IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE MEMBUTUHKAN KEPEMIMPINAN YANG KUAT, TEGAS, DAN DIAKUI

GOOD CORPORATE GOVERNANCE 2016IMPLEMENTASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE MEMBUTUHKAN KEPEMIMPINAN YANG KUAT, TEGAS, DAN DIAKUI

“Hubungan kerja antara para direksi dengan tim manajemen tidak hanya di sekitar meja rapat, tetapi harus dari hati ke hati dan saling melengkapi.”~Djajendra

Praktik good corporate governance akan berjalan sempurna bila kepemimpinannya fokus dan peduli untuk menjalankan tata kelola perusahaan yang terbaik. Tata kelola perusahaan yang terbaik secara formal mudah diwujudkan. Tetapi, di dalam praktik dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, tegas, dan diakui. Bila kepemimpinan perusahaan lemah, maka sangat sulit untuk mencegah pelanggaran atas tata kelola. Pemimpin yang kuat dan produktif mampu membangun hubungan kerja yang sehat dan produktif dengan tim manajemennya ataupun dengan CEO nya. Pemimpin yang kuat memiliki keberanian dan pengetahuan untuk mengkoordinasikan tim manajemen secara efektif dan produktif, lalu memiliki intuisi dan keberanian untuk proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.

Good corporate governance tidak hanya tentang kepatuhan dan kesesuaian perilaku dengan tata kelola yang terbaik, tetapi juga tentang hubungan dan komunikasi yang baik antara para direksi dengan tim manajemennya. Dewan direksi perusahaan harus memiliki kekuasaan dan kewenangan penuh untuk menciptakan arah pencapaian. Para direktur harus mampu memberdayakan tim manajemen untuk menjalankan kekuasaan, membuat keputusan, mengawasi perusahaan, dan bertanggung jawab penuh atas setiap peristiwa. Garis tanggung jawab antara para direktur dengan tim manajemen perusahaan harus jelas dan profesional. Tidak boleh ada benturan kepentingan. Setiap pihak harus memperkuat kompetensi perilaku untuk mendorong terciptanya hubungan kerja yang produktif dan kreatif.

Tata kelola yang terbaik dimulai dari kepercayaan Rapat Umum Pemegang Saham untuk memberikan tanggung jawab kepada dewan direksi. Setelah menerima tanggung jawab dari RUPS, para direktur harus menentukan tim manajemen yang tangguh, untuk menjalankan arah strategis perusahaan dan mencapai tujuan. Selain kemampuan teknis, hubungan direksi dengan tim manajemen sangatlah penting agar tata kelola yang terbaik dapat berfungsi dengan optimal.

Kesesuaian perilaku dengan undang-undang, peraturan, kode etik, dan praktik bisnis yang terbaik menjadi fondasi dalam menciptakan tata kelola yang terbaik. Perilaku kerja yang baik selalu beradaptasi dengan proses kerja yang nyata. Apapun realitas di lapangan, perilaku baik mampu berfungsi untuk menjalankan tata kelola yang terbaik. Setiap orang mengetahui siapa dirinya, apa tugasnya, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, bagaimana menjaga hubungan kerja yang produktif, dan bagaimana menjadi energi positif di dalam proses manajemen.

Tujuan implementasi good corporate governance adalah untuk memaksimalkan kinerja perusahaan dengan cara-cara etis. Karena yang berproses dalam tata kelola adalah fungsi-fungsi manajemen dan peran yang diberikan perusahaan kepada setiap individu karyawan, maka para direksi harus memiliki kepemimpinan yang kuat, untuk memastikan bahwa bisnis dan operasional perusahaan dijalankan dengan mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Peran monitoring para direksi harus dijalankan dengan konsisten agar tata kelola yang terbaik dapat diimplementasikan sesuai harapan. Para direksi harus terus-menerus memantau melalui laporan dan juga fakta di lapangan untuk memastikan bahwa semua prinsip-prinsip good corporate governance dijalankan dengan baik.

Karena RUPS memberikan tanggung jawab perusahaan kepada para direksi, maka seluruh risiko menjadi tanggung jawab penuh dewan direksi. Agar risiko dapat dikelola secara baik, maka fungsi pengawasan internal harus diperkuat dan menjadi lebih mandiri. Pengawasan internal harus mampu memberikan laporan dan informasi yang tepat kepada para direksi, agar para direksi secepatnya dapat mengambil keputusan yang benar dan tepat.

Dalam tata kelola yang baik, informasi haruslah yang benar sesuai fakta, tidak boleh sebuah informasi menciptakan asumsi. Sebab, asumsi tidak bersumber dari fakta, dia hanya bersumber dari persepsi dan keyakinan. Sedangkan tata kelola yang baik menganut prinsip kepatuhan, ketaatan, dan kesesuaian. Jadi, sebuah informasi yang bersifat asumsi berpotensi merusak tata kelola yang baik.

Kepemimpinan yang kuat dan berani adalah kunci sukses implementasi good corporate governance. Para direksi bertanggung jawab untuk semua tindakan dan keputusan perusahaan. Para direksi tidak boleh melempar kesalahan kepada pihak manapun. Sebab, mereka secara sah telah menerima tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan dari para pemegang saham. Oleh karena itu, dewan direksi harus mengembangkan budaya perusahaan yang kuat untuk memandu perilaku organisasi yang sehat dan andal. Proses organisasi yang baik tumbuh dan berkembang melalui sistem dan prosedur yang tepat. Bila sistem dan prosedur tidak berkualitas, maka proses organisasi juga menjadi tidak berkualitas. Hal ini akan menghasilkan tata kelola yang buruk.

Kepemimpinan dewan direksi yang kuat dihasilkan dari perilaku dan sikap yang tepat. Para direksi harus mampu menjadi bijak dan mewakili keseimbangan yang tepat dengan tim manajemen. Pengalaman dan pengetahuan para direksi harus bisa mempengaruhi peningkatan kinerja tim manajemen. Hubungan kerja antara para direksi dengan tim manajemen tidak hanya di sekitar meja rapat, tetapi harus dari hati ke hati dan saling melengkapi.

Kepemimpinan yang kuat selalu memahami kelemahan yang ada di dalam diri mereka ataupun yang ada di sekitar mereka. Oleh karena itu, mereka selalu sadar dan memiliki persepsi positif untuk pengembangan diri sendiri. Mereka selalu rendah hati untuk belajar dan memperbaiki yang kurang.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com