ETIKA ADALAH TENTANG STAKEHOLDER

“Jika tidak mengambil peran aktif untuk memperbaiki hubungan berkualitas dan etis dengan stakeholder, maka urusan bisnis selalu menjadi bagian dari masalah, yang menghambat pencapaian kesepakatan bisnis yang etis.”~Djajendra

Situasi etika sangatlah dinamis, dan selalu melampaui aturan-aturan yang sudah dimiliki. Perilaku dan keputusan etis membutuhkan pemahaman dengan wawasan yang lebih mendalam, supaya dapat melayani stakeholder dengan lebih baik.

Etika sangat tergantung pada realitas stakeholder, baik realitas perilaku, cara berpikir, dan juga realitas keputusan yang dibuat stakeholder. Jadi, tidak ada kekuatan ‘saya’ dalam menjalankan etika bisnis, yang ada hanyalah kekuatan stakeholder. Kesadaran untuk terus-menerus mengembangkan panduan etika bisnis perusahaan dan kode etik perilaku, merupakan jalan terbaik untuk menciptakan fleksibilitas hubungan dengan stakeholder.

Sangat banyak krisis dan kegagalan bisnis disebabkan oleh tidak patuhnya insan perusahaan pada etika bisnis. Mereka tidak mampu mengikuti sifat asli bisnis yang sangat dinamis, sehingga etika bisnis diabaikan untuk mendapatkan kesepakatan bisnis. Seharusnya perilaku etis menjadi alat untuk menemukan kesepakatan bisnis yang baik. Sifat asli bisnis yang kreatif dan dinamis tersebut, haruslah dijawab dengan memperbaiki panduan etika bisnis perusahaan. Hal terpenting, perusahaan harus mampu mendefinisikan perilaku etis yang tepat, untuk melayani sifat asli bisnis yang kreatif dan dinamis. Dan juga, mampu memasukkan perilaku etis ke dalam aturan-aturan perusahaan, sehingga insan perusahaan dapat menjadikannya sebagai kebiasaan dalam rutinitas kerja.

Etika bisnis selalu menghadapi tantangan dari berbagai kepentingan dan niat tersembunyi. Diperlukan kesadaran untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan situasi etis, tidak membiarkan kepentingan dan niat tersembunyi menjadi bagian dari masalah. Pemahaman bersama bahwa etika bisnis merupakan inti dari penyehatan dan penguatan kualitas perusahaan, haruslah menjadi komitmen antara stakeholder.

Pada dasarnya setiap stakeholder ingin melakukan bisnis secara etis, tetapi mereka tidak memiliki keterampilan mencerdaskan hati nurani, untuk menciptakan perilaku etis. Kekuasaan pikiran mengalahkan hati nurani, sehingga ego benar-benar menjadi sangat ambisius dan menentukan. Dalam kondisi ini, keyakinan etis akan memudar, dan kepercayaan diri untuk bertindak secara etis juga akan menjadi ragu-ragu, sehingga mereka menjadi tidak yakin untuk membuat keputusan bisnis dengan cara-cara etis.

Walaupun etika diatur secara normatif, tetapi situasi etika dalam praktik selalu menuntut etika yang pragmatis, khususnya ketika etika diperlukan dalam mengatasi masalah sulit, ataupun dalam menciptakan kesepakatan etis sesuai realitas bisnis yang dinamis.

Isu-isu etika haruslah mampu dihadapi dan ditemukan solusi dengan langkah-langkah praktis. Tidak boleh menjadikan etika sebagai sesuatu yang hitam dan putih, tetapi mampu memberinya berbagai warna baru, sehingga sesulit apapun sebuah hubungan dengan stakeholder masih bisa diwarnai dengan warna-warna yang disukai secara bersama.

Etika adalah tentang stakeholder. Kesepakatan etis hanya ada ketika setiap bagian dari stakeholder memiliki persepsi yang sama, memiliki tindakan yang sama, untuk secara bersama-sama menjalankan bisnis yang etis dan profesional.

Bisnis adalah tentang mencari keuntungan dan pengembangan potensi bisnis. Kemampuan untuk berubah dalam proses mencari kesepakatan bisnis yang etis, serta tidak ngotot dengan pola pikir sendiri tentang maksud etika, adalah hal baik yang menjadikan para stakeholder saling menguatkan hubungan bisnisnya.

Untuk training hubungi http://www.djajendra-motivator.com