MENTAL TINGGI HATI MERUSAK BUDAYA KERJA

“Karyawan yang bermental tinggi hati sesungguhnya beban yang merugikan perusahaan.”~Djajendra

Mental tinggi hati di tempat kerja akan menjadi energi perusak. Keharmonisan hubungan kerja merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai kinerja terbaik. Ketika seseorang bermental tinggi hati, maka dia tidak akan menerima petunjuk atau pendapat orang lain. Dia akan mencoba mengendalikan dan mengambil alih semua urusan, dan mendominasi aktivitas sehari-hari. Orang yang bermental tinggi hati sesungguhnya beban yang merugikan perusahaan.

Mental tinggi hati pasti memiliki perilaku kerja dengan kesombongan dan keangkuhan. Dia juga akan menciptakan situasi kerja yang meremehkan dan tidak sabar. Dia juga akan menjadi pribadi yang suka mengeluhkan tentang kekurangan orang lain, dan selalu menganggap dirinyalah yang paling mampu untuk menuntaskan semua persoalan yang ada.

Sombong dan arogan adalah bagian dari perilaku sehari-harinya. Dia merasa lebih unggul dari yang lain. Dia merasa sebagai orang yang paling tahu dan paling pintar. Dia suka melambungkan dirinya di sekitar orang lain, dan berkeyakinan bahwa dialah orang yang paling berpengetahuan dan berpengalaman tentang banyak hal. Mental tinggi hati menjadikan dirinya lupa bahwa pekerjaan membutuhkan kolaborasi sempurna dari berbagi kemampuan dan keterampilan.

Pekerjaan membutuhkan manajemen yang terorganisir secara profesional melalui fungsi dan peran yang tepat. Di sini, diperlukan dukungan dari perilaku kerja yang berbudaya positif sehingga semua kebiasaan, sikap dan perilaku dapat berada di dalam keharmonisan budaya kerja. Budaya kerja positif terbentuk dari etos dan kebiasaan yang saling menghargai, saling mendengarkan, saling membantu, rendah hati, belajar, dan melayani dengan penuh disiplin.

Mental tinggi hati mudah menunjukkan arogansi dan perilaku yang tidak menyenangkan hati. Sering sekali suka menghina untuk sudut pandang yang berbeda. Tidak mau menerima umpan balik, tetapi suka menghakimi dan mengabaikan yang lain. Sangat berkeyakinan bahwa dirinyalah yang paling tahu dan paling benar, sehingga tidak akan pernah mau mendengarkan saran atau pendapat orang lain. Mental tinggi hati juga cendrung buta logika. Intelektualitasnya cendrung tidak kreatif dan tidak cerdas. Dia hidup di dalam keyakinan sesuai pola pikirnya, dan tidak memiliki kemampuan untuk belajar dari yang lain. Dia sangat keras kepala dan suka mengeluh dalam hati tentang orang-orang di sekitar dirinya. Dia selalu merasa paling pintar dan mencoba menjadi dominan diantara rekan kerjanya. Dia selalu bertindak seolah-olah dialah bos atau orang yang paling berkuasa.

Budaya kerja yang sehat adalah yang mampu mengelola orang-orang bermental tinggi hati. Kemampuan untuk menangani orang-orang bermental tinggi hati akan menghindarkan stres di dalam organisasi. Sebab, orang-orang bermental tinggi hati selalu menyebarkan energi negatif pemicu stres dan perusak pencapaian kinerja terbaik. Pengendalian dan manajemen yang baik terhadap mereka dapat mengurangi konflik dan ketegangan di tempat kerja. Bila orang-orang bermental tinggi hati ini tidak dikendalikan, mereka akan menjadi energi yang mengurangi produktivitas dan meningkatkan perputaran karyawan. Di samping itu, mereka juga akan menjadi penyebab untuk penurunan semangat kerja.

Mental tinggi hati ini disebabkan ketidakmampuan untuk mengelola ego di tempat kerja. Tempat kerja memiliki budaya kerja dengan tujuan agar semua orang saling terhubung di dalam kolaborasi dan komunikasi yang produktif. Bila mental tinggi hati berkuasa, maka tujuan dari budaya kerja tidak akan berfungsi dengan baik.

Mental tinggi hati akan merusak misi dan visi organisasi dengan perilaku buruk mereka. Mental tinggi hati yang didukung oleh kekuatan ego akan menciptakan kerusakan dan kehancuran di struktur organisasi, sehingga fungsi dan peran dari masing-masing orang atau tim akan rusak. Mental tinggi hati selalu menciptakan komunikasi yang buruk dan tidak mampu bernegosiasi untuk meredakan konflik. Mental tinggi hati selalu menciptakan perilaku yang menjengkelkan dan sombong. Hal ini akan berdampak pada rusaknya kreativitas, semangat kerja, motivasi, pemecahan masalah, efektivitas, menyebabkan stres dan menciptakan moral yang buruk di setiap proses kerja.

Kemampuan sistem, kepemimpinan, budaya dan manajemen dalam menghilangkan mental tinggi hati di tempat kerja akan meningkatkan kinerja dan produktivitas. Budaya kerja akan rusak bila perusahaan mentolerir perilaku buruk yang dihasilkan oleh energi mental tinggi hati.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com