FREKUENSI YANG TEPAT SAAT BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG LAIN

“Sebelum berbicara pilihlah kata-kata yang baik, jangan asal berkata-kata, apalagi suka berkata-kata negatif. Ucapan negatif dan pilihan kata-kata negatif, akan merugikan Anda, tidak akan merugikan yang mendengarkan Anda.”~Djajendra

Komunikasi yang baik menyatukan dan menghindarkan dari konflik. Kegagalan komunikasi dapat mengundang bahaya, mengubah damai menjadi bencana. Komunikasi dengan kata-kata dan perilaku, yang penuh integritas dan profesionalitas, akan menjadikan hubungan semakin harmonis dan berkualitas.

Jadilah pribadi yang dilihat, didengar, dan dirasakan secara positif oleh orang lain. Pilihlah kata-kata dan sikap, yang penuh empati pada saat terhubung dengan orang lain. Kuasai emosi positif, miliki toleransi, tajamkan batin untuk melihat isi hati, atau maunya orang lain. Temukan frekuensi diri yang tepat saat berkomunikasi dengan orang lain. Bila Anda dan dia berada dalam frekuensi yang sama saat berkomunikasi, maka komunikasi tersebut akan menghasilkan hal-hal yang hebat dan indah.

Jangan peduli apa yang orang pikirkan tentang Anda. Fokuskan perhatian untuk menyampaikan pesan yang ingin Anda sampaikan. Jangan peduli apa reaksi atau respon orang lain. Fokuskan empati, toleransi, dan pilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pesan.

Dalam komunikasi, orang-orang dapat memancarkan energi baik dan energi tidak baik. Energi baik dan energi tidak baik dapat terhubung, untuk sebuah kepentingan bersama. Biasanya, bila tidak ada kesepakatan, konflik menjadi tembok yang semakin memisahkan. Seorang komunikator yang cerdas dan berempati, pasti memiliki energi positif, sehingga dia bisa menjadi magnet yang menarik energi lain, untuk menyatu dengannya agar solusi terbaik dapat dihasilkan.

Bila setiap orang memiliki empati dalam sebuah komunikasi, maka rasa kebersamaan dapat memudahkan titik temu, sehingga mereka dapat merasakan kesenangan dan kebahagiaan di sebuah titik temu, yang menguntungkan kepentingan masing-masing.

Ketika semua orang datang dengan pilihan masing-masing, maka dibutuhkan persamaan persesi dan sikap saling menghormati. Bila pilihan masing-masing tidak terpenuhi, kemarahan akan merusak komunikasi. Bila komunikasi sudah dengan rasa marah, maka sulit untuk mencapai kesepakatan, dan tidak mudah mempertahankan kontrol komunikasi di dalam satu persepsi. Hasilnya, konflik akan merusak hubungan yang tersisa.

Komunikasi adalah modal terkuat untuk menyatukan dan memperbaiki. Sebuah hubungan yang rusak, dapat diperbaiki melalui komunikasi yang saling menghormati.

Ego dan emosi negatif merusak komunikasi. Ego akan ngotot menjaga kepentingan diri sendiri. Demikian juga dengan emosi negatif, yang akan mengeluarkan berbagai pikiran dan perasaan negatif, untuk merusak komunikasi.

Komunikator yang hebat sadar bahwa komunikasi yang baik, selalu dalam frekuensi yang tepat, sehingga semua orang mudah terhubung, dan bisa saling bertukar informasi. Mereka mampu meningkatkan kekuatan pribadi dan profesionalitas, untuk mendapatkan solusi. Mereka cerdas menyatukan frekuensi batinnya, untuk dapat menerima pesan dan merespon dengan empati.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com