KECERDASAN EMOSIONAL DALAM INTEGRITAS DAN AKUNTABILITAS

DJAJENDRA2013KECERDASAN EMOSIONAL DALAM INTEGRITAS DAN AKUNTABILITAS

“Integritas hanya terwujud ketika hati dihidupkan, suara hati didengarkan, dan mata hati digunakan untuk melihat realitas.”~Djajendra

Ketidakjujuran merupakan sumber masalah hidup. Diperlukan kekuatan integritas untuk membuat hidup lebih jujur, lebih sadar, lebih berhati mulia, lebih rendah hati, dan lebih mengalir di dalam kebaikan.

Kemauan untuk membangun kualitas diri dengan kekuatan integritas, loyalitas, dan rasa tanggung jawab, menjadikan diri kuat dan andal. Dalam hal ini, dibutuhkan latihan untuk mencerdaskan emosional. Emosi yang cerdas membuat diri sadar, terkelola, termotivasi, terhubung kepada kekuatan alam semesta dan ilahi, terhubung kepada kekuatan sosial dengan positif.

Integritas memiliki kekuatan memotivasi diri untuk menjalani hidup dari dalam diri. Mengenali diri sendiri adalah bijak. Mengenali pola pikir, emosi, kekuatan fisik, suara hati, keinginan, gaya hidup, kebutuhan, kebiasaan, tantangan. Semua yang bisa dikenali dari diri sendiri pasti menjadikan diri hebat. Orang bijak menjadikan dirinya sendiri sebagai kitab yang harus dipelajari dan disempurnakan. Setelahnya, baru mencoba mempelajari kitab alam semesta, dan dunia lain dari luar dirinya.

Integritas merupakan dasar untuk menghasilkan energi keberanian yang murni di dalam diri. Keberanian itu sendiri merupakan sebuah kekuatan, yang bisa mengantar seseorang untuk menemui impian dan harapannya. Keberanian adalah kekuatan yang menjadikan seseorang mampu mewujudkan apapun yang sudah ia rencanakan dan visi kan. Integritas menjadikan seseorang memandang kehidupan dengan mata hatinya yang jujur, benar, berakal sehat, lembut, tenang, sabar, beretika, bertatakrama, serta menafsirkan segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman secara bijak.

Integritas mendorong seseorang untuk membangun komitmen dan keikhlasan dalam bekerja. Komitmen haruslah menjadi identitas diri. Komitmen yang terjaga di dalam integritas akan mengekspresikan jati diri yang penuh tanggung jawab. Komitmen merupakan cara memberitahu orang lain, bahwa Anda bertanggung jawab untuk mewujudkan semua janji dan rencana dengan tepat waktu. Hati yang ikhlas berarti tanpa pamrih, dan memiliki keyakinan yang kuat untuk memegang teguh terhadap komitmennya.

Komitmen dan keikhlasan menjadikan diri kuat dan konsisten. Setiap kesulitan menjadi stimulus untuk mencapai kemenangan. Komitmen dan keikhlasan menjadikan diri tidak pernah menyerah. Menjadikan diri tidak pernah mengkhawatirkan. Seburuk apapun sebuah realitas dapat diubah menjadi lebih baik. Ketenangan, kesabaran, kejernihan pikiran, ketahanan emosi, dan sikap rendah hati, selalu dimiliki untuk mencapai kemenangan. Komitmen dan keikhlasan menjadikan diri kuat dalam mewujudkan tanggung jawab. Dalam hal ini, diri tidak akan memperlihatkan kelemahan, diri hanya akan memperlihatkan kekuatan dan keberanian. Diri selalu miliki iman di dalam keikhlasan dan komitmennya terhadap pekerjaan yang harus dipertanggung jawabkan.

Integritas mendorong diri untuk membangun nilai-nilai kepemimpinan di dalam diri. Integritas menjadikan diri sebagai pemimpin yang memimpin jati dirinya dengan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai pilihan, sikap-sikap positif, emosi yang cerdas, dan mindset yang berbudaya, diperlukan untuk membentuk pemimpin yang hebat di dalam diri. Pemimpin adalah manusia.  Manusia  yang paling kasihan adalah dia yang hatinya belum dihidupkan, dan hanya hidup dari pergerakan pikiran dan emosi. Setinggi apapun ilmu seseorang pemimpin, setinggi apapun jabatan dan gelar seorang pemimpin, dia tidak mungkin menjadi cerdas bila hatinya tidak dihidupkan. Pemimpin yang paling beruntung adalah dia yang sudah menghidupkan hatinya, dia yang sudah cerdas mendengarkan kata hatinya, dia yang sangat mampu melihat dengan mata hatinya. Intinya, integritas hanya terwujud ketika hati dihidupkan, suara hati didengarkan, dan mata hati digunakan untuk melihat realitas.

Integritas mendorong diri untuk membangun kesadaran di dalam diri, kemudian secara terus-menerus, secara berkelanjutan, memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan. Menjalankan integritas butuh kesadaran bahwa manusia bukan malaikat. Manusia adalah kombinasi dari baik dan tidak baik, dari damai dan tidak damai, dari gelap dan terang, dari cinta dan benci, dari jujur dan tidak jujur. Manusia memiliki ancaman terhadap kepribadiannya oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk merawat dan menjaga suasana hati yang baik dan penuh integritas, pikiran baik yang penuh integritas, dan tindakan-tindakan baik yang penuh integritas. Manusia tidak bisa melepaskan dirinya secara bebas untuk mengikuti egonya. Manusia wajib mengelola dirinya, wajib mengelola hidupnya, dan wajib mengelola prilakunya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

“Manusia memiliki ancaman terhadap kepribadiannya oleh dirinya sendiri. Manusia tidak bisa melepaskan dirinya secara bebas untuk mengikuti egonya. Manusia wajib mengelola dirinya, wajib mengelola hidupnya, dan wajib mengelola prilakunya.”~Djajendra