja mereka.

Tidak semua orang mudah beradaptasi dengan perubahan. Tidak semua orang kuat merangkul perubahan. Tidak semua orang memiliki wawasan yang luas untuk memahami perubahan. Pada akhirnya, perubahan tetap menjadikan yang lemah stres, tak berdaya, merasa terancam, dan terintimidasi oleh realitas. Sedangkan yang kuat, mampu mengambil peluang untuk kemajuan dirinya, dan selalu belajar dengan rendah hati untuk beradaptasi dengan realitas.

Perubahan adalah pemenang sejati, dan tidak pernah kalah oleh apapun. Para pemenang adalah pribadi-pribadi yang selalu siap dengan perubahan, dan sangat mencintai zona tidak nyaman.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com