ORANG-ORANG ETIS BERPOTENSI BERTINDAK TIDAK ETIS

ORANG-ORANG ETIS BERPOTENSI BERTINDAK TIDAK ETIS

“Panduan etika bisnis perusahaan haruslah sepenuhnya kompatibel dalam realitas, dan tidak hanya hebat di atas kertas.”~Djajendra

Orang-orang yang paling etis dan paling jujur pun berpotensi membuat keputusan etis yang buruk. Secara normatif, etika bisnis terlihat mudah untuk dijalankan, tetapi secara realitas tidaklah demikian. Sangat banyak persyaratan yang diperlukan agar kualitas diri seseorang bisa menjalankan kode etik perusahaan. Diperlukan kepribadian yang rendah hati, akuntable, penuh integritas, cerdas emosi, dan selalu menghitung risiko sebelum membuat keputusan etis, menjadi syarat minimal untuk membuat keputusan etis yang baik.

Sifat, sikap, perilaku, dan kebiasaan yang memudahkan atau menganggap remeh hal-hal kecil dapat mengundang risiko yang tidak diinginkan, sehingga berpotensi menghasilkan hal-hal yang tidak etis.

Percaya diri yang berlebihan, terlalu ambisius, tidak memahami atau tidak peduli pada kompleksitas isu, dan keputusan untuk membiarkan struktur tata kelola perusahaan lemah, atau tanpa manajemen pengawasan yang kuat, adalah kondisi yang menjadikan perusahaan sulit menjalankan etika bisnis.

Implementasi etika bisnis membutuhkan kepatuhan tingkat tinggi. Disiplin yang tinggi untuk mewujudkan akuntabilitas, integritas, transparansi, dan menjadi lebih rasional dalam mempertimbangkan berbagai potensi risiko, akan memudahkan pelaksanaan etika bisnis.

Meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap sikap dan perilaku etis, akan mengarahkan perusahaan untuk menjalankan etika bisnis dengan berkualitas. Manajemen pengawasan yang baik mampu menciptakan sistem, supaya orang-orang menolak atau melawan setiap permintaan untuk bertindak tidak etis.

Karyawan yang penuh integritas dan kaya dengan kompetensi pasti mengenali permintaan tidak etis. Mereka selalu menjadikan pedoman etika perusahaan sebagai acuan, untuk memastikan apa saja perilaku yang dapat diterima, dan apa saja perilaku yang tidak dapat diterima. Mereka juga selalu melakukan penelitian dan pemetaan persoalan sebelum membuat sikap atau keputusan. Mereka rajin mencari tahu dan meminta bantuan dari bagian legal atau biro hukum perusahaan, untuk memastikan tidak ada pelanggaran hukum atau etika dari keputusan yang akan diambil. Intinya, karyawan yang berintegritas tinggi selalu membuat keputusan etis dengan prinsip kehati-hatian, dan tidak mau berspekulasi terhadap sebuah permintaan yang tidak jelas.

Karyawan dengan integritas yang tinggi tidak ragu atau takut untuk secara konsisten menjalankan kode etik perusahaan, walaupun dirinya harus bekerja dan melayani bos yang berperilaku tidak etis. Mereka tidak akan tergoda untuk mengikuti maunya bos, mereka tetap profesional dan konsisten dengan perilaku etis yang sudah diatur di dalam kode etis perusahaan, maupun dalam perilaku utama insan perusahaan. Apapun sikap dan tindakan bos yang tidak etis ini, mereka tetap memimpin dirinya dengan penuh integritas dalam menjalankan perilaku etis di tempat kerja.

Kode etik perusahaan haruslah dikomunikasikan sesering mungkin, dan juga memberikan pencerahan untuk meningkatkan keyakinan masing-masing pihak, dalam mewujudkan organisasi yang etis dan unggul.

Kode etik perusahaan harus menjadi alat atau senjata yang melindungi perusahaan, karyawan, pimpinan, dan pemangku kepentingan yang lainnya agar terhindar dari hal-hal yang melanggar hukum atau ilegal. Kode etik perusahaan juga harus menjadi alat yang dimiliki karyawan, untuk menolak tekanan atau paksaan melakukan tindakan tidak etis atau ilegal.

Perusahaan yang peduli pada implementasi etika bisnis pasti menyiapkan sistem untuk menghukum perilaku dan tindakan tidak etis. Setiap insan perusahaan di dalam budaya organisasi yang etis harus disadarkan tentang konsekuensi dari perilaku tidak etis.

Menjadi insan perusahaan yang etis bukan sekedar cerdas melakukan hal-hal baik dan benar, tetapi juga dengan penuh rasa tanggung jawab mau melakukan perbaikan, ketika ada sesuatu yang salah di dalam mewujudkan organisasi yang etis.

Manajemen yang baik selalu fokus untuk menciptakan program kepatuhan etika di semua tingkatan organisasi. Dan juga, secara konsisten dan berkelanjutan melakukan pengembangan budaya organisasi yang mendorong perilaku etis, kemudian mendorong komitmen setiap insan organisasi, untuk mematuhi semua ketentuan dan kebijakan yang ada di dalam kode etik perusahaan. Manajemen yang baik sadar bahwa kepatuhan kepada etika bisnis dapat mencegah dan mendeteksi tindak pidana, atau pelanggaran-pelanggaran yang merugikan reputasi perusahaan.

Panduan etika bisnis perusahaan haruslah sepenuhnya kompatibel dalam realitas, dan tidak hanya hebat di atas kertas. Perusahaan harus cerdas mendefinisikan standar perilaku etis dalam realitas sehari-hari. Setiap insan perusahaan dibuat mengerti cara berperilaku dan karakter perilaku etis yang diinginkan oleh perusahaan. Perusahaan harus bisa menciptakan visualisasi perilaku etis, untuk mencegah perbuatan tidak etis dan memajukan perbuatan etis. Jadi, etika bisnis tidak hanya tertulis dalam sebuah panduan resmi perusahaan, tetapi harus terinternalisasi ke dalam hati nurani insan perusahaan, sehingga walaupun pikiran tergoda dengan berbagai realitas kehidupan, hati nurani masih bisa menjadi alat pengendali etis yang sempurna.

Kuatkan sistem komunikasi di internal perusahaan. Sistem komunikasi yang mempertemukan setiap elemen perusahaan, untuk menjalankan program kepatuhan etika, akan menjadikan setiap orang berada dalam satu frekuensi etika perusahaan.

Integritas lebih kuat dibandingkan program kepatuhan, tetapi berharap integritas dari setiap orang bukanlah sesuatu yang mudah. Integritas mampu menjadikan kesadaran moral menguat dan perilaku etis meningkat. Kuatkan program peningkatan integritas karyawan secara berkelanjutan. Bila integritas menjadi budaya kerja praktis sehari-hari, maka perilaku etis tumbuh dan membangun reputasi perusahaan.

Untuk training hubungi http://www.djajendra-motivator.com