BERCERMIN DARI KARAKTER KARNA DALAM KISAH MAHABHARATA

“Karna sesungguhnya seorang kesatria yang penuh tanggung jawab dengan integritas pribadi yang tinggi, tetapi dia mengabdi dan tunduk pada kekuatan Kurawa, sehingga semua yang baik dari integritasnya hilang dalam benci dan dendam.”~Djajendra

Karna adalah salah satu karakter yang memperkaya kisah Mahabharata. Karakter Karna tumbuh dan hidup dalam kebencian, kepahitan, dendam, marah, dan mengabdi pada energi negatif. Walaupun Karna berjiwa kesatria dan bermental baja, tetapi jiwanya tidak besar dan toleransinya nol besar. Semua pangkat dan kebesaran jabatan yang melekat dalam identitas dirinya menjadi tidak berguna bagi kekuatan baik. Karna kehilangan cinta dan keikhlasan, sehingga hidupnya di sepanjang kisah Mahabharata terlihat sangat pahit. Karna gagal menjadi cahaya bagi kehidupan, dia membawa gelap untuk menutupi cahaya kehidupan.

Dari karakter Karna, semua orang bisa belajar tentang pentingnya cinta dan keikhlasan; tentang pentingnya melepaskan dendam masa lalu dan memulai hari ini dengan memaafkan masa lalu. Ini artinya, siapapun dia, sehebat apapun dia, setinggi apapun ilmunya, bila dia kehilangan cinta, maka dia menjadi pribadi yang pahit hidupnya. Karna sudah memberikan contoh dan pembelajaran bahwa bila seseorang menginvestasikan semua waktu dan energi hidupnya dalam kepahitan, kemarahan, dendam, kesal, kebencian, anti toleransi, berjiwa kerdil. Maka, orang tersebut hanya akan memanen hal-hal buruk di sepanjang hidupnya.

Sebagai seorang panglima besar dan kesatria yang diandalkan oleh kaum Kurawa, Karna selalu bersepakat untuk menolong Duryodana. Duryodana yang sangat membenci Pandawa, dan penuh ambisi untuk mengalahkan Pandawa, merasa beruntung memiliki Karna yang juga sangat membenci Pandawa. Duryodana dan Karna terjebak dalam kepahitan dan dendam seumur hidup. Mereka berdua bersahabat sampai mati, mereka berdua pun mati dengan cara buruk di pertempuran yang menggagalkan niat mereka. Ini semua disebabkan oleh ketidakmampuan mereka berdua untuk mentransformasikan kepahitan masa lalu dan ambisi masa depan menjadi sebuah keikhlasan yang menghasilkan kedamaian hidup.

Karna marah karena dia mendapatkan diskriminasi sosial. Walaupun dia seorang kesatria dan petinggi penting kerajaan, dia tetaplah dianggap masyarakat sebagai anak seorang kusir. Derajatnya tidak naik, walau jabatan dan pangkat sudah tinggi. Dia dianggap bukan turunan raja, tetapi karena prestasinya hebat, diapun diberi pangkat dan kekuasaan dalam kerajaan. Realitas ini membuat Karna mengeluh di sepanjang hidupnya, dia terus-menerus memelihara kepahitan dan benci di dalam dirinya. Seharusnya Karna bangga dan bersyukur dengan prestasi yang dia capai, tetapi dia merasa malu dan tidak ikhlas menjadi anak seorang kusir.

Karna adalah contoh pribadi yang tidak mau menerima realitas dengan ikhlas dan jiwa besar. Dia seharusnya benar-benar bahagia. Apalagi sebagai seorang anak yang ditemukan mengambang di atas air oleh orang tua angkatnya, yang mampu tumbuh menjadi seorang kesatria kerajaan.

Ketika Krishna memberitahu Karna tentang orang tua kandungnya siapa, maka rasa marah Karna semakin menjadi-jadi. Semakin tinggi benci dan dendam Karna kepada Pandawa, sebab dia sekarang tahu bahwa Kunti ibunya Pandawa adalah Ibu Kandung dia. Karna pun semakin marah dengan nasibnya setelah tahu bahwa ayahnya adalah Dewa Surya. Bagaimana mungkin anak seorang Dewa menjadi anak seorang kusir rendahan? Karna sangat kecewa dan marah setelah mendengar kebenaran tentang dirinya, rasa pahitnya semakin pahit. Dia semakin memelihara kebencian terhadap lima Pandawa, meskipun lima Pandawa adalah saudara satu ibu.

Walaupun sudah mengetahui kebenaran yang dia cari selama ini, Karna tidak melepaskan marah dan benci. Dia tetap menganggap ayah dan ibunya sudah membuat kesalahan besar, sehingga mereka dipilihnya menjadi musuh dalam pertempuran antara Kurawa dengan Pandawa. Walaupun sekarang dia tahu bahwa Pandawa lima adalah adik-adiknya, dia tetap semakin setia membantu Duryodana untuk mengalahkan Pandawa.

Karna tidak bisa mengkhianati kebaikan dan cinta yang diberikan oleh Duryodana kepada dirinya. Duryodana telah mengangkat seorang anak kusir menjadi kesatria tinggi di kerajaan. Di sisi lain, rasa pahitnya terhadap perbuatan orang tuanya belum bisa dia maafkan.

Kebaikan selalu menang atas keburukan, walaupun dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan untuk kemenangan tersebut. Pada akhirnya, Karna bertemu kematiannya dari panah Arjuna dalam perang besar antara Pandawa dan Kurawa di Kurukshetra. Semua investasi Karna dalam kepahitan dan ketidakikhlasan telah menghasilkan kekalahan. Karna adalah karakter yang kalah oleh hal-hal yang sifatnya emosional. Dia adalah pribadi cerdas dan pemenang di dalam karir profesionalnya, tetapi dia adalah pribadi yang kalah dalam cinta. Dia pribadi yang dikuasai oleh pikiran negatif dan gagal menguatkan pikiran positif. Karna adalah sosok yang perlu dipelajari oleh siapapun, agar mampu memahami bahaya dari pikiran negatif atau pun ketidakcerdasan emosional.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com