BUDAYA PERUSAHAAN HARUSLAH DIBANGUN SECARA PROFESIONAL

DJ876

“Dalam jiwa setiap perusahaan tersimpan gen yang merekam sejarahnya, semangatnya, pengetahuannya, nilai-nilainya, dan cara mencapai tujuannya.”~ Djajendra

Saat sebuah perusahaan baru didirikan, budaya perusahaan akan langsung muncul secara otomatis dari pola perilaku orang-orang yang paling dominan. Budaya perusahaan tidak akan menunggu aturan, sistem, prosedur, nilai, pernyataan visi, misi, dan lain sebagainya; dia akan langsung muncul dari energi orang-orang yang paling berkuasa atau dominan. 

Budaya sangat tergantung pada moral dan kualitas perilaku. Bila budaya membawa isi moral dan kualitas perilaku yang buruk, maka budaya tersebut akan membuat lingkungan kerja menjadi kurang produktif dan stres tinggi. Dan sebaliknya, bila budaya membawa isi moral dan kualitas perilaku yang baik, maka lingkungan kerja akan menjadi sangat produktif dan harmonis.

Pola perilaku di dalam perusahaan tidak boleh asal-asalan. Sebab, pola perilaku yang asal-asalan, akan menghasilkan budaya perusahaan yang asal-asalan. Dampaknya, lingkungan kerja akan menciptakan suasana kerja yang tidak bersahabat, serta sikap dan perilaku kerja yang kurang profesional.

Dalam realitas, sering sekali ditemukan perusahaan yang dioperasionalkan oleh kekuatan dominan dari para pendiri. Energi dominan para pendiri akan melahirkan budaya perusahaan sesuai dengan mindset, emosi, kata, ucapan, pikiran, dan ambisi pribadi. Karena sikap dan perilaku tidak mudah menjadi konsisten, maka budaya perusahaan dari energi dominan ini, berpotensi membuat lingkungan kerja kehilangan profesionalisme. Di sini, perilaku kerja karyawan akan terpengaruh oleh perilaku pendiri atau pemimpin mereka.

Walaupun budaya perusahaan itu merupakan perilaku yang mengekspresikan kepribadian kerja, dan sangat normal bila dari dalam diri para pendiri dilahirkan budaya perusahaan yang unik dan kuat. Tetapi, keberadaan sebuah perusahaan pastinya tidak untuk para pendiri saja. Sangat banyak pemangku kepentingan yang hidup di sekitar perusahaan tersebut. Oleh karena itu, budaya perusahaan haruslah dibangun secara profesional, sadar akan keberadaan pemangku kepentingan, dan tidak membatasinya sebatas energi dominan seseorang atau sekelompok orang.

Budaya perusahaan adalah alat bantu untuk setiap insan perusahaan agar dapat menjalani kehidupan di tempat kerja dengan profesional dan penuh integritas. Jadi, budaya akan menyerap kompleksitas kehidupan kerja, dan menjadikannya sebagai pola kehidupan kerja, untuk menciptakan kebiasaan kerja dengan  cara-cara profesional dan etis. Dalam hal ini, budaya perusahaan yang kuat akan menghasilkan pengetahuan pola kerja, kepercayaan, seni komunikasi dan pengambilan keputusan, patuh hukum, patuh moral, patuh rutinitas, patuh tradisi perusahaan, patuh untuk menjalankan tata kelola yang sehat, norma, prinsip, dan nilai-nilai inti dengan sepenuh hati.

Budaya perusahaan yang kuat akan menjadi alat untuk meningkatkan daya saing bisnis. Untuk itu, perusahaan secara profesional wajib memiliki visi yang jelas dan sederhana, sehingga semua orang memahaminya dengan baik; menciptakan karakter kerja dari nilai-nilai dan keyakinan perusahaan; memiliki asumsi yang mendasari rencana bisnis, serta fokus pada tujuan; menjadikan pengalaman sebagai dasar untuk perbaikan; melakukan pendidikan dan pelatihan secara rutin dan berkelanjutan; serta membangun kebiasaan dan tradisi yang membuat semua orang merasa satu dalam kesatuan emosi dan pikiran positif.

Semakin mampu perusahaan untuk membangun budaya organisasi yang kuat dan unggul, semakin kuat ikatan kolaborasi untuk saling berkontribusi dan melayani. Intinya, budaya yang kuat akan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan optimis. Jadi, kesadaran untuk membangun budaya perusahaan yang kuat, akan menghasilkan lingkungan kerja yang menguatkan semangat dan motivasi karyawan di sepanjang waktu.

Budaya perusahaan haruslah dibangun dan dikembangkan secara berkelanjutan agar dapat menjalankan operasional perusahaan secara profesional. Membiarkan perilaku dominan yang kuat dengan selera pribadi, akan menjadikan operasional perusahaan acak-acakan, termasuk akan menjadi penghambat pencapaian kinerja terbaik.

Dalam jiwa setiap perusahaan tersimpan gen yang merekam sejarahnya, semangatnya, pengetahuannya, nilai-nilainya, dan cara mencapai tujuannya. Gen tersebut haruslah diperkuat dengan energi positif agar perubahan tidak mematikan gen tersebut. Oleh karena itu, walaupun perusahaan sudah mewarisi budaya dari gen nya, tetapi sangatlah perlu untuk memberi ruang yang memudahkan perubahan dan perbaikan.

Budaya perusahaan haruslah mengekspresikan budaya universal, yang memungkinkan keragaman dan perbedaan hidup dalam satu ruang secara harmonis dan optimis. Dalam hal ini, pola perilaku kerja yang dimiliki oleh semua insan perusahaan sifatnya kolektif. Tidak peduli latar belakang atau dari budaya mana para karyawan berasal. Yang terpenting, setiap insan perusahaan berbagi sifat-sifat universal dan membentuk perilaku kerja dari sifat-sifat universal yang saling menyatu di dalam kolaborasi, komunikasi, koordinasi, kontribusi, dan melayani dengan hati.

Budaya adalah alat yang membentuk suasana kerja dan cara orang-orang untuk menikmati pekerjaannya dengan sepenuh hati. Kenikmatan bekerja dalam hubungan kerja dan proses kerja, akan meningkatkan moral dan menguatkan etos kerja. Walaupun selalu dikatakan bahwa budaya tidak bisa dilihat secara fisik. Tetapi, saat kesadaran dan pikiran terbuka untuk mencintai nilai-nilai perusahaan, saat itu akan muncul cahaya terang untuk menerangi jiwa setiap insan perusahaan, untuk melihat wujud asli dari budaya perusahaannya.

Kebudayaan perusahaan haruslah diciptakan dan ditularkan kepada setiap insan perusahaan, termasuk kepada semua pemangku kepentingan. Walau pola perilaku dan pola pikir dari orang-orang dominan, dan para pendiri mampu menciptakan budaya otomatis. Tetapi, budaya bukanlah produk otomatis dari maunya seseorang atau sekelompok orang. Budaya itu produk yang hidup; produk yang memiliki energi untuk terus berkembang dari pengalaman, wawasan, interaksi, pengetahuan, perubahan, kreativitas, kesadaran, dan kebutuhan. Jadi, budaya perusahaan harus dibuat hidup dan tumbuh berkembang untuk menjadi semakin kuat dan unggul, sehingga mampu menjadi ruang interaksi bisnis yang meningkatkan kinerja dan membahagiakan setiap insan di dalamnya.

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com