MORAL HAZARD MELEMAHKAN AKUNTABILITAS DAN MENURUNKAN DAYA SAING

“Moral hazard tidak hanya cukup dijaga dengan fakta integritas, tetapi juga diperlukan fakta akuntabilitas agar setiap individu mampu mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang dipikirkan, diperbuat, dikatakan, atau dirasakan dengan profesional dan etis.”~Djajendra

Moral hazard atau bahaya dari perilaku tidak bermoral sangatlah mengancam kemajuan usaha dan organisasi. Moral hazard secara perlahan-lahan akan mematikan responsibility dan akuntabilitas di tempat kerja. Dampaknya, produktivitas dan kinerja akan turun secara terus-menerus, dan menjadikan perusahaan tidak berdaya untuk selamanya.

Bila pimpinan perusahaan mengabaikan moral hazard di tempat kerja; maka dia akan memanen kerusakan perilaku, kerusakan karakter kerja, kerusakan etos kerja, kerusakan sikap profesional, kerusakan pola pikir positif, dan kerusakan untuk bertindak sesuai prosedur. Akibatnya, orang-orang di perusahaan akan menjadi sesuka hatinya dan sering menciptakan konflik yang menyulitkan pencapaian kinerja.

Moral hazard menciptakan kondisi kerja yang tidak aman, perilaku kerja yang berisiko tinggi, serta proses kerja yang mengabaikan sistem dan tata kelola. Moral hazard dapat menyebabkan kerusakan organisasi di semua dimensi, termasuk risiko terhadap keselamatan kerja. Diperlukan kesadaran untuk mentaati etika kerja, etika bisnis, etika perilaku di tempat kerja. Dan, diperlukan kepemimpinan yang berkualitas agar moral hazard dapat dihapuskan dari kehidupan kerja sehari-hari. Menganggap kecil persoalan moral hazard sama saja dengan membiarkan tumbuhnya bahaya pemicu untuk meruntuhkan perusahaan.

Moral hazard adalah akar untuk menciptakan berbagai bahaya atau hazard yang lain di tempat kerja. Seperti, hazard perilaku, hazard keselamatan kerja, hazard dalam mengawasi dan mengelola bahan baku kimia atau biologi di tempat kerja, dan berbagai macam hazard lainnya yang berpotensi mengundang kerugian untuk perusahaan dan stakeholders.

Secara normatif, etika adalah alat untuk mendidik moral dan perilaku agar tidak menjadi hazard atau bahaya. Perusahaan dan instansi yang berkualitas pasti membuat panduan etika untuk dipatuhi oleh setiap individu di tempat kerja. Panduan etika biasanya dikuatkan dengan fakta integritas, dan juga fakta akuntabilitas agar setiap individu di tempat kerja mampu mempertanggung jawabkan segala sesuatu dengan profesional dan etis.

Ketegasan untuk menginternalisasikan nilai-nilai etika ke dalam karakter, sikap, perilaku, mind set, dan kompetensi individu sangatlah membantu perusahaan untuk menghindarkan berbagai risiko yang ditimbulkan oleh moral hazard.

Bila benih moral hazard sudah muncul di tempat kerja, maka kepemimpinan dan manajemen harus segera melakukan intervensi cepat dengan nilai-nilai positif. Minta umpan balik dari sumber daya manusia tentang sebab-akibat yang memunculkan benih moral hazard di tempat kerja. Berikan segera pengetahuan praktis untuk menghilangkan benih moral hazard tersebut. Tingkatkan kesadaran dan lakukan penelitihan secara mendalam agar memahami dari mana munculnya benih moral hazard tersebut. Bantu setiap individu untuk menyatu di dalam kebaikan. Berikan nilai-nilai positif dan jelaskan tentang dampak moral hazard untuk keselamatan perusahaan dan masing-masing individu di tempat kerja.

Moral hazard melemahkan akuntabilitas dan daya saing. Ketika orang-orang menjadi tidak bermoral dan tidak etis; mereka pasti tidak memiliki hati untuk mempertanggungjawabkan semua ucapan, perbuatan, pikiran, perasaan, dan pekerjaan. Pada akhirnya, mereka menjadi energi negatif yang menghadirkan bahaya atau risiko di tempat kerja; sehingga pola kerja mereka menurunkan kinerja, merusak reputasi, dan menghilangkan kredibilitas.

Semakin tinggi kualitas moral seseorang, semakin hebat kualitas baiknya untuk membantu keselamatan dan keamanan di setiap proses pencapaian kinerja. Orang-orang bermoral baik adalah energi positif yang selalu optimis, serta selalu memiliki empati yang tinggi untuk mempertanggung jawabkan pekerjaannya dengan sepenuh hati dan totalitas.

Bila moral hazard bisa dihilangkan dengan sistem dan tata kelola yang baik, maka organisasi secara otomatis menguat dan menjadi unggul. Dan, keselamatan sumber daya manusia dan aset perusahaan terkelola dengan baik, termasuk setiap individu akan menunjukkan peran kerjanya dengan penuh tanggung jawab dan berkualitas. Moral yang baik pastinya memudahkan semua investigasi insiden yang merugikan, memudahkan manajemen kasus atau persoalan, serta memudahkan komunikasi dengan semua pihak untuk menegakkan keadilan dan kebaikan.

Untuk training hubungi http://www.djajendra-motivator.com