KECERDASAN EMOSIONAL MEMBUAT DIRI BERASAL DARI DIRI SEJATINYA

DJAJENDRA“Manusia diciptakan untuk terhubung dari hati ke hati; untuk berkomunikasi dari hati ke hati; untuk membangun kebersamaan dari hati ke hati. Pikiran dan emosi harus tunduk pada kekuatan hati. Itulah inti keharmonisan; inti kebahagiaan. Mampukah?”~Djajendra  

Diri yang asli yang sejati berasal dari hati nurani. Diri yang asli mampu mengendalikan emosi dan pikiran. Diri yang asli sangat cerdas emosi: selalu tenang, terkendali, berhati-hati emosinya, perilaku yang beretika, kebiasaan-kebiasaan hidup yang mengalir dalam kesadaran tertinggi. Orang-orang yang cerdas emosional tidak mudah digoyang oleh hal-hal negatif. Mereka tetap tenang dan selalu menguatkan intelektualitasnya, emosionalnya, dan fisik tubuhnya. Keseimbangan antara intelektual, emosi, fisik, jiwa, dan alam semesta, adalah kebiasaan yang terjaga sejak bangun pagi.

Orang-orang yang cerdas emosional sangat mengerti untuk hidup bahagia. Sangat mengerti untuk menikmati indahnya kehidupan dengan rasa senang dan syukur. Tidak akan membiarkan atau mengijinkan seorang pun untuk membatasi kebahagiaan dan kehidupan senang mereka. Mereka berasal dari dalam dirinya, dan bukan berasal dari luar dirinya. Mereka tidak pernah tergoda untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka sangat merdeka untuk menikmati hidupnya dengan sikap rendah hati. Mereka sangat merdeka untuk mengeluarkan pendapat yang tak menyakitkan siapapun. Mereka menghormati hak dan kehidupan orang lain, sehingga tidak akan tergoda untuk menghakimi atau menilai orang lain.

Orang-orang cerdas emosional tidak akan bernafsu untuk mematikan reaksi negatif orang lain. Tidak akan bernafsu membandingkan kebaikan dirinya, lalu menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut untuk ditiru. Orang-orang yang cerdas emosional berasal dari kesadaran tertinggi. Mereka ikhlas untuk mengambil reaksi dan perilaku orang lain dengan rendah hati. Mereka fokus untuk memperkuat diri sendiri, dan tidak fokus untuk merubah atau menjadikan orang lain cerdas emosi.

Pengalaman dari berbagai peristiwa hidup tidak akan pernah dilupakan. Orang-orang yang cerdas emosi menjadikan pengalaman hidup sebagai guru terbaik. Mereka pasti memaafkan semua peristiwa buruk, tetapi mereka tidak akan melupakannya. Mereka sadar untuk memaafkan karena ingin menghindarkan dirinya dari stres oleh dendam dan marah. Mereka tahu bahwa pengampunan membebaskan mereka dari stres. Mereka sadar bahwa keikhlasan membebaskan mereka dari penderitaan. Oleh karena itu, mereka pasti memaafkan dan mengampuni kesalahan dan perbuatan buruk orang lain, tetapi tidak untuk dilupakan. Memaafkan dan mengampuni akan melindungi diri sendiri dari penderitaan.

Tidak akan ngotot, lebih suka mengalir. Orang-orang cerdas emosional pasti cerdas spiritual. Setiap situasi, kondisi, realitas, dan beragam kepribadian, pasti dilayani dan dihadapi dengan cerdas. Mereka tidak akan bertempur atau berkonflik oleh perbedaan. Mereka tidak akan mati-matian untuk membela keyakinan. Mereka tetap tenang dan emosinya terkendali di dalam intelektualitas dan wawasan kehidupan yang cerdas. Mereka selalu dapat menjadi diri sendiri yang hebat di setiap situasi, ataupun saat berhadapan dengan orang-orang yang berbeda.

Hidup itu milik banyak orang dan semua orang memiliki persepsinya sendiri. Tidak ada kesempurnaan yang bersumber dari satu orang. Kesempurnaan hanyalah bersumber dari kolaborasi kehidupan dengan alam semesta. Siapapun yang mengejar kesempurnaan pastilah menghasilkan rasa kecewa. Orang-orang cerdas emosional percaya bahwa jalan hidup terbentuk dari impian, cita-cita, rencana, harapan, keinginan, kebutuhan, dan takdir. Oleh karena itu, mereka tidak akan ngotot dengan kesempurnaan sebuah pencapaian. Mereka sadar bahwa ada jalan takdir yang berada di luar kemampuan diri sendiri, juga sadar bahwa ada kekuatan orang-orang lain dan alam semesta, yang berpotensi merubah arah pencapaian.

Manusia jalan ke depan menuju masa depan. Hati nurani harus bergerak ke dapan. Mungkin pikiran dan emosi masih mencoba membawa kita ke masa lalu, tetapi hati harus bergerak ke depan. Hidup itu singkat, semua orang punya batas waktu untuk hidup. Saat nafas berhenti total, maka selesai cerita hidup. Orang-orang yang cerdas emosional sangat sadar bahwa mereka tidak hidup selamanya. Mereka sangat sadar bahwa waktu hidup dari hari ke hari terus-menerus berkurang, sehingga setiap detik menjadi sangat berharga untuk bisa menikmati keindahan dan kebahagiaan.

Orang baik dan tidak baik hanyalah sebuah persepsi. Seseorang mungkin sangat buruk untuk kita, tetapi dia mungkin seperti malaikat untuk orang lain. Kita hanya perlu menghindari nilai-nilai kehidupan yang negatif. Sikap, perilaku, kebiasaan, kepentingan, dorongan, dan karakter orang lain, adalah seperti sebuah buku pelajaran. Kita cukup memperlajari buku tersebut, ambil yang bermanfaat, dan tinggalkan yang tidak bermanfaat. Orang-orang yang cerdas emosional tidak akan mengeluh atau membiarkan dirinya melihat keburukan dari orang lain. Orang-orang cerdas emosional sangat menguasai empati, sehingga mampu memanfaatkan setiap orang untuk kebaikan dirinya.

Orang-orang yang cerdas emosional terlatih untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan hidupnya. Mereka mudah beradaptasi dengan semua situasi dan orang-orang. Mereka mampu menjadi pengamat yang optimis dan positif terhadap dirinya sendiri. Mereka mampu tersenyum dan bahagia di saat  stres, kelelahan, tantangan, cobaan, dan ketakutan hadir di dalam hidupnya. Mereka cerdas menjaga diri sendiri, mampu memenuhi harapan dan komitmen hidupnya, serta mampu menjalankan keikhlasan hatinya dengan cerdas emosi.

Untuk pelatihan hubungi www.djajendra-motivator.com