Oktober 22, 2009
”Hitung Hari Yang Hilang Di Mana Matahari Yang Tenggelam Mendapati Anda Tanpa Perbuatan Baik.” – Napoleon Hill
Aktifitas bisnis dilaksanakan dan ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, dan agar aktifitas bisnis mampu berjalan secara baik diperlukan etika bisnis. Di mana, etika bisnis mampu memagari perilaku pekerjaan sehari-hari di kantor untuk membuat para pemimpin dan karyawan agar tidak terperangkap dalam masalah.
Bila etika bisnis mampu dijalankan secara tegas dan konsisten, maka nilai-nilai yang ada di dalam etika bisnis tersebut dapat menciptakan sebuah aktifitas bisnis yang sehat dan berkualitas tinggi. Sebuah praktik bisnis yang bebas dari konspirasi buruk, yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, sehingga mampu mengoptimalkan shareholders value perusahaan.
Secara prinsip etika bisnis itu mengatur agar para pemimpin dan karyawan di perusahaan tidak menjadi korban dari kegiatan bisnis tersebut. Oleh karena itu, pemahaman etika bisnis harus diikuti dengan kekuatan sifat baik yang didukung oleh nilai-nilai moral kehidupan yang tinggi.
Etika bisnis wajib diimplementasikan secara baik oleh setiap orang di perusahaan, agar mampu memainkan peran dan fungsi manajemennya secara profesional, tanpa keluar dari aturan main yang ada di perusahaan, serta mampu memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik secara bijaksana.
Etika bisnis itu seperti cahaya yang menerangi semua fungsi dan peran kerja karyawan dan pimpinan. Semakin terang pikiran si karyawan dan pimpinan untuk memahami dan mematuhi etika bisnis, akan semakin tinggi kualitas integritas dan kinerja mereka.
Bila para karyawan dan pimpinan mampu mematuhi etika bisnis secara sempurna, maka secara otomatis mereka akan menjadi energi positif perusahaan; mereka akan menjadi pribadi yang membangun kebaikan di organisasi; mereka akan menjadi pribadi istimewa yang berpotensi meraih sukses tertinggi; mereka akan menjadi pribadi yang dicari-cari oleh perusahaan lain untuk direkrut.
Etika bisnis tidak sekedar aturan yang mengikat para karyawan dan pimpinan di perusahaan, tapi etika bisnis menjadi sebuah energi yang mampu menciptakan nilai tambah buat organisasi.
Etika bisnis adalah perilaku moral dan sikap baik yang menjadi inti dari kekuatan sebuah manajemen, dan inti dari sebuah kekuatan bisnis.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
Hrd, artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, corporate culture, etos kerja, good corporate governance, good governance, manajemen risiko, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Oktober 1, 2009
“Manusia Tidak Mungkin Bisa Menghentikan Gempa Bumi, Tapi Manusia Masih Bisa Mengurangi Korban Gempa Bumi Asal Manusia Mau Memahami Perilaku Buminya.” – Djajendra
Kita hidup di dalam bumi yang hidup. Bumi yang kita huni ini bukanlah benda mati, tapi dia hidup dan bernyawa seperti diri kita. Saat bumi harus meregangkan tubuhnya, maka gerakan-gerakan bumi menciptakan bencana-bencana buat kita. Sesungguhnya semua bencana yang dihasilkan bumi yang hidup ini bisa diatasi oleh manusia asal manusia mau memahami perilaku buminya dan mau menyesuaikan pola hidupnya sesuai dengan kebesaran buminya.
Sangatlah salah bila manusia menganggap bumi ini benda mati. Sangatlah salah bila manusia berpikir mampu mengeksplorasi bumi sesuka hati. Sangatlah salah jika manusia berpikir mampu menaklukkan bumi.
Bumi tidak pernah diam, bumi terus beraktifitas di dalam kehidupannya. Manusia harus menjadi lebih pintar dan lebih berempati kepada bumi, agar manusia yang menghuninya bisa menjalani kehidupan sambil memahami perilaku buminya.
Setelah serangkaian gempa-gempa besar di bumi Indonesia. Kita seharusnya banyak belajar bahwa bumi yang kita huni ini mengharuskan kita untuk menjalani pola kehidupan yang disesuaikan dengan kondisi bumi kita ini. Gedung-gedung bertingkat yang rubuh dan memperangkap saudara-saudara kita di kota padang oleh gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter, yang juga telah merusak banyak infrastruktur sumatra barat, seharusnya menjadi sebuah awal untuk menyesuaikan kualitas dan kekuatan bangunan infrastruktur yang mampu bertahan dari bumi yang bergerak dengan kekuatan tinggi.
Sebagian besar wilayah Jepang adalah daerah gempa, sama seperti wilayah Indonesia. Tetapi masyarakat Jepang sangat memahami bumi yang mereka huni, dan mereka pun mampu menyesuaikan kualitas dan kekuatan bangunan rumah dan fasilitas lainnya untuk menghadapi gempa-gempa besar. Beberapa gempa besar mulai dari tsunami Aceh, Nias, dan gempa Jogjakarta, Tasikmalaya, Sumatra Barat, dan bagian-bagian Indonesia yang lainnya, seharusnya menjadi titik awal kebangkitan Bangsa Indonesia untuk mulai memahami buminya, dan mulai memperhatikan setiap aspek kualitas gedung-gedung dan infrastruktur agar tahan gempa. Semoga kita mau belajar dari reruntuhan Hotel Ambacang dan gedung LIA di Padang.
Seperti kata sahabat saya si orang Jepang bahwa gempa merupakan bagian dari kehidupan dia sejak kecil. Sebab, bumi yang ia huni selalu bergoyang oleh gempa, tapi secara turun – temurun orang Jepang memahami hal ini, dan tidak berani membangun bangunan yang tidak sesuai dengan perilaku buminya. Kita semua sangat berdukacita melihat begitu banyak korban manusia oleh gempa-gempa yang terjadi di bumi kita. Mungkin kita semua harus segera menyesuaikan pola kehidupan kita dengan bumi kita, agar tidak ada lagi korban-korban yang berjumlah terlalu besar oleh gempa bumi.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, info, inspirasi, manajemen risiko, opini, risk management, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Juli 13, 2009
”Berbisnis Itu Sama Seperti Berperang, Perlu Menyiapkan Semua Kekuatan Internal Dengan Sempurna, Lalu Mempelajari Kekuatan Dan Kelemahan Lawan, Dan Pada Akhirnya Harus Mampu Menaklukkan Semua Kekuatan Lawan.” – Djajendra
Setiap pemilik bisnis pastinya berharap memiliki unit bisnis yang sehat dan menjadi mesin uang yang produktif. Biasanya harapan ini selalu diikuti dengan semangat ekspansi usaha keberbagai segment pasar dan segment customer dengan perilaku sedikit berspekulasi. Sering terkesan tidak fokus, lebih didasari oleh keinginan untuk berlomba dengan kompetitor, serta lebih suka berkaca pada keberhasilan para kompetitor. Bila kompetitor membuat sebuah produk baru, maka yang lainnya pun ikut-ikutan membuat produk sejenis. Selalu saja insting untuk meniru kompetitor, dan sekaligus mengalahkan kompetitor menjadi lebih dominan, sehingga pertarungan ego, gengsi, dan nafsu ini membawa para pemilik bisnis lupa diri untuk membenahi kekuatan fondasi perusahaannya. Mereka lebih asyik bermain-main dengan spekulasi, sambil berharap ada keuntungan yang lebih besar. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian perusahaan menjadi besar karena didorong oleh ego, gengsi, dan nafsu spekulasi tersebut, tapi juga banyak perusahaan yang berkualitas terpaksa gulung tikar oleh para pemimpinnya yang suka berspekulasi dan lalai membangun fondasi yang kuat.
Menurut saya sangat sah untuk bertarung dengan para kompetitior agar pangsa pasar yang ada bisa diambil dan dikelola untuk keuntungan perusahaan. Termasuk segment customer yang perlu diperluas keberbagai tingkatan daya beli customer, sehingga perusahaan bisa bermain diberbagai segment pasar dengan kekuatan penuh. Persoalannya, pertarungan yang tidak diikuti dengan penguatan di semua aspek fundamental bisnis dan organisasi perusahaan, akan menjadi titik lemah yang akan diserang para lawan atau para kompetitior. Oleh karena itu, berkompetisilah dengan kekuatan finansial, kekuatan produktifitas, kekuatan kompetensi, kekuatan sumber daya manusia yang andal, kekuatan efisiensi, dan kekuatan motivasi untuk memenangkan setiap kompetisi di pasar. Jadilah pemenang yang selalu melakukan interospeksi diri; yang selalu mau memperkuat semua aspek fundamental bisnis, organisasi, dan manusia; dengan nilai-nilai, visi, dan misi yang memang pantas untuk diperjuangkan. Pastikan visi bisnis yang Anda miliki mampu menceritakan kejadian-kejadian, perubahan-perubahan, dan tantangan-tantangan yang ada di masa depan; agar Anda selalu bisa melangkah dengan strategi untuk menciptakan kemenangan dan kesuksesan.
Menguatkan fondasi dasar bisnis berarti fokus seratus persen untuk mengawasi setiap titik informasi dari perputaran cash flow; setiap titik informasi dari pergerakan neraca; dan setiap titik informasi dari perubahan-perubahan dilaporan penghasilan atau pun dilaporan keuntungan perusahaan. Setiap titik dan inci informasi dari cash flow, neraca, rugi-laba, dan laporan aset produktif, akan menjadi informasi awal untuk memahami tingkat kesehatan perusahaan. Bila sejak awal Anda mampu menjaga dan merawat semua inci demi inci informasi di atas, maka perusahaan Anda bisa selalu diselamatkan dari serangan-serangan bencana risiko yang tak terditeksi. Anda juga mampu berbisnis dengan prinsip-prinsip yang memperkuat fondasi bisnis Anda, dan para kompetitor Anda pun tidak akan sembarangan berani merebut pangsa pasar yang Anda kuasai. Berbisnis itu sama seperti berperang, perlu menyiapkan semua kekuatan internal dengan sempurna, lalu mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan, dan pada akhirnya harus mampu menaklukkan semua kekuatan lawan.
Jadikanlah visi bisnis Anda sebagai benchmarking untuk membantu memperbesar bisnis Anda, jangan terlalu terobsesi untuk menjadikan perusahaan atau pun bisnis orang lain sebagai benchmarking Anda. Sebab, bisnis atau perusahaan Anda pertumbuhannya akan dibatasi seluas perusahaan yang Anda jadikan sebagai benchmarking atau batas visi Anda. Intinya, Anda boleh atau pun wajib mempelajari kehebatan perusahaan lain, tapi miliki visi Anda sendiri untuk membawa bisnis Anda ke level yang Anda impikan.
Jangan pernah lupa untuk memiliki daya saing yang kuat; jangan pernah lalai untuk memiliki kompetensi bisnis yang dicintai para pelanggan; dan jangan pernah lupa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan nilai-nilai baru yang memperkaya wawasan, keterampilan, dan pengetahuan mereka. Siapkan visi bisnis setinggi langit, visi yang tidak Anda batasi dengan batasan-batasan tertentu. Ciptakan standar bisnis yang terhebat; lalu jadikan bisnis, organisasi, dan manusia korporasi Anda sebagai keunggulan yang tak tertandingi.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, good corporate governance, good governance, manajemen risiko, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Juli 7, 2009
”Saat Orang-Orang Kehilangan Kecerdasan Operasional Atau Pun Kecerdasan Implementasi, Maka Yang Tersisa Hanyalah Janji-Janji Kosong Yang Tak Pernah Berubah Dari Wujud Rencana Dan Strategi Yang Hebat, Dan Tak Pernah Menjadi Realitas.” – Djajendra
Kehidupan korporasi lebih banyak dihabiskan untuk melakukan aktifitas operasional, tetapi sangat jarang ada pencerahan batin untuk memahami kecerdasan operasional atau pun kecerdasan implementasi. Selalu saja perhatian dari para pemimpin dan manajer lebih banyak diberikan kepada hal-hal strategis dan perencanaan. Padahal sebagian besar kegagalan perusahaan diakibatkan oleh lemahnya implementasi, operasional, dan pengawasan. Operasional bisnis yang lemah membuat semua strategi dan rencana yang hebat itu mati tak berkutik. Akibatnya, perusahaan akan terkapar dalam berbagai kesulitan yang biasanya sudah sangat terlambat untuk perbaikan.
Sudah saatnya para pemimpin untuk lebih peduli kepada hal-hal yang berkaitan kepada kecerdasan operasional dan implementasi. Sebab, sering sekali sebuah rencana yang begitu indah dengan janji dan harapan yang luar biasa hebat, ternyata tidak dapat dijalankan seperti tulisan dan kata-kata yang ada direncana tersebut. Dan pada akhirnya, rencana dan strategi yang begitu hebat itu terkubur dalam ketidakmampuan, dalam ketidakcerdasan orang-orang untuk menjadikannya sebagai realitas yang bermanfaat buat kehidupan.
Saat orang-orang kehilangan kecerdasan operasional atau pun kecerdasan implementasi, maka yang tersisa hanyalah janji-janji kosong yang tetap dalam wujud rencana dan strategi yang hebat, tanpa pernah menjadi realitas.
Hari ini dunia bisnis hidup di zaman yang kaya dengan strategi dan informasi; di zaman yang begitu mudah untuk memahami strategi, informasi, dan rencana dari perusahaan mana pun di dunia ini melalui internet; di zaman yang begitu mudah mengcopy atau meniru produk, jasa, visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan dari bagian dunia manapun.
Dunia bisnis yang kaya akan informasi ini sepertinya sangat miskin akan implementasi dan operasional. Buktinya banyak sekali perusahaan-perusahaan yang didirikan dengan meniru perusahaan-perusahaan sukses lainnya, tetapi hanya sangat sedikit yang bisa bertahan, sedangkan mayoritas mati sebelum berkembang. Biasanya perusahaan-perusahaan yang bertahan ini disebabkan oleh kecerdasan operasional dan kecerdasan implementasi dalam wujud eksekusi strategi yang cemerlang dan tepat sasarn.
Kecerdasan operasional ini dapat dimulai dari aksi implementasi strategi bisnis yang tepat guna, birokrasi administrasi yang efektif dan efisien, prosesing yang telitih dan telaten, efisiensi di semua aspek biaya, pemanfaatan teknologi yang efisien dan efektif, pemanfaatan kompetensi sumber daya manusia yang sesuai kebutuhan, kemampuan memaksimalkan kualitas aset-aset produktif untuk menjadi mesin uang, dan percepatan perputaran bisnis dengan kualitas pelayanan terbaik.
Kecerdasan operasional berarti kemampuan dari semua level sumber daya manusia untuk mempunyai energi positif yang seimbang; agar bisa menyatukan dirinya ke dalam sistem, strategi, kebijakan, regulasi, visi, misi, dan nilai-nilai; dalam semangat melaksanakan setiap tugas, pekerjaan, dan tanggung jawab yang sesuai rencana dan strategi, seperti yang tertulis.
Kecerdasan operasional mengajarkan motivasi dan semangat untuk bertindak dengan tegas dan benar. Kecerdasan operasional mengajarkan cara-cara mengeksekusi strategi dengan sempurna, tanpa terikat kepada sikap takut dalam keragu-raguan. Kecerdasan operasional berarti berani bertindak sesuai strategi, berani mengeksekusi setiap rencana dengan penuh percaya diri, dan berani mengambil risiko atas setiap tindakan yang dibuat.
Mental jago strategi di atas kertas haruslah diimbangi dengan mental jago operasional dilapangan secara maksimal. Sebab, sekarang ini sudah banyak sekali orang-orang pintar yang terpenjara di dalam konsep, analisa, dan saran. Dan sangat sedikit orang-orang pintar yang terdidik untuk melakukan operasional dan implementasi di lapangan sesuai strategi dan rencana.
Kecerdasan operasional haruslah menjadi jati diri, etika, budaya, dan moralitas perusahaan di dalam relasinya dengan stakeholder. Tanpa adanya kecerdasan operasional, perusahaan hanya akan menjadi beban buat stakeholdernya, dan tidak pernah menjadi aset yang menguntungkan stakeholder.
untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis dan karier, corporate culture, etos kerja, good corporate governance, good governance, leadership, manajemen risiko, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Mei 13, 2009
“Perusahaan Yang Pintar Pasti Membangun Karakter Pimpinan, Karyawan, Dan Customer Yang Mampu Menyatu Membangun Daya Tahan Perusahaan Dalam Menghadapi Ketidakpastian Bisnis. Termasuk, Bisa Mempertahankan Daya Saing, Produktivitas Dan Profitabilitasnya.” – Djajendra
Ketika Perusahaan berada dalam arah yang tidak pasti di masa krisis ekonomi global ini, sudah seharusnya para pimpinan perusahaan melihat realitas ini untuk melakukan perubahan buat membangun daya saing perusahaan yang lebih baik.
Setiap pimpinan dari fungsi dan peran kerja masing-masing wajib mencari informasi, petunjuk, dan rencana yang jelas untuk bisa bertindak menyelamatkan perusahaan dari badai krisis yang lebih besar.
Jika para pemimpin ikhlas menyatu dalam sebuah tim kerja yang solid, untuk memotivasi dan memberikan harapan yang lebih kepada para karyawan dan customer, maka dapat dipastikan tidak akan ada orang di dalam perusahaan yang membayangkan hal-hal terburuk dari krisis ekonomi global yang sedang terjadi ini.
Para pimpinan bersama-sama semua karyawan dan customer setianya harus menjadi satu kekuatan yang solid untuk menghadapi ketidakpastian bisnis perusahaan.
Setiap perbedaan dan kepentingan harus digantikan dengan kolaborasi dan kerja sama yang saling membantu satu sama lain untuk membuat perusahaan mampu bertahan hidup dari badai krisis ekonomi global.
Jika pimpinan, karyawan, dan customer setia tidak menyatu, maka perusahaan akan kehilangan daya tahannya untuk bisa mempertahankan produktivitas dan profitabilitasnya. Hal ini jelas akan membuat perusahaan sulit untuk tetap bisa survive di masa yang tidak pasti ini.
Setelah perusahaan yakin dengan kekuatan kepemimpinan, karyawan, dan customer setianya, perusahaan harus menentukan arah bisnis secara bijaksana dengan skenario optimistis. Kemudian, membangun komunikasi, kolaborasi, koordinasi yang kuat diantara pimpinan, karyawan, dan customer, untuk bisa bertahan hidup dan berkembang selama masa ketidakpastian bisnis akibat dari krisis ekonomi global ini.
Perusahaan harus mengakui semua kenyataan yang ditimbulkan oleh badai krisis ekonomi global ini. Dan yang terpenting, perusahaan tidak boleh berkeluh-kesah meratapi hambatan dan tantangan yang ada, tapi harus segera menentukan arah untuk mengatur seluru energi positif dari para pimpinan, karyawan, dan customer setia, untuk kemudian membuat strategi-strategi yang kreatif dan dinamis buat menyelamatkan perusahaan dari keruntuhannya.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis dan karier, change management, ekonomi, good corporate governance, leadership, manajemen risiko, opini, team management, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Februari 15, 2009
“Perubahan Itu Diperlukan Agar Hal-Hal Yang Tak Berjalan Dengan Baik Dapat Diperbaiki Untuk Dapat Berjalan Kembali Dengan Lebih Baik.” – Djajendra
Lakukan Perubahan Untuk Memiliki Daya Saing Yang Kuat
Saat perusahaan kehilangan produktivitas, efektifitas dan motivasi untuk berkinerja lebih, manajemen bersama semua kekuatan sumber daya manusia harus bangkit untuk melakukan perubahan yang tepat sasaran. Sebab, jika perusahaan bersama manajemen lalai melakukan perubahan, perusahaan pasti akan menghadapi hari-hari buruk di sepanjang proses operasionalnya dengan hasil yang mengecewakan para stakeholder. Oleh karena itu, pimpinan bersama tim manajemen harus mengetahui cara-cara terefektif untuk melakukan perubahan, yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, bisnis, sumber daya manusia, customer, dan stakeholder lainnya.
Perubahan harusnya dimulai dengan sebuah obsesi besar untuk menjadi lebih efisien dan efektif, atau tepatnya, dengan sebuah motivasi besar untuk berkinerja lebih baik. Di mana untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik itu dibutuhkan daya saing yang kuat, agar bisnis bisa bertumbuh dan menghasilkan keuntungan yang optimal.
Perubahan yang tepat sasaran akan membuat perusahaan mampu menghadapi kompetisi pasar dengan kemenangan.
Berikut tips dalam melakukan perubahan agar perusahaan bisa mencapai kinerja organisasi, bisnis, dan sumber daya manusia yang lebih hebat.
1. Pemilik, Komisaris, Direksi, dan Karyawan harus kompak dan se-visi dalam mendukung setiap perubahan yang dilakukan perusahaan.
2. Setiap orang di perusahaan harus percaya bahwa perubahan yang sedang dilakukan ini akan sangat membantu sukses mereka.
3. Setiap orang di perusahaan memahami apa yang salah dengan cara sekarang ini dan mampu memperbaikinya.
4. Setiap orang di perusahaan telah memiliki semua informasi yang mereka perlukan, untuk melakukan perubahan yang sesuai kebutuhan perusahaan.
5. Setiap orang di perusahaan harus memiliki gambaran yang jelas tentang bagaimana wujud perusahaannya setelah perubahan.
6. Setiap orang di perusahaan telah memahami prioritas perubahan dalam kaitannya dengan kinerja perusahaan.
7. Setiap orang di perusahaan tahu di mana tempat untuk mencari bantuan dan dukungan, bila mereka mempunyai pertanyaan, keluhan, atau tantangan yang berkaitan dengan perubahan.
8. Setiap orang di perusahaan harus yakin dan bersemangat total untuk melakukan perubahan dan menjalankannya dengan senang hati.
9. Setiap orang di perusahaan harus berkomitmen untuk melakukan evaluasi yang jujur dan benar terhadap hasil perubahan.
10. Setiap orang di perusahaan harus bersatupadu dan tidak saling menyalahkan satu sama lain.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, change management, etos kerja, good corporate governance, info, inspirasi, karier, leadership, manajemen risiko, opini, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Februari 10, 2009
”Sebuah Perusahaan Tidak Sekedar Sebuah Unit Bisnis Milik Perorangan, Tapi Merupakan Aset Bangsa Yang Harus Dilindungi Oleh Negara Untuk Menjaga Keamanan Dan Keberlanjutan Kemakmuran Ekonomi Bangsa Tersebut.” -Djajendra
Mungkinkah Kebijakan Proteksi Menjadi Fenomena Ekonomi Abad 21?
Semakin banyak pemimpin dari negara maju yang secara terang-terangan mengatakan, bahwa krisis ekonomi di hari ini merupakan yang terburuk dalam 100 tahun terakhir. Lantas, mereka juga segera mempersiapkan obat ajaib untuk menyembuhkan ekonomi dalam negeri mereka dengan berbagai macam strategi. Salah satunya melalui paket stimulus ekonomi untuk mengamankan perusahaan-perusahaan mereka, termasuk memotivasi masyarakatnya untuk membeli produk dalam negeri dan menghindari produk import.
Sebuah perusahaan tidak sekedar sebuah unit bisnis milik perorangan, tapi merupakan aset bangsa yang harus dilindungi oleh negara untuk menjaga keamanan dan keberlanjutan kemakmuran ekonomi bangsa tersebut. Jadi, bukan tidak mungkin kebijakan proteksi juga diberlakukan oleh negara-negara maju tersebut untuk mengamankan ekonomi dalam negerinya. Dan, bagi Anda yang selama ini pasarnya seratus persen tergantung pada pasar ekspor mungkin kebijakan proteksi adalah kabar buruk. Oleh karena itu, sekarang ini saatnya buat Anda semua untuk merenung sejenak sambil mempelajari fenomena ekonomi dunia yang sedang berubah fokus.
Memang perubahan sedang berlangsung dan setiap pengusaha harus cerdas memahami fenomena perubahan saat ini, agar perusahaan-perusahaan di dalam negeri mampu menjadi unit bisnis yang solid dan kuat, untuk bisa berkontribusi membangun ekonomi dalam negeri yang kuat dan tangguh.
Pastinya negara-negara maju yang terkena krisis ekonomi dan finansial ini akan memberikan berbagai stimulus dan intensif kepada perusahaan-perusahaan di dalam negeri, untuk meningkatkan pasar ekspor mereka dan meminimalkan impor, agar mereka bisa segera memperbaiki kerusakan ekonomi negaranya dengan lebih pasti.
Seperti kita ketahui proteksionisme merupakan kebijakan ekonomi yang membatasi perdagangan antar negara. Caranya, antara lain, dengan pemberlakuan tarif tinggi pada barang impor, pembatasan kuota, dan berbagai upaya menekan impor. Proteksi dimaksudkan untuk mengurangi PHK dalam negeri dan untuk tujuan membuka lapangan kerja baru di dalam negeri.
Jika negara-negara maju yang terkena dampak krisis ekonomi dan finansial ini menjalankan kebijakan proteksi, untuk melindungi pertumbuhan perusahaan di dalam negeri mereka, maka perusahaan-perusahaan yang selama ini mengandalkan pasar ekspor, dengan tujuan ke negara-negara yang melakukan kebijakan proteksi tersebut, pasti akan mengalami kesulitan yang luar biasa. Sebab, pasar yang selama ini di andalkan akan lenyap bersama kebijakan proteksi.
Mungkinkah kebijakan ”Beli Produk Amerika” dalam rencana stimulus perbaikan ekonomi Amerika Serikat akan menjadi ancaman buat para eksportir Indonesia? Waktu pasti akan menjawabnya!
Buat perusahaan-perusahaan Indonesia yang selama ini pasar utamanya ekspor, maka saatnya untuk mempelajari semua fenomena ekonomi di hari ini, agar langkah-langkah strategis yang kreatif dapat diciptakan buat membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan tangguh.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, change management, ekonomi, info, inspirasi, leadership, manajemen risiko, motivasi, opini, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Februari 6, 2009
”Ketika Manajemen Dengan Reputasi Yang Cemerlang Menangani Bisnis Dengan Reputasi Ekonomi Fundamental Yang Buruk, Maka Reputasi Bisnis Manajemen Itu Tetap Utuh.” - Warren Buffett’s Words Of Wisdom
Badai krisis global tidak hanya sibuk memPHK karyawan, tapi juga sekaligus menghancurkan reputasi dan kredibilitas para pemimpin bisnis.
Reputasi para pemimpin bisnis yang selama ini diagung-agungkan sebagai manusia ekonomi yang hebat dan spesial, mulai ditertawakan dan dicemoho oleh banyak orang. Gaji selangit, fasilitas super hebat, dan bonus yang luar biasa, tanpa prestasi dan kredibilitas merupakan realitas yang ada diposisi puncak dunia bisnis.
Dunia bisnis harus bangkit untuk memformat ulang semua kebijakan yang tidak efisien. Keadilan dan keterbukaan di semua aspek dan fungsi kerja haruslah menjadi agenda penting di hari ini agar dapat menata hari esok yang lebih baik dan lebih adil.
Saat ini kesadaran para pemimpin bisnis untuk membangun fondasi bisnis yang tangguh menjadi sangat penting. Untuk itu, para pemimpin bisnis tidak boleh lagi mendominasi panggung bisnis dengan segala kemewahan dan kebohongan, tapi seharusnya memulai dengan segala penghematan dan kejujuran.
Pemimpin bisnis harus berani untuk menjadi tidak serakah, serta mau memotong atau mengurangi besaran gaji dan fasilitas untuk diri sendiri.
Di berbagai negara yang terkena dampak krisis ekonomi, berkembang persepsi negatif dari masyarakatnya tentang reputasi, prestasi, dan kredibilitas buruk para pemimpin bisnis. Jelas, hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para pemimpin bisnis untuk melakukan interospeksi diri, dan kemudian segera memperbaiki kekurangan yang ada. Ingat, kredibilitas dan integritas Anda sebagai pemimpin bisnis sedang dipertaruhkan dalam badai krisis ekonomi kali ini. Tahun 2009 adalah tahun kerja keras buat pemimpin bisnis, dan harus berani memformat ulang semua kekeliruan masa lalu untuk tidak terulang di masa depan.
Berikut beberapa opini dari sebuah artikel Kompas.com 31 Januari 2009.
Pemimpin News Corporation, Rupert Murdoch, menyebutkan, reputasi para eksekutif puncak memang sudah punah sejak September 2008 atau sejak kebangkrutan Lehman Brothers.
PM Brown mengatakan, dia tidak bermaksud menyerang individu-individu di perusahaan. ”Namun jelas kita tidak bisa memberi penghargaan atau memaafkan tindakan tidak bertanggung jawab dan pengambilan risiko bisnis yang berlebihan,” kata PM Brown.
”Kita harus memiliki pemikiran yang jelas, ke mana kita kini akan melangkah, dengan tujuan agar krisis serupa tidak lagi terulang,” kata Merkel.
”Kita kini menghadapi dua ancaman, yakni risiko keresahan sosial dan risiko bangkitnya proteksionisme,” kata Menteri Keuangan Perancis Christine Lagarde.
Tindakan AS dengan kampanye ”beli produk AS” dianggap berbahaya karena dilakukan oleh negara penyerap terbesar ekspor dunia. ”Proteksionisme adalah penyakit yang paling mudah menular,” kata Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, change management, ekonomi, etos kerja, good corporate governance, info, inspirasi, karier, leadership, leadership intelligence, manajemen risiko, opini, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Februari 4, 2009
”Risiko-Risiko Yang Tak Teridentifikasi Ini Sifatnya Tidak Berwujud, Tidak Berwarna, Tidak Beraroma Apa Pun, Tapi Dia Berenergi Sangat Kuat Yang Bisa Melumpuhkan Roda-Roda Bisnis Anda, Termasuk Mengakhiri Pesona Karier Anda Bersama Perusahaan Yang Anda Cintai.” – Djajendra
Melalui Kekuatan Intuisi Anda Pasti Mampu Mengelola Risiko Yang Tidak Teridentifikasi
Konon intuisi yang terlatih dengan sempurna mampu menjadi alat yang ampuh untuk mengelola risiko yang tidak teridentifikasi. Seperti yang kita pahami bahwa dalam manajemen risiko ada namanya risiko yang dapat diukur, dipetakan, diidentifikasikan, dimitigasi, atau dapat dikenali melalui berbagai cara dalam pola ukur intelektual. Tetapi, ada juga risiko-risiko yang sulit diprediksi apalagi diidentifikasi melalui ukuran-ukuran intelektual. Sebab, jenis risiko ini sangat tidak mungkin dibuatkan konsep dan teorinya, jenis risiko ini bisa muncul oleh sebab akibat yang sangat kreatif dan cendrung tanpa batas.
Lantas, bagaimana seharusnya perusahaan mengelola risiko-risiko yang tidak teridentifikasi ini?
Pemimpin perusahaan yang bijak pasti tahu diri bahwa hidup ini tidak pasti, bahwa bisnis itu tidak pasti, dan apa pun mungkin bisa terjadi dalam sebuah proses bisnis. Jadi, ketidakpastian itu adalah bagian nyata yang tak boleh diingkari eksistensinya oleh siapa pun di dalam internal perusahaan.
Bila ketidakpastian ini diingkari maka ketidakmampuan, keangkuhan, penundaan, dan anti perubahan akan menjadi sahabat batin Anda. Jelas, saat ketidakmampuan, keangkuhan, penundaan, dan anti perubahan menguasai diri Anda, Anda akan lupa diri bahwa risiko sedang mengincar bisnis Anda, dan juga mungkin jabatan Anda. Ingat, risiko-risiko yang tak teridentifikasi ini sifatnya tidak berwujud, tidak berwarna, tidak beraroma apa pun, tapi dia berenergi sangat kuat yang bisa melumpuhkan roda-roda bisnis Anda, termasuk mengakhiri pesona karier Anda bersama perusahaan yang Anda cintai.
Diperlukan sikap jujur dan kesadaran total untuk selalu berhati-hati dan berhitung risiko ’sebab – akibat’ dari sebuah proses bisnis. Pimpinan perusahaan harus selalu mengajarkan kepada setiap bawahannya untuk bekerja secara tim dalam lintas fungsi kerja dan antar unit kerja. Termasuk secara disiplin melakukan brainstorming untuk membuat kategori risiko yang saling terkait di antara unit kerja dan fungsi kerja yang ada.
Ketidakpastian merupakan akar dari tumbuhnya beragam risiko yang sering kali terkesan tidak teridentifikasi. Padahal bila Anda mampu melatih intuisi Anda secara sempurna untuk mencium dan melihat melalui mata hati Anda, terhadap berbagai jenis risiko yang tak teridentifikasi ini, maka secara otomatis pikiran bawah sadar Anda akan mengidentifikasikan semua risiko yang tak teridentifikasi itu. Untuk kemudian, agar dapat Anda kelola secara profesional dan menghindari berbagai bencana terhadap perusahaan, bisnis, dan diri Anda sendiri.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, change management, etos kerja, good corporate governance, info, inspirasi, karier, leadership, leadership intelligence, manajemen risiko, opini, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA
Februari 4, 2009
“Saat Anda Berpikir Good Corporate Governance Itu Teori; Saat Anda Berpikir Risk Management Itu Lelucon; Saat Anda Berpikir Bisnis Itu Milik Anda Pribadi. Saatnya Anda Melakukan Interospeksi Diri Secara Mendalam Untuk Menjadi Pribadi Yang Lebih Jujur Dan Lebih Berintegritas Pada Dunia Bisnis.” – Djajendra
Mengelola Perusahaan Dengan Lebih Produktif Dan Mengurangi Mental Konsumtif
Tahun-tahun penuh tantangan telah menunggu di depan Anda, telah menunggu bersama hari esok yang penuh dengan ketidakpastian, dan hari esok yang sangat tergantung kepada keputusan Anda untuk berkerja lebih produktif dan sekaligus menghapus mental konsumtif Anda.
Selama ini para pimpinan perusahaan tergantung kepada gaji yang jumlahnya sangat besar dan terasa tidak adil dengan stakeholder lainnya. Padahal kerja perusahaan adalah kerja kolektif yang membutuhkan kebersamaan dan kesederhanaan dalam bersikap. Pemimpin merupakan sang inspirator dan motivator yang harus bersahabat dengan semua situasi dan kondisi, untuk merangkul semua kekuatan perusahaan agar bisa tetap survive untuk selama-lamanya.
Di masa-masa yang akan datang bila perilaku gaji-gaji besar yang tak masuk akal ini terus berlangsung, maka bersiap-siaplah untuk hidup dalam kesulitan.
Perusahaan-perusahaan saat ini harus dijalankan dengan efisien, efektif, produktif, dan bersinergi.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh para pemimpin korporasi adalah ketulusan hati untuk menurunkan gaji yang diterima saat ini; mengikhlaskan hati untuk mengurangi semua fasilitas-fasilitas yang cendrung konsumtif dan berlebihan; termasuk tidak royal dengan budget kepemimpinan yang dialokasikan perusahaan, untuk ruang gerak pemimpin dalam melakukan operasional bisnis perusahaan.
Keberanian para pemimpin untuk melakukan perubahan agar dirinya dan keluarganya tulus untuk menjalankan pola hidup yang lebih sederhana, adalah cara terhormat untuk melangkah dengan bijak dan bahagia ke hari esok.
Mencintai dan peduli pada perusahaan tempat memberi nafkah untuk stakeholdernya adalah tugas utama dari setiap stakeholdernya.
Pemimpin harus merangkul setiap stakeholder untuk menjadi patner bisnis yang memperkuat semua fondasi perusahaan. Oleh karena itu, pemimpin atau pun pemilik perusahaan harus berani untuk menjadi lebih jujur, lebih berintegritas, tidak serakah, serta berani menjadi pejuang bisnis yang mengutamakan kepentingan stakeholder dari pada kepentingan diri sendiri. Mungkin saja buat Anda semua kata-kata ini terkesan sangat teoritis sekali, tapi ingatlah bahwa masa depan bisnis Anda hanya akan sukses, jika Anda mampu bertindak super efisien, efektif, produktif, dan bersinergi secara total dengan semua stakeholder Anda.
Saatnya Anda bersikap jujur untuk menjaga loyalitas stakeholder, dengan cara hidup yang lebih produktif dan tidak lagi menjadi budak konsumtif.
Di hari ini, pimpinan harus mampu melihat dan merasakan tentang pentingnya bekerja cerdas untuk tetap survive, serta secara tekun fokus pada biaya dan pendapatan perusahaan.
Berbicara tentang efisiensi biaya tidaklah berarti harus mem-PHK karyawan-karyawan yang berjasa, tetapi berbicara tentang bagaimana perusahaan bertindak lebih produktif dan tidak konsumtif, agar biaya produksi bisa menjadi lebih rendah dari sebelumnya, sehingga perusahaan bisa tetap survive dalam pasar yang daya belinya sedang turun.
Ada banyak cara untuk menyelamatkan perusahaan dari krisis ekonomi saat ini. Salah satunya adalah dengan menjadikan semua karyawan sebagai bisnis patner yang harus bekerja cerdas dalam efisiensi yang supertinggi dengan produktifitas yang hebat.
Pimpinan harus bersikap jujur dan memberikan semua informasi yang membuka hati dan pikiran karyawan, untuk berjuang sampai titik darah penghabisan buat menjaga periuk nasi mereka melalui perusahaan yang solid dan kuat.
Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com
Leave a Comment » |
artikel, berita, bisnis, bisnis dan karier, change management, ekonomi, etos kerja, good corporate governance, info, inspirasi, karier, leadership, leadership intelligence, manajemen risiko, motivasi, opini, team management, umum |
Permalink
Ditulis oleh DJAJENDRA