MENJALANKAN GCG MEMBUTUHKAN SOFT SKILL

DJAJENDRA 2015“GCG hidup dalam etos kerja yang terampil komunikasi, terampil emosi, terampil kerja sama tim, terampil memecahkan masalah, terampil menjalankan etika bisnis, terampil dalam kebiasaan kerja yang berintegritas dan akuntable.”~Djajendra

Good corporate governance bersemangat untuk menciptakan tata kelola perusahaan yang bersih, jujur, berkualitas, profesional, efektif, transparan, akuntable, dan taat hukum. Untuk dapat menjalankan GCG dengan baik; diperlukan sikap, perilaku, kebiasaan, dan karakter yang selaras dengan semangat GCG. Tanpa kepribadian yang andal, jujur, dan akuntable, maka GCG hanya akan berhenti ditataran konsep yang normatif, dan tidak mampu dieksekusi oleh insan perusahaan.

Tata kelola yang baik menciptakan efektivitas dan produktivitas yang tinggi. Dalam hal ini, perusahaan mampu bekerja dengan arah yang jelas, termasuk mengurangi berbagai potensi kerugian dan kehilangan. Pelayanan kepada pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya akan menjadi lebih baik. Pertumbuhan kinerja akan meningkat. Karakter dan etos kerja akan lebih responsif, peduli, jujur, melayani, lebih berkolaborasi, bertanggung jawab, terbuka, dan  memberikan nilai tambah yang lebih tinggi kepada pemangku kepentingan.

Selalu ada pertanyaan tentang cara mendapatkan perusahaan yang lebih baik bersama Good Corporate Governance. Pertanyaan ini menjadi penting karena banyak sekali perusahaan yang sudah menjalankan GCG berpuluh tahun, hasilnya seolah-olah GCG tidak berdaya menghadapi realitas etos kerja yang buruk. Padahal, GCG merupakan bagian terpenting dari etos kerja itu sendiri, kenyataannya realitas etos kerja tidak memiliki semangat GCG. Hal ini terjadi karena perusahaan tidak mampu mengkonversi GCG menjadi perilaku kerja. Tujuan dari GCG tidak hanya sebatas menjadi tata kelola yang sifatnya normatif; tetapi juga harus menjadi perilaku atau karakter kerja yang dapat diamalkan, dilaksanakan, dipraktikkan, dan diimplementasikan dengan gembira.

Menjalankan GCG dengan baik berarti harus memiliki target pembentukan sikap, perilaku, kebiasaan, dan karakter kerja. Di sini, peran soft skill menjadi sangat menentukan, untuk pembentukan tata kelola yang baik dari dalam diri insan perusahaan. Perusahaan boleh memiliki ambisi yang besar dalam menjalankan tata kelola (GCG) yang baik dan profesional, tetapi semua ini akan sukses bila semangat GCG keluar dari hati nurani dan mindset insan perusahaan, dan didukung dengan sepenuh hati oleh mindset dan hati nurani manajemen atau pimpinan.

Tata kelola yang baik akan mengatur semua dimensi bisnis, organisasi, budaya, manusia, dan sumber daya lainnya dengan jelas dan terfokus pada prioritas. Di sini, dimensi manusia menjadi motor penggerak yang sangat menentukan keberhasilan GCG. Pembangunan jiwa, tubuh, dan pikiran manusia untuk bisa terhubung dan bekerja penuh semangat bersama GCG, adalah sebuah keharusan untuk bisa mendapatkan tata kelola terbaik. Manusia merupakan pelaku dan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan kualitas GCG.

Tata kelola yang transparan, akuntable, berintegritas, dan taat etika, adalah modal besar untuk menjadikan bisnis perusahaan lebih besar. Penerapan prinsip-prinsip GCG harus dapat memperkuat seluruh dimensi dan elemen dari bisnis, budaya, keorganisasian, dan manusia. Banyak orang berpikir bahwa GCG adalah tentang keterampilan teknis. Memang betul secara konsep GCG terlihat seolah-olah bersifat teknis. Tetapi, sifat teknis yang dimiliki oleh GCG tersebut unik, terutama prinsip-prinsip GCG yang hanya dapat dijalankan ketika seseorang memiliki soft skill yang berkualitas. Keterbukaan, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, kesetaraan, keadilan, dan ketaatan terhadap etika bisnis, merupakan nilai-nilai yang hanya dapat dijalankan bila mereka menjadi soft skill. Intinya, nilai-nilai tersebut harus dapat menjadi sifat, sikap, perilaku, kebiasaan, kejiwaan, dan karakter.

Pengorganisasian yang baik terhadap semua sumber daya perusahaan menentukan keberhasilan GCG. Mulai dari RUPS, dewan komisaris, direksi, hingga karyawan, haruslah taat etika umum dan etika bisnis. Semuanya harus menyatu dengan sepenuh hati untuk memperkuat sistem, struktur, dan budaya organisasi, yang taat menjalankan nilai-nilai, prinsip-prinsip GCG dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com