MANAJER HARUS MEMANTAU KEHIDUPAN BATIN KARYAWAN UNTUK KINERJA OPTIMAL

“Persoalan Kehidupan Batin Seseorang Adalah Hal Yang Sangat Sensitif, Tapi Dalam Upaya Peningkatan Kinerja Organisasi Hal Ini Haruslah Bersikap Transparan Dan Terbuka.” – Djajendra

Secara umum, kepemimpinan dalam organisasi atau perusahaan selalu berpikir dan bersikap dengan sangat pragmatis tentang cara pencapaian kinerja. Sangat jarang ada manajer yang tertarik untuk mengelola dinamika pikiran, emosi, persepsi, gairah, dan motivasi karyawan di tempat kerja. Padahal, semua dinamika di atas tersebut sangat mempengaruhi kinerja organisasi. Realitas selalu menempatkan karyawan sebagai pekerja yang telah dibayar dan wajib melengkapi tugas dan tanggung jawab harian, di setiap hari kerja, sesuai format standar kerja perusahaan. Masalah kehidupan batin karyawan dianggap sebagai persoalan yang sangat pribadi, sehingga tidak etis untuk dicampuri. Persoalannya, saat karyawan dalam kehidupan batin yang buruk, mereka akan berkontribusi secara buruk untuk kinerja organisasi. Artinya, kehidupan batin karyawan yang buruk akan menjadi beban atau penghambat dalam pencapaian kinerja terbaik perusahaan.

Keberhasilan dalam mencapai kinerja terbaik perusahaan tidak hanya tergantung kepada kecerdasan, pengetahuan, keterampilan, etika, dan integritas. Tapi, sangat tergantung kepada suasana hati, kestabilan emosi, motivasi, gairah, persepsi, niat, dan pikiran positif  karyawan untuk berkontribusi secara total buat kinerja terbaik diri mereka sendiri dan perusahaan. Prinsip keterbukaan atau transparansi di tempat kerja seharusnya dapat mendorong minat para manajer untuk belajar memahami suasana hati dan pikiran dari para karyawannya, agar kehidupan kerja dalam perilaku berpura-pura dan tidak terbuka dapat dihindari.

Karyawan sangat butuh emosi positif, gairah, pikiran positif, persepsi untuk mencintai pekerjaan dan perusahaan; serta perilaku untuk saling berinteraksi secara produktif antar karyawan, rekan kerja, bawahan, dan atasan untuk bisa saling bekerjasama dalam semangat untuk menghasilkan kualitas kerja dan kinerja terbaik. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah peran manajer di tempat kerja mampu terlibat dalam mengurusi kehidupan batin dan pikiran karyawan. Termasuk, memotivasi suasana hati karyawan untuk memberikan pelayanan prima kepada pelanggan, pemasok, atau stakeholder lainnya.

Manajer harus bekerja keras untuk tidak membiarkan karyawan mengalami emosi frustasi yang mengurangi perasaan bangganya terhadap pekerjaan, kepemimpinan, dan perusahaan. Selama ini, peran dan fungsi manajer lebih banyak tercurah kepada hal-hal yang terlihat secara kasat mata, tapi untuk hal-hal yang tidak terlihat sepertinya jarang sekali ada manajer yang memiliki kemampuan empati untuk memahaminya. Dalam era organisasi milenium ini, peran dan fungsi manajer harus diperluas untuk bisa memahami kehidupan batin karyawan untuk bisa memotivasi kontribusi mereka terhadap pekerjaan harian di tempat kerja dalam upaya peningkatan kinerja organisasi.

Persoalan kehidupan batin seseorang adalah hal yang sangat sensitif, tapi dalam upaya peningkatan kinerja organisasi hal ini haruslah bersikap transparan dan terbuka. Setiap karyawan dan pimpinan di tempat kerja pastinya memahami bahwa mereka dituntut untuk bersikap dan berperilaku secara profesional. Oleh karena itu, setiap orang di tempat kerja harus berjiwa besar dan ikhlas untuk mengelola kehidupan batin demi kinerja organisasi melalui kreatifitas, kualitas kerja, komitmen terhadap pekerjaan, dan kontribusi untuk kebersamaan di tempat kerja. Bila kehidupan batin terkelola secara baik, maka semua kejadian dalam interaksi di tempat kerja pasti akan  disikapi secara positif dalam persepsi, emosi, dan motivasi yang membahagiakan semua orang.

Untuk training hubungi: www.djajendra-motivator.com

Iklan