ORGANISASI TIM LEBIH TANGKAS DIBANDINGKAN ORGANISASI HIERARKIS

DJAI

“Tim penghasil kinerja terbaik merupakan kekuatan kolektif dari energi positif individu. Dalam hal ini, tim memiliki jati diri yang otentik untuk membangun dan merawat kepercayaan antar satu sama lain, sehingga semua orang di dalam tim bekerja untuk kinerja dan keunggulan.”~ Djajendra

Perusahaan-perusahaan terbaik selalu memperkuat pondasinya dengan pola kerja tim. Semangat untuk peningkatan kinerja kerja tim, peningkatan kedisiplinan dan kepatuhan pada etika, serta menumbuhkan jiwa wirausaha pada perilaku kerja karyawan telah menjadi sebuah tren.

Sekarang ini, pola kerja hierarkis yang kuat dengan birokrasi mulai diratakan dengan pola kerja tim. Kesadaran untuk membalikkan piramida organisasi, sehingga semua kekuatan di akar rumput organisasi dikuatkan di dalam budaya kerja tim yang solid.

Tim penghasil kinerja terbaik merupakan kekuatan kolektif dari energi positif individu. Tim yang unggul memiliki jati diri yang otentik, untuk membangun dan merawat kepercayaan antar satu sama lain, sehingga perhatian semua orang di dalam tim, bekerja untuk kinerja dan keunggulan.  

Konsep kerja tim tidak terbatas di internal perusahaan, juga meluas ke wilayah pemangku kepentingan. Biasanya, pemimpin yang sukses memiliki struktur untuk merangkul semua kekuatan di dalam dan di luar organisasi sebagai sebuah tim kerja pendukung yang bergerak cepat, lincah, dan penuh disiplin.  Dalam hal ini, seluruh pihak dari wilayah stakeholders, seperti: karyawan, pemilik, pemasok, pelanggan, bank, agen, distributor, konsultan, dan semua stakeholders yang lainnya, dimasukkan ke dalam tim pendukung. Selanjutnya, tim pendukung ini dibuatkan sistem agar dapat terhubung secara efektif dan produktif.  Jadi, bila potensi internal dan eksternal dapat terhubung dengan berkualitas dan produktif, maka perusahaan pasti menghasilkan kinerja terbaik, dan selalu unggul dalam kompetisi pasar.

Pola kerja tim pastinya akan menggusur pola kerja birokrasi hierarkis tradisional. Seperti kita ketahui, dalam pola kerja birokrasi tradisional, semua karyawan wajib menunggu perintah dari atasan untuk bisa bertindak, dan semua pihak harus patuh pada  hierarki perusahaan. Jelas, hal ini akan memperlambat gerak organisasi untuk bersaing di pasar, dan juga perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan dari kekayaan potensi kreatif sumber daya manusianya. Dalam struktur kerja birokrasi tradisional, karyawan hanya akan bekerja untuk menyenangkan bosnya. Di sini, mindset karyawan terfokus pada upaya untuk melayani dan menyenangkan bos. Sebab, dipikiran mereka, bila bos senang, maka pekerjaan mereka sukses, dan kinerja mereka sudah hebat. Intinya, dalam manajemen hierarki, karyawan akan berjuang untuk menyenangkan bosnya, dan tidak terlalu peduli dengan pelanggan, rekan kerja, bawahan, ataupun pemangku kepentingan lain yang tidak mempengaruhi kinerjanya.

Dunia bisnis sedang berubah. Sejak abad ke tujuh belas gaya manajemen hierarki merupakan sesuatu yang dianggap paling benar. Struktur organisasi yang terkendali ketat dari puncak organisasi sudah menjadi kebiasaan kerja ratusan tahun, sehingga bila hierarki dihilangkan semua orang akan merasa seperti kehilangan tempat berlindung.  Sampai hari ini, masih sangat banyak perusahaan yang menjalankan manajemennya dengan birokrasi hierarkis tradisional, hanya perusahaan-perusahaan multinasional yang sudah bergerak lincah dan gesit bersama tim kerja yang kreatif dan kaya visi.

Perusahaan-perusahaan multinasional yang progresif dan inovatif  sangat tegas dan jelas mengoperasionalkan konsep kerja tim. Mereka sangat berkomitmen untuk membangun dan memelihara tim kerja yang kaya visi, kreatif, berkualitas, dinamis, penuh disiplin, dan selalu terdorong untuk menjadi yang terbaik di kompetisi bisnis.  Mereka mampu mendatarkan hierarki perusahaan, sehingga walaupun struktur formal masih terlihat seperti struktur tradisional, tetapi dalam pola kerja, mereka sudah sangat kolaboratif dan terkoordinasi di dalam keharmonisan tim.

Perusahaan-perusahaan dengan manajemen modern menempatkan karyawan sebagai aset terpenting. Supaya aset ini bisa tumbuh dan berkembang, dibuatlah sebuah zona nilai dalam organisasi. Karyawan dan nilai-nilai perusahaan dileburkan menjadi energi penggerak sistem, proses, prosedur, dan rutinitas organisasi.  Walaupun manusia sulit untuk selalu konsisten, tetapi nilai pastilah selalu konsisten. Jadi, peleburan karyawan dan nilai-nilai menjadi sebuah energi, bertujuan untuk menghasilkan sikap dan perilaku kerja yang konsisten, dan juga bertujuan memberikan warna unik pada karakter kerja perusahaan.

Organisasi tim lebih tangkas dibandingkan organisasi hierarkis. Organisasi tim hidup dalam zona nilai; dalam wilayah budaya organisasi yang kuat;  dalam tim kerja puncak yang selalu solid bersama nilai-nilai, prinsip, dan perilaku yang tegas untuk koordinasi tim.

Dalam zona nilai, setiap anggota tim; secara rutin membahas dan mendiskusikan tentang cara mengoperasionalkan nilai-nilai, prinsip, norma, dan karakter kerja untuk menghasilkan kinerja terbaik mereka. Dalam hal ini, mereka sebagai tim yang solid sangat sadar untuk menjadikan nilai-nilai sebagai pondasi kerja tim. Semua orang membahas dan menyepakati untuk bekerja berdasarkan nilai-nilai, seperti: integritas, kualitas, etika, akuntabilitas, keterbukaan, tepat waktu, profesionalisme, disiplin, kepatuhan, kolaborasi, koordinasi, menyelesaikan tugas, dan nilai-nilai yang lainnya.

Dalam kehidupan bisnis yang sangat inovatif  diperlukan manajemen kerja tim. Semua orang di dalam perusahaan harus bergerak sebagai sebuah tim kerja yang solid. Semua orang harus menjadi aset perusahaan untuk menghasilkan inovasi produk dan layanan agar dapat memenangkan pasar yang sangat kompetitif.  

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com