PERILAKU YANG MERUSAK BUDAYA KERJA

ANDA LAHIR UNTUK SUKSES 2015PERILAKU YANG MERUSAK BUDAYA KERJA

“Perilaku etis merupakan aset yang harus dirawat dengan baik. Bila perilaku etis tidak dirawat, maka perilaku buruk akan muncul dan merusak semua rencana baik organisasi.”~Djajendra

Budaya kerja yang baik sangat ditentukan dari perilaku kerja yang profesional dan etis. Budaya organisasi yang kuat tercipta dari perilaku dan sikap kerja yang profesional. Perilaku dan sikap tidak baik akan menyebabkan kerusakan hubungan kerja, pada akhirnya berdampak pada rendahnya kualitas budaya kerja, dan tingginya iklim konflik di tempat kerja.

Budaya kerja yang andal dan hebat tidak tercipta dari pintar dan berbakatnya karyawan, tetapi dari sikap dan perilaku etis dan profesional. Jadi, walaupun seorang karyawan sangat hebat nilai-nilai akademisnya, sangat bereputasi tinggi sekolahnya, dan sangat tinggi pendidikannya. Tetapi, bila dia tidak mampu bersikap baik, rendah hati, berempati, bertoleransi, etis, dan belajar dari semua situasi yang muncul. Maka, semua kehebatan yang dia miliki tidak akan bermanfaat sama sekali untuk memperkuat budaya kerja.

Perilaku yang suka berbicara tentang hal-hal negatif, atau suka mengeluh tentang segala hal, adalah perilaku yang dapat menyebabkan turunnya kualitas budaya kerja. Intergitas dan kejujuran menjadi nilai yang sangat penting, dan menentukan kualitas budaya kerja. Seseorang yang tidak jujur atau rendah integritasnya, sangat mudah berbohong, sangat mudah menyebarkan berita-berita yang tidak benar, sehingga dapat menguras pikiran orang lain, hanya untuk membicarakan sesuatu yang tidak benar. Dampaknya, orang-orang di tempat kerja akan kelelahan dan menghabiskan banyak waktu, hanya untuk membahas sesuatu yang tidak penting dan juga tidak benar.

Bergosip merupakan salah satu perilaku yang dapat merusak budaya kerja. Gosip tidak hanya membuang-buang waktu kerja, tetapi juga menurunkan tingkat produktivitas dan efektivitas kerja. Perilaku suka gosip berpotensi menciptakan rasa sakit hati bagi yang digosipkan. Bila semakin banyak orang sakit hati di tempat kerja, maka mereka akan terjebak dalam marah dan dendam, sehingga  tidak mampu bekerja dengan pikiran jernih.

Pikiran positif merupakan sebuah keharusan dalam membangun budaya kerja yang andal. Pikiran positif akan menghasilkan emosi yang baik dan cerdas. Emosi baik dan cerdas mampu memahami orang lain, mampu menciptakan suasana hati yang positif di sepanjang jam-jam kerja, sehingga proses kerja dapat berlangsung dengan baik. Emosi cerdas mampu mengontrol diri sendiri, sehingga diri dapat terhubung secara baik dan harmonis kepada siapapun.

Perilaku etis selalu jujur dan mengerti tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Karyawan yang beretika tidak akan mengambil keuntungan dari hasil kerja keras karyawan lain. Orang-orang etis selalu memiliki harga diri, tidak akan bersikap curang dan mengambil yang bukan hasil kerjanya, atau yang bukan haknya.

Berbicara besar, berbicara berlebihan, atau perilaku yang suka membual, akan mengundang gosip. Orang-orang yang mendengarkan bualan atau cerita-cerita yang terkesan berlebihan, akan menggosipkan orang tersebut. Hal ini berpotensi menciptakan suasana kerja yang menurunkan kualitas budaya kerja. Sebab, sebagian dari waktu yang seharusnya dipergunakan secara produktif, akan terbuang sia-sia untuk mendengarkan dan membahas kisah si pembual.

Perilaku suka mencari muka atau mengkhianati orang-orang di sekitar, akan mengundang konflik dan perang dingin. Bukan rahasia lagi bahwa hampir di semua tempat kerja selalu akan muncul para Sangkuni yang siap menciptakan konflik. Para Sangkuni atau tukang pencipta energi konflik, dapat muncul dari semua dimensi organisasi. Mereka ini, pada umumnya, sangat pintar berbicara atau memutar balikkan fakta. Kerja mereka hanya mencari-cari kekurangan orang lain, lalu dimanfaatkan sebagai keuntungan mereka. Para Sangkuni selalu siap mengkhianati siapapun di tempat kerja. Mereka sangat pintar membaca arah angin, selalu mengikuti ke mana arah yang menguntungkan mereka. Tidak ada sahabat bagi mereka, hanya keuntungan dan kepentingan merekalah yang paling diutamakan.

Sangat banyak perilaku buruk yang dapat merusak budaya kerja. Perilaku merupakan aset yang harus dirawat dengan baik. Bila perilaku tidak dirawat, maka perilaku buruk akan muncul dan merusak semua rencana baik organisasi.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com