Bisnis Yang Kuat Butuh Salesman Yang Tangguh

Juli 9, 2009

“Salesman Bukanlah Profesi Yang Bersembunyi Di Balik Telepon Dan Meja Kerja, Tapi Salesman Adalah Profesi Yang Bergerak Dari Satu Pasar Ke Pasar Berikut, Dari Satu Distributor Ke Distributor Berikut, Dari Satu Pelanggan Ke Pelanggan Berikut. Intinya, Salesman Yang Tangguh Itu Adalah Pribadi – Pribadi Yang Pintar Mencari Uang Untuk Mengisi Kas Perusahaan.” – Djajendra

Beberapa waktu yang lalu saya menerima email dari seorang client, yang isinya meminta saya membuat sebuah pelatihan untuk salesman. Isi dari email ini mengatakan bahwa pelatihannya ini tidak boleh berbicara tentang konsep atau pun teori marketing, tapi yang dibahas itu adalah hal-hal yang mampu menggerakkan hati salesman untuk berjuang mengisi kas perusahaan. Intinya, isi email dari client tersebut meminta saya membuat training untuk menjadikan para salesman ahli dalam mengkonversi produk menjadi uang tunai.

Client yang mengirim email ke saya ini adalah pemilik yang sekaligus menjadi “Executive Director” diperusahaan tersebut. Jadi, beliau sangat mengetahui bahwa bisnis yang baik itu harus didukung oleh salesman yang pintar mencari uang untuk perusahaan, dan beliau dengan sangat cerdas langsung memfokuskan kekuatan salesmannya hanya untuk berpikir dan bertindak mengisi uang ke kas perusahaan.

Kegagalan salesman untuk mengkonversi produk menjadi uang tunai akan berdampak besar pada kegagalan perusahaan untuk tumbuh dan berkembang sesuai rencana.

Salesman adalah kunci kesuksesan perusahaan. Para salesman harus menjadi orang-orang terdepan, yang harus berani mengetuk pintu hati para pembeli, dengan sikap penuh percaya diri untuk menjual produk dengan sukses.

Menurut client saya ini bahwa tugas terpenting salesman seharusnya adalah memberikan perhatian total kepada cara atau pun upaya untuk menguangkan barang, dan sekaligus membangun hubungan baik yang bersifat jangka panjang dengan pelanggan. Lalu, beliau juga mengatakan bahwa saat salesman mulai tidak fokus kepada upaya menguangkan barang, maka secara  perlahan – lahan insting menjual mereka akan hilang, dan lama-kelamaan mereka tidak lagi memiliki nilai lebih dalam berbisnis dengan pelanggan.

Saya pribadi sangat setuju dengan pandangan client saya ini. Saya yakin bahwa salesman yang cerdas akan selalu melatih insting menjualnya dengan berbagai teori dan konsep yang baik. Sebab, mereka tahu bahwa kalau ingin menjual sebanyak mungkin, mereka harus selalu melatih dan mempertajam insting menjualnya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan baru, agar dirinya menjadi pribadi unggul yang tangguh dan yang tak terkalahkan di dalam menjual.

Salesman bukanlah profesi yang bersembunyi di balik telepon dan meja kerja, tapi salesman adalah profesi yang bergerak dari satu pasar ke pasar berikut, dari satu distributor ke distributor berikut, dari satu pelanggan ke pelanggan berikut. Intinya, salesman adalah orang-orang yang harus pintar menjalani relasi baik dengan banyak orang.

Tanpa kecerdasan salesman dalam menjual produk, perusahaan akan kehilangan bisnis. Oleh karena itu, pimpinan perusahaan harus selalu bekerja ekstra keras untuk memberikan semangat dan motivasi kepada setiap salesman, agar para salesman mau bertindak proaktif dalam upaya menguangkan produk secepat mungkin. Salesman yang hebat tidak hanya akan memikirkan menjual produk atau jasa prusahaan, tapi dia juga akan memikirkan menjual reputasi dan kredibilitas perusahaan kepada pelanggannya.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Sikap Baik Adalah Faktor Paling Penting Untuk Bisa Memahami Bahasa Pelanggan

Juni 24, 2009

”Seorang Penjual Yang Cerdas Selalu Berupaya Untuk Bisa Memahami Bahasa Para Pelanggan, Agar Dia Bisa Memberikan Kejujuran Dan Kebenaran Buat Para Pelanggan.” – Djajendra

Jika saja Anda cerdas memahami bahasa pelanggan, Anda tidak akan pernah kesulitan untuk meyakinkan para pelanggan Anda supaya selalu setia dengan produk dan jasa Anda. Bahasa pelanggan adalah bahasa keinginan dan kebutuhan pelanggan atas sebuah produk atau pun jasa. Pelanggan pasti menderita jika semua janji-janji dan komitmen penjual hanya sebatas kebohongan. Dan tak ada pelanggan yang merasakan kepuasan dan kenyamanan saat kebutuhan dan keinginan mereka dibohongi oleh penjual.

Seorang penjual yang cerdas selalu berupaya untuk bisa memahami bahasa para pelanggan, agar dia bisa memberikan kejujuran dan kebenaran buat para pelanggan. Buat dirinya sangatlah mudah untuk mempelajari bahasa perusahaan daripada bahasa pelanggan, tapi dia tahu bahwa bila dia ingin berprestasi tinggi, maka dia wajib memahami bahasa para pelanggan.

Seorang penjual sejati tidak pernah bisa diam dalam ketidakpeduliannya kepada pelanggan. Kalaupun dia sulit memahami bahasa para pelanggan, dia akan selalu berpikir dengan kreatif untuk memberikan semua kebaikan, dia tidak akan pernah mau mengkhianati profesinya sebagai penjual sejati, dia hanya fokus untuk menjual kebenaran dan kejujuran kepada siapa pun.

Selalu saja perusahaan dan penjual hanya mengejar target keuntungan maksimal dengan berbagai cara, yang sering sekali mengabaikan bahasa pelanggan. Padahal, untuk mendapatkan keuntungan maksimal secara terus-menerus, perusahaan dan penjual wajib membangun loyalitas para pelanggan kepada perusahaan, produk, dan jasa yang ditawarkan. Dan loyalitas pelanggan ini hanya bisa dibangun, saat perusahaan dan penjual cerdas memahami bahasa pelanggan secara utuh dan total.

Bahasa pelanggan ini hanya bisa dipahami dengan cara melakukan riset dan pengembangan untuk memahami setiap titik perubahan perilaku pelanggan. Perusahaan dan penjual tidak boleh berpikir bahwa relasi dengan pelanggan adalah sebagai rutinitas dan kewajiban. Tetapi, mampu melihat relasi dengan pelanggan sebagai kreatifitas tanpa batas yang selalu harus diperbaruhi dengan hal-hal hebat, yang membuat pelanggan semakin loyal dan semakin cinta kepada perusahaan, produk, jasa, dan pelayanannya.

Kreatifitas tanpa batas ini harus bisa memuaskan selera pelanggan. Dan semunya harus disosialisasikan sedemikian rupa dalam beragam pendekatan, untuk menanamkan kebenaran dan kejujuran tentang brand image perusahaan di benak pelanggan.

Nilai – nilai yang terkandung dalam bahasa pelanggan adalah nilai – nilai yang memudahkan, memuaskan, memanjakan, dan menyenangkan perasaan dan pikiran pelanggan. Artinya, perusahaan dan penjual harus berkomitmen untuk bersikap konsisten dalam mendistribusikan segala kebaikan dan segala kemanfaatan buat para pelanggan.
untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Pelayanan Yang Memuaskan Indera Konsumen

Juni 16, 2009

”Pelayanan Yang Baik Selalu Dimulai Dari Sikap Baik Dan Antusias Si Karyawan Untuk Menjadi Orang Baik, Yang Bisa Memberikan Kebahagiaan Kepada Orang Lain Secara Utuh Dan Total.” – Djajendra

Setiap perusahaan sudah saatnya untuk berbenah diri menuju kepada pelayanan yang memuaskan indera konsumen. Indera atau indria merupakan alat penghubung atau kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran pikiran, intelektual, spiritual dan emosi dengan material lingkungan.

Pelayanan konsumen ini tidak hanya sebatas memuaskan panca indera si konsumen, tapi lebih dalam lagi memuaskan indera pikiran, spiritual, emosi, dan intelektual si konsumen.

Ketika Anda mengeluarkan seluruh energi dan potensi Anda untuk memberikan pelayanan yang terfokus kepada upaya memuaskan indera konsumen, maka pelayanan Anda itu akan lebih manusiawi, akan menjadi lebih sopan-santun dengan senyum yang membahagiakan hati konsumen. Di mana, konsumen Anda akan merasakan keramah-tamahan pelayanan yang memuaskan indera mereka.
Pelayanan yang memuaskan indera konsumen ini, wajib dibarengi dengan perbaikan sistem, prosedur, teknologi, etika, mind set, dan infrastruktur yang siap melayani konsumen dengan segala sikap baik yang profesional dan total. Termasuk, produk dan jasa yang Anda jual haruslah disesuaikan dengan manfaat dan kebutuhan konsumen, dengan harga yang berdaya saing, dan kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

Ingat! Pelayanan yang baik selalu dimulai dari sikap baik dan antusias si karyawan untuk menjadi orang baik, yang bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain secara utuh dan total. Oleh karena itu, sebelum melayani konsumen, karyawan harus terlebih dulu merasakan bahagia, damai, sejahtera, merasa cerdas secara emosi dan intelektual. Pastikan perusahaan telah memperhatikan semua kebutuhan indera karyawan, agar indera karyawan mampu menjadi energi yang memberikan pelayanan sempurna.

Setiap unit kerja di perusahaan haruslah memperlihatkan produktifitas kerja yang sempurna, lalu menciptakan mutu pelayanan terbaik agar mampu memuaskan indera konsumen.

Dari waktu ke waktu secara bertahap perusahaan perlu melakukan reposisi untuk meningkatkan mutu, kualitas, reputasi, dan kredibilitas pelayanannya menjadi lebih sempurna. Jadi, perusahaan harus selalu sadar bahwa musuh dari terbaik adalah lebih terbaik. Oleh karena itu, sampai kapanpun perusahaan tidak boleh berpuas diri untuk merasa nomor satu, tapi harus selalu berinovasi untuk melakukan perubahan-perubahan buat memberikan pelayanan yang lebih santun dan lebih berkualitas.

Perusahaan harus terus menerus berinovasi untuk meningkatkan citra pelayanannya, dari yang sekedar memuaskan panca indera konsumen menuju kepada pelayanan yang memuaskan emosi, logika, akal sehat, batin, pikiran, rasa bahagia dan rasa damai konsumen.

Seluruh karyawan haruslah dilatih untuk menjadi customer  relation (CR) atau public relation (PR) nomor satu terbaik di dalam melayani perusahaan. Setiap karyawan harus bisa memberikan informasi, penjelasan, dan keterangan yang memuaskan  hati dan pikiran konsumen. Setiap orang di perusahaan harus memiliki mind set untuk menjadi pribadi yang mampu berbicara tentang segala kekuatan dan kebaikan perusahaan kepada konsumen. Barulah  pelayanan yang memuaskan indera konsumen bisa dimulai!

Masing – masing pribadi karyawan haruslah memiliki keunggulan-keunggulan diri yang unik, yang bisa menyentuh hati terdalam konsumen, untuk merasakan indahnya dan sempurnanya pelayanan perusahaan kepada konsumen. Keunggulan-keunggulan yang spesifik dan pribadi ini harus menjadi nilai tambah setiap pribadi buat baktinya kepada pelayanan konsumen terbaik.

Perusahaan harus memiliki rasa peduli yang tinggi untuk menyiram karyawan-karyawannya dengan nilai-nilai kebaikan. Di mana, penyiraman nilai-nilai kebaikan ini harus dilakukan setiap detik di setiap nafas kehidupan si karyawan, agar karyawan terbiasa untuk bersikap baik, sopan santun, dan selalu memberikan senyum tulus kepada konsumen.

untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


12 Cara Untuk Memenangkan Hati Pelanggan

Mei 31, 2009

”Perusahaan Pemenang Adalah Yang Melayani Pelanggannya Dengan Hati Dan Dedikasi Yang Besar, Untuk Kemudian Menguasai Pasar Dengan Cara Memenangkan Hati Pelanggan.” – Djajendra

Pelayanan pelanggan yang cemerlang sangat tergantung kepada banyak faktor yang menyatukan hati pelanggan dengan hati pelayan pelanggan. Jika, perusahaan sebagai pelayan pelanggan mampu memahami hati, pikiran dan emosi pelanggan secara sempurna, maka perusahaan pasti akan berhasil memenangkan kompetisi bisnisnya dengan mudah.

Ingat, perusahaan pemenang adalah yang melayani pelanggannya dengan hati dan dedikasi yang besar, untuk kemudian menguasai pasar dengan cara memenangkan hati pelanggan.

Berikut ini 12 cara untuk memenangkan hati pelanggan Anda.

1. Etika dan moralitas. Pimpinan dan karyawan di perusahaan wajib memiliki komitmen yang konsisten, untuk bersikap loyal kepada pelanggan melalui etika dan moralitas pelayanan.

2. Pikiran dan emosi. Pimpian dan karyawan wajib menunjukkan sikap baik terhadap setiap pikiran dan emosi pelanggan. Lalu, mampu manfaatkan pikiran dan emosi pelanggan tersebut, sebagai solusi untuk memberikan kualitas dan pelayanan terbaik.

3. Kekuatan dan kelemahan. Pimpinan dan karyawan wajib menguasai setiap kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya dengan pelanggan. Lalu, secara profesional memfokuskan diri untuk memperkuat setiap kekuatannya menjadi sebuah ciri pelayanan yang hebat, dan mempelajari setiap kelemahan yang ada untuk dijadikan sebagai kekuatan baru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

4. Kepemimpinan yang melayani. Pelayanan terbaik hanya dapat diwujudkan melalui keteladanan para pemimpin di semua level perusahaan. Di mana, keteladanan ini harus diperlihatkan dalam wujud karakter dan sikap baik untuk memberikan yang terbaik buat pelanggan.

5. Gaya dan disiplin pelayanan. Pimpinan dan karyawan harus fokus kepada gaya dan disiplin pelayanan yang sesuai dengan pikiran, kebutuhan, dan emosi pelanggan. Jadi, sebelum menyusun strategi penjualan, perusahaan harus memiliki gaya dan disiplin pelayanan yang terfokus kepada emosi, pikiran, dan kebutuhan pelanggan.

6. Menjual secara terhormat. Perusahaan terbaik akan memenangkan hati pelanggannya secara utuh. Hal ini bisa terjadi, bila perusahaan bertindak jujur, terbuka, adil, bertanggung jawab, dan penuh empati dalam memberikan kualitas produk terbaik, harga terbaik, dan kualitas pelayanan tercemerlang kepada pelanggan.

7. Tidak melawan keinginan pelanggan.  Pelanggan adalah penghasil nilai tambah bisnis, dan bisnis yang ditinggalkan pelanggannya akan menjadi lemah dan mati.  Untuk itu, arahkan semua energi perusahaan untuk fokus pada keinginan pelanggan. Lalu, maksimalkan keuntungan perusahaan dengan cara mengalirkan semua kebutuhan, manfaat, dan kebaikan kepada mind set pelanggan.

8. Gunakan pengetahuan dan keterampilan. Pimpinan dan karyawan wajib menggunakan pengetahuan dan keterampilannya, untuk memahami isi hati dan isi pikiran pelanggan. Jadi, saat beradapan dengan pelanggan, pemimpin dan karyawan sudah mengenali watak pelanggan dengan cerdas. Lalu, tinggal menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang jitu untuk menaklukkan watak si pelanggan dengan sikap baik.

9. Pelayanan yang cepat dan tepat waktu. Pimpinan dan karyawan wajib bertindak untuk memberikan pelayanan sempurna yang cepat dan tepat waktu. Cepat bukan berarti melayani pelanggan secara tergesa-gesa, tapi memberikan kualitas pelayanan tercemerlang dengan cara-cara profesional yang bijaksana.

10. Membujuk pelanggan dengan konsep yang hebat. Perusahaan harus memulai setiap proses pelayanan pelanggannya dengan konsep yang sederhana, jelas, dan pro pada kenyamanan dan kebahagiaan pelanggan. Konsep pelayanan tidak hanya sekedar bersifat membangun relasi yang hebat, tapi juga harus bersifat kolaborasi yang hebat dengan pelanggan.

11. Energi positif dalam karakter. Pimpinan dan karyawan wajib mengisi energi positif ke dalam karakter dan sikap masing-masing. Di mana, energi positif ini harus mengembangkan emosi batin menjadi lebih cerdas dan lebih baik, mengembangkan pikiran menjadi lebih kreatif dan lebih positif, dan membangun tubuh menjadi lebih sehat dan lebih berdaya tahan dalam melayani setiap kebutuhan pelanggan.

12. Totalitas bahasa tubuh.  Pemimpin dan karyawan wajib melatih bahasa tubuhnya, untuk bisa menggambarkan ketulusan dan keikhlasan dalam memberikan segala kebaikan kepada pelanggan.

Totalitas bahasa tubuh harus bisa memberikan gambaran kebaikan kepada pelanggannya. Hanya para pelayan pelanggan berkarakter positif yang bisa merebut hati para pelanggannya.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Pelayanan Sempurna Dalam Bisnis Rumah Makan

Mei 17, 2009

”Jiwa Terdalam Dari Para Front Liner Bisnis Rumah Makan Haruslah Didasari Oleh Prinsip Pelayanan Yang Berkarakter Ikhlas, Tulus, Luwes, Berempati, Baik Hati, Jujur, Sopan Santun, Bekerjasama, Penuh Senyum, Serta Bermental Positif Untuk Memahami Orang Lain Dalam Setiap Proses Kerja.” – Djajendra

Bisnis rumah makan adalah bisnis yang dianggap oleh banyak orang sebagai bisnis yang paling mudah untuk dilakoni dalam situasi apa pun. Orang selalu memiliki alasan bahwa setiap orang perlu makan, jadi bisnis makanan tidak akan pernah mati. Realitas menunjukkan bahwa bisnis rumah makan adalah salah satu bisnis yang paling mudah untuk dibuka dan juga paling mudah untuk bangkrut. Sering sekali para pemula memulai bisnis rumah makannya karena mereka tergiur oleh untung besar yang dijanjikan oleh bisnis ini. Selain itu, selalu saja orang beranggapan bahwa menjalankan bisnis rumah makan adalah hal yang sangat mudah untuk ditekuni. Padahal ada begitu banyak kebangkrutan dalam bisnis rumah makan, yang pada umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan manajemen pelayanan sempurna, manajemen keuangan, dan manajemen risiko. Di mana, hal ini akan mengakibatkan ketidakmampuan si pebisnis rumah makan untuk menjaga kontinuitas dari bisnis rumah makan yang dia jalankan.

Kalau Anda ingin menjalankan bisnis rumah makan, hal terpenting yang harus Anda pahami adalah pelayanan sempurna yang berbasiskan kepada kualitas, harga, dan rasa makanan yang sesuai dengan target pasar Anda. Kemudian, Anda harus mampu memfungsikan semua karyawan, tanpa terkecuali, untuk merawat dan melayani setiap pelanggan secara sempurna dalam balutan sikap baik yang profesional.

Seiring dengan perkembangan teknologi pemerosesan makanan dan teknologi pelayanan pelanggan, maka berkembang pula fungsi dari setiap karyawan untuk lebih mendukung reputasi dan kredibilitas rumah makan.

Salah satu aspek pelayanan sempurna yang harus menjadi perhatian penuh dari Anda dan karyawan adalah aspek kenyamanan, keselamatan dan keamanan dari kualitas makanan yang disajikan. Ingat, pelanggan yang mendapatkan informasi secara rinci tentang kualitas makanan yang Anda sajikan itu akan membuat si pelanggan menjadi loyal terhadap rumah makan Anda. Sikap jujur Anda terhadap gizi dan kualitas makanan, harus diikuti oleh cara pengelolaan yang sehat dan bersih. Setiap kebaikan yang Anda ciptakan buat pelanggan Anda akan menghasilkan keuntungan berlipat buat bisnis rumah makan Anda.

Fungsi front liner rumah makan dalam pelayanan sempurna harus menjadi pelayan yang bijaksana dan baik hati, serta cerdas memainkan perannya sebagai icon rumah makan, yang selalu bersikap baik dalam ramah-tamah pelayanan kepada setiap pelanggan.

Front liner juga wajib bekerja dengan tegar dan efektif dalam setiap situasi yang berbeda, untuk mengatasi berbagai sikap dan perilaku pelanggan yang beragam dan mungkin kadang terasa aneh.

Sikap menyingkirkan ego diri untuk menjadi lebih kooperatif dengan pelanggan adalah wajib hukumnya buat para front liner.

Setiap pribadi front liner harus memiliki keyakinan dan tanggung jawab penuh untuk menyelesaikan sebuah tugas pelayanan pelanggan dengan efektif, produktif, dan efisien

Kecerdasan emosional front liner untuk bisa memahami perasaan dan kebutuhan pelanggan, adalah fondasi terpenting dalam memberikan pelayanan sempurna yang berkualitas.

Jiwa terdalam dari para front liner bisnis rumah makan haruslah didasari oleh prinsip pelayanan yang berkarakter ikhlas, tulus, luwes, berempati, baik hati, jujur, sopan santun, bekerjasama, penuh senyum, serta bermental positif untuk memahami orang lain dalam setiap proses kerja.

Manajemen rumah makan wajib membangun  standard pelayanan pelanggan yang sesuai dengan keunikan rumah makan tersebut.  Standard pelayanan pelanggan ini seharusnya dapat digunakan untuk mengukur kualitas dan kinerja dari para front liner dan para non front liner rumah makan. Dengan tujuan untuk memahami besarnya produktifitas yang mereka hasilkan sebagai wujud dari kontribusi mereka terhadap bisnis rumah makan. Juga, dengan adanya standard pelayanan pelanggan ini dapat menimbulkan kesadaran beretika dalam melaksanakan pelayanan sempurna, serta dapat menjadi acuan bagi rumah makan dalam melaksanakan manajemen risiko untuk menjaga keamanan, keselamatan,  kenyamanan, untuk kepentingan pelanggan dan kepentingan bisnis rumah makan itu sendiri.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Gaya Marketing Dari Mulut Ke Mulut

Mei 16, 2009

“ Gaya Marketing Dari Mulut Ke Mulut Yang Dilakukan Dengan Komunikasi Persuasif Akan Menjadi Magnet Besar Yang Menarik Customer Mencintai Produk Dan Jasa Anda.” – Djajendra

Salah satu strategi marketing yang paling ampuh untuk meyakinkan customer adalah gaya marketing dari mulut ke mulut, atau pun gaya marketing yang bergerilya dari satu jiwa ke jiwa yang lain, yang terus ditularkan kepada jiwa – jiwa yang lain tentang kehebatan dan keunggulan dari produk dan layanan yang Anda tawarkan tersebut.

Kekuatan gaya marketing dari mulut ke mulut ini terletak kepada cara persuasif yang Anda gunakan untuk meyakinkan customer. Ketika Anda mampu memberikan yang terbaik kepada satu customer, maka satu customer ini akan menjadi loyal dan menyebarkan berita bagus tentang produk dan jasa Anda kepada customer-customer lain disekitarnya.

Dalam realitas bisnis, ada begitu banyak pebisnis yang menggunakan gaya marketing lisan dari mulut ke mulut, disamping budget biaya marketingnya menjadi nol rupiah, juga gaya marketing ini akan menjadi sangat efektif untuk membangun basis customer setia. Karena sifatnya lisan, maka strategi marketing dari mulut ke mulut ini harus bisa mempengaruhi emosi dan pikiran customer. Selanjutnya, strategi marketing dari mulut ke mulut ini harus dibuat mengakar di level batin terdalam customer.

Pada umumnya, strategi marketing dari mulut ke mulut ini terjadi karena si pengusaha tidak memiliki budget atau modal untuk melakukan promosi dalam bentuk iklan di media masa. Dan, terpaksa dia hanya mampu melakukan pemasaran secara lisan sambil berharap banyak dari kebaikan orang-orang yang pernah berbisnis dengan dirinya, untuk mau secara sukarela mengabarkan berita bagus tentang bisnisnya kepada sahabat-sahabat mereka. Sebenarnya, strategi marketing lisan ini lebih mampu menyentuh hati customer dibandingkan strategi pemasaran dalam bentuk iklan dan promosi jenis lainnya.

Strategi marketing lisan dari mulut ke mulut ini membutuhkan fondasi yang kuat dalam bentuk kredibilitas dan kejujuran dari produk dan jasa yang ditawarkan. Strategi pemasaran lisan ini merupakan strategi pemasaran tertua yang paling ampuh untuk mempengaruhi dan membuat customer menjadi setia dengan produk dan jasa Anda. Dalam ilmu komunikasi marketing, pebisnis selalu disarankan untuk membayar sebuah media untuk mengirimkan pesan tentang kehebatan produk dan jasa, dalam bentuk iklan yang menarik kepada pelanggan. Sedangkan dalam marketing lisan, Anda harus bekerja keras membangun kredibilitas dan kejujuran yang tinggi untuk mempengaruhi customer Anda melalui cara-cara persuasif.

Strategi marketing lisan harus didukung dengan kualitas pelayanan yang hebat dalam bentuk kecepatan pelayanan dengan kualitas produk dan jasa yang unggul. Keputusan Anda untuk memberikan semua nilai-nilai terbaik dari setiap proses pemasaran akan menjadi senjata yang hebat untuk mempertahankan loyalitas pelanggan Anda kepada produk dan jasa Anda. Pastikan strategi pemasaran lisan yang Anda terapkan itu mampu membangun kesadaran dan antusias pelanggan Anda untuk merekomendasikan produk dan layanan Anda kepada orang-orang lain. Jagalah kesederhanaan, kemudahan, dan hal-hal yang menyenangkan dalam semua proses penjualan Anda. Gaya marketing lisan dari mulut ke mulut akan menjadi sangat efektif bila Anda lakoni dengan kekuatan empati, intuisi, dan sikap baik Anda.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Menjual Melalui Proses Penjualan Yang Benar

Mei 15, 2009

”Penjual Yang Profesional Tidak Akan Pernah Mau Memperdayakan Atau Merugikan Pembeli.” – Djajendra

Tugas terpenting dari seorang penjual adalah melakukan penjualan yang melampaui target-target yang diberikan perusahaan kepada dirinya.

Selain membutuhkan kesadaran diri sendiri untuk menjadi penjual yang kreatif dan dinamis, penjual juga wajib mempelajari keterampilan cara menjual yang profesional. Seorang penjual yang profesional tidak akan pernah mau memperdayakan atau merugikan pembeli. Dia akan selalu mempersiapkan dirinya untuk memberikan kualitas produk dan kualitas layanan terbaik buat pembeli. Adalah sah-sah saja seorang penjual bersikap agresif untuk menjual produk dan jasanya, tapi sikap agresif itu harus diikuti dengan mind set menjual yang terfokus untuk memberikan yang terbaik dari yang baik buat pembeli.

Penjual harus menjadi pribadi yang membantu pelanggan untuk membuat pilihan terbaik, serta memecahkan semua kebutuhan pelanggan dengan jujur dan bijaksana.  Penjual tidak hanya melakukan penjualan sebatas layanan, tapi juga harus menjadi sahabat pelanggan, untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan terhadap produk dan jasa yang dijual.

”Untuk menjadi penjual yang profesional, Anda harus memahami tentang semua kebiasaan dan perilaku pelanggan Anda,” tulis Frank McNair dalam bukunya berjudul How You Make Sale. Selanjutnya, Frank McNair juga menulis bahwa penjual harus memiliki pengetahuan untuk memecahkan masalah pelanggan dengan cara memberikan produk, layanan, solusi, dan program yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Jadi, Jangan pernah membuat pelanggan Anda menderita oleh cara penjualan Anda yang tanpa solusi buat kenyamanan pelanggan.

Penjual dengan sikap baik plus solusi yang hebat akan menjadi pribadi yang dicintai oleh pelanggan. Sebab, pelanggan selalu membutuhkan layanan dari penjual-penjual yang profesional, baik hati, jujur, dan yang bertanggung jawab.

Sangatlah penting buat si penjual untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya, khususnya kualitas dari karakter diri yang mampu mewujudkan semua kebutuhan pelanggan dengan penuh peduli, perhatian, dan tanggung jawab.
”Penjual harus menyadari pentingnya proses penjualan. Proses penjualan yang baik akan menunjukkan tanggung jawab penjual untuk membantu memecahkan masalah pelanggan. Ingat, penjualan adalah berdisiplin dalam proses langkah demi langkah. Jika penjual mempelajari setiap langkah-langkah dari proses penjualan dengan cerdas, penjual akan membuat dirinya menjadi seorang profesional yang mampu melakukan penjualan besar.” Tulis Frank McNair dalam buku How You Make The Sale, What Every New Salesperson Needs To Know

Berikut 7 proses penjualan yang ditulis Frank McNair dalam buku How You Make The Sale:


1. Research prior to the Sale

Lakukan riset sebelum penjualan. Bagaimana produk Anda dibandingkan dengan produk dari pesaing? Bagaimana pelanggan menggunakan produk Anda? Apa masalah terpenting yang tidak terpecahkan dari produk Anda?

2. Meet and Greet

Bertemu dan menyapa. Langkah ini dalam proses penjualan adalah ketika Anda menemui pelanggan. Ini adalah tahap proses penjualan dan jalan untuk terjadinya pembelian. Pada tahap ini, Anda harus mengetahui atau memastikan apa langkah pelanggan ketika Anda bertemu untuk dapat bertindak sesuai yang mereka butuhkan.

3. Discovery

Pada proses penjualan yang ketiga ini, Anda harus menemukan apa yang pelanggan perlukan atau masalah apa yang pelanggan miliki terhadap pelayanan dan produk Anda, sehingga Anda dapat mulai menemukan solusi yang tepat sasaran buat pelanggan Anda.

4. Features and Benefits

Sebagai penjual Anda selalu ingin berbicara tentang kehebatan dari produk Anda kepada pelanggan, sementara pelanggan hanya membeli manfaat. Jadi Anda harus tahu apa manfaat yang berkaitan dengan features produk, program atau layanan yang Anda tawarkan kepada pelanggan.

5. Making the Case/Presenting the Solution

Bagaimana cara Anda menyampaikan presentasi solusi terhadap masalah-masalah yang pelanggan hadapi? Bagaimana cara Anda menggunakan kata-kata positif untuk mengatasi keberatan pelanggan terhadap solusi Anda?

6. The Objective is Objections: Dealing with Resistance

Penolakan pelanggan dapat terjadi pada setiap tahap dari proses penjualan. Walaupun mungkin Anda telah menyelesaikan penyebab penolakan tersebut. Anda harus selalu menyiapkan informasi yang lebih untuk meyakinkan pelanggan. Sebab, pelanggan selalu merasa menjadi objek dan tidak yakin masalah mereka telah diselesaikan sepenuhnya.

7. Closing: It’s Okay to Ask For the Order

Jika Anda bekerja setia dengan setiap proses penjualan, Anda tidak akan sulit untuk menutup penjualan-penjualan besar kepada pelanggan Anda. Pelanggan Anda sudah siap untuk membeli, dan berkata terima kasih kepada Anda.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Customer Service Adalah Pejuang Garis Depan Bisnis

Mei 2, 2009

“Mind Set Pejuang Garis Depan Bisnis Dari Tim Customer Service  Harus Mampu Menghindari Atau Menangani Situasi Konflik, Serta Tetap Di Trek Pelayanan Sempurna Dengan Kekuatan Emosional Positif Dan Pikiran Jernih.” – Djajendra

Perusahaan yang efektif pasti peduli untuk mengembangkan mind set customer servicenya, untuk menjadi pejuang garis depan bisnis perusahaan yang setiap hari setia berdampingan dan melayani organisasi dengan konsisten dan total.

Tim customer service dengan mind set pejuang garis depan bisnis akan  memelihara hubungan positif dengan semua pelanggannya. Mereka akan membuat layanan pelanggan yang luar biasa. Mereka akan menangani semua tantangan pelayanan dengan cara mengoptimalkan semua potensi sikap baik mereka, untuk melakukan pelayanan terbaik buat perusahaan dan pelanggan.

Tim customer service dengan mind set pejuang garis depan bisnis akan dengan setia melakukan hal-hal terbaik melalui emosi baik dan pikiran positif untuk keberhasilan dari semua strategi pelayanan sempurna perusahaan.

Mind set pejuang garis depan bisnis akan memberikan kepada perusahaan sebuah kinerja yang luar biasa buat menjaga kredibilitas dan reputasi bisnis perusahaan.

Mind set customer service sebagai pejuang garis depan bisnis akan menjadi rahasia pelayanan sempurna yang berdampak positif dalam hal meningkatkan kemampuan customer service untuk menangani situasi layanan pelanggan dengan bijaksana, profesional, sikap baik, diplomasi, kreatif, strategis, dan dengan mental pejuang yang unggul.

Mind set pejuang garis depan bisnis di dalam diri customer service akan menanamkan kekuatan kepada customer service, khususnya untuk selalu belajar mengembangkan diri dan menyatu bersama nilai-nilai SOP perusahaan; untuk selalu secara total mengembangkan inner self-motivasi; untuk selalu fokus kepada pencapaian kinerja puncak dan menangani masalah-masalah pelayanan pelanggan yang sulit secara real time; dan untuk selalu konsisten dalam memberikan pelayanan sempurna kepada organisasi dan pelanggan.

Mind set pejuang garis depan bisnis di dalam diri customer service akan memberikan suatu cetak biru kepada diri customer service, untuk mewujudkan pelayanan sempurna dan sekaligus menjadi pribadi yang sukses dan unggul di tempat kerja.

Tim customer service dengan mind set pejuang garis depan bisnis akan melakukan banyak hal positif buat memanfaatkan semua potensi diri mereka untuk kemajuan diri sendiri dan organisasi. Selanjutnya, tim customer service akan meningkatkan keyakinan dirinya untuk menjadi tim pelayanan yang efektif dalam mempertahankan keberhasilan pelayanan sempurna di setiap situasi dan kondisi.

Untuk perusahaan yang ingin menjadi terdepan dibidang pelayanan pelanggan. Mind set customer service sebagai pejuang garis depan bisnis ini akan menjadi strategi dan praktik pelayanan bisnis yang unggulan.

Mind set pejuang garis depan bisnis dari tim customer service ini harus mampu menghindari atau menangani situasi konflik, serta tetap di trek pelayanan sempurna dengan kekuatan emosional positif dan pikiran jernih; harus mampu mengendalikan diri dari emosi tidak baik dan setia melayani organisasi dan pelanggan dengan motivasi tinggi di setiap hari; dan selalu memiliki keyakinan untuk membantu perusahaan dalam menangani persoalan pelayanan pelanggan dalam situasi apapun.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Memotivasi Karyawan Frontline Untuk Bersikap Baik Kepada Customer

April 10, 2009

“Pelayanan Customer Bermutu Sempurna Adalah Tanggung Jawab Dari Setiap Orang Diperusahaan, Tapi Juga Merupakan Sikap Hidup Dari Frontliner Kepada Customer.” – Djajendra

Sebagian besar dari reputasi sebuah perusahaan selalu ditentukan oleh sikap baik para karyawan frontline dalam memberikan pelayanan berkualitas tinggi kepada customer. Ketika setiap orang di frontline perusahaan sadar untuk menjaga etika, sopan santun, moralitas, dan sikap baik, maka customer akan semakin yakin kepada reputasi dan kredibilitas perusahaan.

Berikut beberapa langkah bijak yang wajib dilakukan oleh manajemen, agar para frontliner mampu menjadi ujung tombak perusahaan yang tajam dan dinamis.

1. Manajemen harus berbicara dengan semua frontliner, agar para frontliner ini mau menjadi pribadi-pribadi yang paling positif dan paling bersikap baik terhadap siapa pun.

2. Manajemen harus mengingatkan kepada para frontliner bahwa mereka adalah ujung tombak dalam menghasilkan bisnis buat kemajuan perusahaan, jadi mereka harus siaga penuh dalam memberikan pelayanan bermutu tinggi kepada customer.

3. Manajemen harus membangun mind set kepemimpinan diri sendiri yang kuat dan tangguh kepada setiap pribadi-pribadi frontline, agar mereka mampu memimpin dirinya sendiri secara sempurna untuk memberikan pelayanan berkualitas tinggi yang professional kepada perusahaan dan customer.

4. Manajemen harus selalu memotivasi dan menyemangati para frontliner agar mereka mampu menjalankan fungsi dan peran kerjanya secara total dan bijaksana.

5. Manajemen harus selalu fokus untuk merawat dan mensosialisasikan SOP pelayanan customer kepada setiap frontliner secara rutin dan berkelanjutan.

6. Manajemen harus selalu menjadi kepemimpinan yang bijak, profesional, berenergi, dan berkualitas tinggi terhadap pelayanan dan perhatinnya kepada para frontliner.

7. Manajemen tidak boleh membiarkan para frontliner berjuang sendiri tanpa dukungan yang kuat dari backoffice perusahaan.

8. Manajemen harus selalu melakukan inovasi pelayanan melalui ide-ide baru yang mampu menarik minat customer-customer baru.

9. Manajemen harus selalu mengingat fungsi dan peran kerjanya untuk menjadi faktor penting dalam menjaga semangat, motivasi, gairah kerja, dan rasa percaya diri para frontliner.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Memimpin Tugas Dan Tanggung Jawab Dengan Sikap Baik

Maret 31, 2009

“Kepemimpinan Yang Sesungguhnya Bukanlah Gengsi, Kekuatan, Atau Status. Melainkan Tanggung Jawab.” – Robin Sharma

Setiap orang di sebuah organisasi haruslah menjadi pemimpin yang memimpin dirinya dan pekerjaannya dengan etika, moralitas, sikap baik, dan profesional.

Kepemimpinan adalah tanggung jawab kepada orang lain. Kalau di dunia bisnis, kepemimpinan berarti tanggung jawab kepada customer, perusahaan, kolega, atasan, bawahan, dan pekerjaan. Kepemimpinan sepatutnya tidak diukur dengan sebuah jabatan, tapi diukur dari seberapa besar tanggung jawab untuk melayani orang lain dengan sikap baik yang tegas. Kepemimpinan adalah nilai-nilai kehidupan yang sangat terkait kepada pelayanan diri sendiri dan orang-orang lain. Tingkah laku karakter diri, kestabilan emosi positif diri, dan kondisi pikiran positif akan sangat menentukan kepemimpinan seseorang terhadap pekerjaannya.

Saat Anda berani berkata bahwa Anda adalah karyawan atau pegawai yang profesional, artinya Anda siap memimpin diri sendiri untuk mengambil tanggung jawab penuh atas kesehatan dan pertumbuhan perusahaan, dan mengubahnya untuk sesuatu yang lebih baik. Ingat, kepemimpinan yang sesungguhnya bukanlah gengsi, kekuatan, atau status. Melainkan tanggung jawab.

Berikut ini sebuah kisah dari Robin Sharma. Kisah yang bisa menjadi salah satu contoh untuk memimpin tugas dan tanggung jawab dengan sikap baik. (Kisah ini bersumber dari buku Robin Sharma, The Greatness Guide)

”Saya membeli sebuah tas di Evex dan telah beberapa kali pegangannya rusak, lalu saya perbaiki di Evax. Tanpa dipungut biaya. Kemudian berulang lagi saat saya berada di New York beberapa tahun kemudian, pegangan tas itu patah lagi. Ketika kembali ke Evex, saya kira saya harus membayar lagi untuk reparasi kali ini. Kebanyakan bisnis membuat klien menghadapi begitu banyak rintangan: jika Anda tidak menyimpan kuitansinya, Anda tidak beruntung. Jika Anda tidak mengetahui siapa yang mereparasi pertama kali, kami tidak dapat membantu. Jika Anda tidak membelinya di tempat ini, nama Anda tidak tercatat. Namun, Evax berbeda. Mereka tetap menerimanya. Mereka memahami bahwa jika tidak memperlakukan customer dengan baik, maka tidak akan ada bisnis. Mereka tidak lupa siapa yang menaruh makanan di meja mereka setiap malam. Perlakukan customer Anda seperti raja dan kemenangan pun akan Anda raih.

Ketika saya menjelaskan bahwa pegangan tas itu patah lagi, wanita muda di belakang meja, tanpa ragu sedikitpun meminta maaf atas masalah yang saya hadapi. Ia lalu berkata, ” kami berjanji Anda akan dapat membawa tas Anda dalam keadaan sempurna dalam waktu tiga hari. Dan tentu saja, pak, tidak dipungut biaya.” Tidak ada birokrasi yang memerlukan kuitansi reparasi sebelumnya. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada masalah. Hanya servis yang bagus, dengan senyum lebar. Wanita ini menunjukkan kepemimpinan yang sesungguhnya. Ia dengan cepat mengenali masalah, mengambil tanggung jawab pribadi, dan membuat keputusan yang tepat. Bagian dari solusi melawan bagian dari masalah. Dan ia membuat kagum customernya ketika proses itu berlangsung. Ia bukan pemilik perusahaan ini. Juga bukan seorang supervisor. Bukan pula manajer. Hanya seorang pemimpin tanpa jabatan.” – Robin Sharma, The Greatness Guide .

Untuk training/seminar hubungi www.ninecorporatetrainer.com