DIALOG ANTARA ETIKA DAN INTEGRITAS

“Bila Panca Indera Manusia Mau Berkompromi Dengan Integritas Dan Etika, Maka Keadilan Dan Kewajaran Akan Berdiri Dengan Berkualitas.” – Djajendra

Integritas: “Etika! Kamu sangat diperlukan untuk membuat orang-orang agar tidak saling menyakiti dan merugikan, tapi saya tidak melihat perjuanganmu untuk itu?”

Etika: “Mengapa kau berkata seperti itu padaku, bukankah dirimu yang harus melakukan interospeksi terhadap ketidakpedulian orang-orang kepada etika?”

Integritas: “Aku tidak paham maksudmu!”

Etika: “Dirimu adalah Integritas, kau adalah kepribadian yang diagungkan di sepanjang masa kehidupan manusia. Bila dirimu sudah menguasai kepribadian manusia, maka si manusia akan berpikir, bertindak, berperilaku, berucap, dan bersikap sesuai apa yang dia katakan dan pikirkan. Dia akan menjadi manusia yang sangat jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, dan semua ini hanya dirimu yang mampu melakukannya.”

Integritas: “Bukankah engkau ‘Etika’ yang sangat menguasai moralitas kehidupan manusia, sehingga manusia bisa membedahkan mana yang benar dan mana yang salah. Tanpa dirimu, manusia akan buta di sepanjang kehidupannya, mereka akan menjadi  makhluk yang tidak tahu apa itu benar dan apa itu salah. Lantas, mengapa kau bilang Aku yang sangat menentukan untuk membuat manusia menjadi baik dan jujur?”

Etika: “Hanya engkau sang Integritas yang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menyadarkan manusia. Hanya dirimulah yang mampu membujuk manusia untuk menjadi jujur, adil, tidak korupsi, dan berperilaku lebih manusiawi.”

Integritas: “Jujur, adil, tidak korupsi, dan berperilaku lebih manusiawi?”  “Bung Etika! Saya sudah lelah dan lelah untuk membujuk pikiran dan batin manusia agar mereka menjadi jujur, adil, tidak korupsi, dan berperilaku lebih manusiawi. Tapi, tahukah kamu bahwa manusia memiliki kekuatan panca indera; mereka bisa melihat, merasakan, meraba, mencium, dan mendengarkan semua yang ada di luar diri mereka. Aku Integritas, hanya mampu menguasai sisi dalam kepribadian manusia, tapi kau Etika sangat menentukan pengendalian sisi luar manusia. Jadi, please Etika, jangan salahkan aku terus.”

Etika: “Ohhh begitu yah! Aku tidak mampu mengendalikan sisi luar manusia, karena Keadilan dan Kewajaran tidak mau peduli pada kehidupan. Aku jadi sangat  lelah berurusan dengan Keadilan dan Kewajaran.”

Integritas: “Aku senang kamu akhirnya sadar, dan jangan salahkan aku lagi. Aku sudah berjuang habis-habisan, dan kamu juga sudah berjuang habis-habisan, kita berdua sudah bekerja keras untuk membuat manusia menjadi lebih berkualitas. Tapi, Keadilan dan Kewajaran sepertinya tidak peduli kepada kita berdua. Mereka lebih suka kehidupan manusia menjadi lebih komersial daripada lebih manusiawi dalam keseimbangan hidup.”

Etika: “ Maksudmu apa! Bilang Keadilan dan Kewajaran sudah sangat komersial?”

Integritas: “Kalau kamu merenung bersama kejujuran hati nurani mu, maka kamu pasti akan menemukan jawabannya.”

Etika: “?????????”

Untuk training hubungi www.djajendra-motivator.com

Iklan