Good Corporate Governance Mendukung Bisnis Untuk Dipercaya Oleh Stakeholders

November 1, 2009

“Jika Anda Berusaha Memahami Dan Menjalankan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Secara Bijaksana, Anda Akan Menjadi Pribadi Baik Dengan Kualitas Diri Yang Sangat Tinggi.” – Djajendra

Dalam sebuah pelatihan seorang peserta bertanya tentang terlalu banyaknya infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan good corporate governance.  Si peserta merasa terlalu banyak komponen yang dibutuhkan untuk menjalankan budaya good corporate governance di perusahaannya. Sebut saja, harus ada bord manual, etika bisnis, code of condact, GCG Code, sop, dan belum lagi ditambah fungsi-fungsi manajemen seperti corporate secretary, compliance, risk management, internal dan eksternal audit, department GCG, dan lain sebagainya.” Apakah semua ini tidak menciptakan biaya yang lebih tinggi?,” Tanya si peserta tersebut.

Saat perusahaan berkomitmen untuk menjalankan bisnisnya dengan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness, maka di butuhkan trust atau kepercayaan. Nah, untuk membangun kepercayaan diperlukan sistem, aturan, dan kebijakan yang sifatnya konsisten.

Memang betul bahwa untuk menjalankan good corporate governance  secara konsisten dan benar diperlukan biaya tambahan, tapi biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menjalankan budaya good corporate governance ini akan menjadi tidak terlalu besar bila bisnis perusahaan menjadi lebih dipercaya dan lebih efisien.

Bisnis adalah kepercayaan, dan saat perusahaan dipercaya oleh setiap stakeholdersnya, maka secara otomatis omset dan pertumbuhan bisnis  akan bertumbuh dengan pesat. Artinya, perusahaan akan menjadi lebih besar dengan keuntungan yang lebih maksimal. Ingat! Tujuan utama dari pelaksanaan good corporate governance adalah untuk memaksimalkan shareholder’s value. Jadi, tidaklah benar bahwa pelaksanaan budaya good corporate governance akan menciptakan biaya tinggi di perusahaan.

Melalui budaya good corporate governance yang benar, perusahaan dapat mengurangi setiap permasalahan yang ada di manajemen, di  operasional, di keuangan, di SDM, dan di semua aspek, fungsi, dan peran organisasi yang lainnya.

Pekerjaan yang berkualitas membutuhkan dukungan yang kuat dari setiap unsur kepemimpinan di perusahaan. Dan saat setiap pemimpin memiliki komitmen yang kuat untuk mendorong mewujudkan budaya good corporate governance di perusahaan, maka secara otomatis perusahaan juga akan menjadi lebih sehat dan lebih kuat bersama nilai-nilai dan prinsip-prinsip budaya good corporate governance.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Rekan Kerja Anda Ingin Merasa Dihargai

Oktober 23, 2009

“Bantulah Selalu Orang Lain Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Mereka Sendiri. Kembangkanlah Keahlian Anda Dalam Membuat Orang Lain Merasa Penting. Sangat Jarang Ada Pujian Yang Lebih Bisa Anda Berikan Pada Seseorang Daripada Membantunya Untuk Menjadi Berguna Dan Untuk Menemukan Kepuasan Karena Ia Berguna.” – Donald Laird.

Salah satu penyebab terjadinya konflik di pekerjaan adalah kurangnya perasaan saling menghargai. Perasaan untuk saling menghargai ini sangat penting dan sangat menentukan kinerja dan keberhasilan perusahaan dalam mencapai target tertinggi. Jika perusahaan bersama-sama pimpinan dan karyawannya tidak mampu mengendalikan diri untuk saling menghargai dalam sebuah keharmonisan hubungan kerja yang baik, maka dapat dipastikan semua hubungan kerja di manajemen perusahaan akan terganggu dan akan tidak berjalan seperti seharusnya.

Setiap fungsi, peran, dan perilaku kerja wajib di atur dalam sebuah panduan etika bisnis perusahaan. Dan, etika bisnis perusahaan ini seharusnya menjadi alat yang melindungi setiap pimpinan dan karyawan perusahaan secara baik. Bila masing-masing orang saling melanggar etika kerja dan etika bisnis perusahaan, maka secara otomatis semua hal baik pun akan hilang dan akan tergantikan oleh hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, setiap pimpinan dan setiap karyawan harus bekerja dengan kesadaran tertinggi untuk selalu patuh menjalankan standard operating procedure(SOP) perusahaan, etika bisnis perusahaan, code of conduct perusahaan, dan semua aturan, sistem, kebijakan, dan peraturan perusahaan secara profesional dan bijaksana.

Hubungan kerja yang saling menghargai hanya dapat terwujud saat perusahaan, pimpinan, dan para pegawainya menjadi satu energi positif untuk menjalankan etika kerja dan etika bisnis perusahaan secara sempurna.

Sikap dan perilaku untuk saling menghargai harus dimulai dari tekad perusahaan untuk menjalankan prinsip-prinsip kerja yang berlandaskan kepada integritas, kinerja, dan membebaskan perusahaan dari konflik kepentingan siapa pun. Artinya, perusahaan benar-benar dijalankan dengan sistem, prosedur, aturan, kebijakan, peraturan, dan energi yang terfokus kepada nilai-nilai yang saling menghargai dan yang saling melengkapi.

Rekan kerja Anda ingin merasa dihargai dan demikian juga dengan diri Anda pasti ingin dihargai. Oleh karena itu, pastikan Anda mampu menjadi pribadi yang berpikir, bertindak, bersikap, dan berperilaku dengan mengedepankan nilai-nilai moral dan nilai-nilai kehidupan yang baik dan positif.  Hanya melalui nilai-nilai kebaikan yang positif, Anda dan rekan kerja Anda bisa saling menyatu untuk menghasilkan kinerja dan prestasi terbaik.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Etika Bisnis Menyelamatkan Para Karyawan Dan Pimpinan Dari Perangkap Masalah

Oktober 22, 2009

”Hitung Hari Yang Hilang Di Mana Matahari Yang Tenggelam Mendapati Anda Tanpa Perbuatan Baik.” – Napoleon Hill

Aktifitas bisnis dilaksanakan dan ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, dan  agar aktifitas bisnis mampu berjalan secara baik diperlukan etika bisnis. Di mana, etika bisnis mampu memagari perilaku pekerjaan sehari-hari di kantor untuk membuat para pemimpin dan karyawan agar tidak terperangkap dalam masalah.

Bila etika bisnis mampu dijalankan secara tegas dan konsisten, maka nilai-nilai yang ada di dalam etika bisnis tersebut dapat menciptakan sebuah aktifitas bisnis yang sehat dan berkualitas tinggi. Sebuah praktik bisnis yang bebas dari konspirasi buruk, yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, sehingga mampu mengoptimalkan shareholders value perusahaan.

Secara prinsip etika bisnis itu mengatur agar para pemimpin dan karyawan di perusahaan tidak menjadi korban dari kegiatan bisnis tersebut. Oleh karena itu, pemahaman etika bisnis harus diikuti dengan kekuatan sifat baik yang didukung oleh nilai-nilai moral kehidupan yang tinggi.

Etika bisnis wajib diimplementasikan secara baik oleh setiap orang di perusahaan, agar mampu memainkan peran dan fungsi manajemennya secara profesional, tanpa keluar dari aturan main yang ada di perusahaan, serta mampu memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik secara bijaksana.

Etika bisnis itu seperti cahaya yang menerangi semua fungsi dan peran kerja karyawan dan pimpinan. Semakin terang pikiran si karyawan dan pimpinan untuk memahami dan mematuhi etika bisnis, akan semakin tinggi kualitas integritas dan kinerja mereka.

Bila para karyawan dan pimpinan mampu mematuhi etika bisnis secara sempurna, maka secara otomatis mereka akan menjadi energi positif perusahaan;  mereka akan menjadi pribadi yang membangun kebaikan di organisasi; mereka akan menjadi pribadi istimewa yang berpotensi meraih sukses tertinggi; mereka akan menjadi pribadi yang dicari-cari oleh perusahaan lain untuk direkrut.

Etika bisnis tidak sekedar aturan yang mengikat para karyawan dan pimpinan di perusahaan, tapi etika bisnis menjadi sebuah energi yang mampu menciptakan nilai tambah buat organisasi.

Etika bisnis adalah perilaku moral dan sikap baik yang menjadi inti dari kekuatan sebuah manajemen,  dan inti dari sebuah kekuatan bisnis.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Pribadi Yang Bertanggung Jawab Dalam Pekerjaan

Oktober 16, 2009

“Tanpa Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaan, Kita Hanya Mempersiapkan Diri Untuk Gagal.” – Djajendra

Apakah Anda seorang pribadi yang merasa bertanggung jawab penuh atas pekerjaan Anda? Bila Anda bingung dan ragu untuk menjawab pertanyaan di atas, maka sebaiknya Anda mulai melakukan interospeksi diri buat mengoptimalkan sikap dan perilaku tanggung jawab Anda kepada pekerjaan Anda.

Tanpa tanggung jawab Anda akan sulit mencapai puncak keberhasilan tertinggi. Tanpa tanggung jawab Anda hanya sibuk mengurusi aksi dan reaksi pekerjaan Anda. Tanpa tanggung jawab Anda tidak akan memiliki antusias, motivasi, dan keberanian untuk menjadi lebih baik. Tanpa tanggung jawab Anda tidak akan dipercaya oleh orang lain.

Setiap pekerjaan membutuhkan tanggung jawab, membutuhkan perhatian dan kepedulian. Anda yang mampu memiliki tanggung jawab dan kepedulian total terhadap pekerjaan Anda, pasti akan menjadi pribadi yang berdedikasi secara total terhadap pekerjaan Anda.

Dalam sebuah acara pelatihan di sebuah perusahaan gas, di daerah Belilas, Riau. Seorang peserta bertanya tentang arti tanggung jawab. Sebuah pertanyaan yang cerdas. Apalagi sangat jarang orang-orang mau bertanya tentang tanggung jawab, kalau bisa orang-orang selalu berupaya untuk mengaburkan makna tanggung jawab. Tetapi, pertanyaan di Belilas ini membuat saya tersenyum, ternyata masih ada orang-orang yang ingin memperkuat integritas dirinya buat mempertanggungjawabkan semua tugas dan pekerjaannya di kantor.

Tanggung jawab berarti memikul semua kewajiban dan beban pekerjaan sesuai dengan batas-batas yang ada di job diskripsi. Setiap karyawan wajib bekerja sesuai tanggung jawab, dan tidak melewati batas-batas tanggung jawab yang ada. Sebab, bila karyawan bekerja melampaui tanggung jawabnya, maka si karyawan tersebut pasti akan melanggar internal control dan etika bisnis perusahaan. Jadi, setiap karyawan harus patuh dan bekerja sesuai dengan apa yang diberikan oleh perusahaan, sebatas tugas dan tanggung jawab yang diperbolehkan oleh perusahaan.

Perusahaan harus benar-benar melakukan evaluasi dan pengkajian kembali terhadap setiap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada karyawan. Sebab, sering sekali perubahan menjadikan sebuah job diskripsi menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, pemberian kepercayaan pada individu-individu karyawan di dalam organisasi perusahaan haruslah dirancang agar para individu tersebut mampu bertanggung jawab dalam pekerjaan sesuai harapan perusahaan.

Semakin besar tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang individu karyawan, maka semakin besar si karyawan harus membangun integritas dirinya dan sekaligus memiliki loyalitas dan keberanian untuk menerima tanggung jawab dari perusahaan.

Tanggung jawab bukanlah sekedar kata-kata yang memperkuat jati diri, tapi tanggung jawab adalah komitmen dan kewajiban untuk melaksanakan semua pekerjaan melalui kompetensi diri yang hebat.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Terjebak Dalam Ruang Kerja

Oktober 16, 2009

“Segala Sesuatu Memberikan Hasil Terbaik Bagi Orang Yang Sebaik Mungkin Memanfaatkan Keadaan.” – John Wooden

Sering sekali para eksekutif terjebak di dalam ruang kerja, yang tidak memberi kesempatan dan waktu buat mereka untuk bersantai bersama keluarga. Dan hal ini terus berlangsung hingga menjadi kultur kerja yang membuat para eksekutif tersebut menjadi sulit untuk meninggalkan urusan kantor di kantor. Di era kerja yang penuh dengan kompetisi ketat ini, waktu menjadi sangat mahal dan sangat berharga, sehingga para eksekutif  harus pintar-pintar mengelola waktu kerja mereka, agar mereka tetap memiliki waktu untuk sejenak bersantai bersama keluarga.
Saya sering mendapatkan beban kerja eksekutif yang melebihi jam kerja mereka, sehingga mau tidak mau mereka harus lembur untuk menyelesaikan kelebihan beban kerja tersebut dengan tambahan waktu. Hal ini berakibat pada hilangnya waktu untuk bersama-sama dengan keluarga mereka.
Memang benar sudah ada time management yang bisa mengatasi berbagai persoalan waktu dan beban kerja, tapi ternyata time management sulit membudaya dalam perilaku kerja yang beban kerjanya tidak terukur secara proporsional. Pada umumnya para eksekutif yang saya pelajari ini memiliki sikap kerja yang mendominasi secara total dari semua aspek kehidupan mereka. Jadi, mereka benar-benar gila kerja dan tidak peduli pada urusan keluarga, yang berakibat hilangnya titik keseimbangan hidup mereka dalam perangkap beban kerja yang berlebihan dan mereka menikmatinya.
Lantas apakah salah bila seseorang sulit meninggalkan urusan kantor di kantor? Atau apakah salah bila seseorang mencampuradukan waktu untuk urusan kantor dengan waktu untuk urusan rumah? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu bisa sangat beragam dan sangat tergantung kepada seberapa nyaman dan bahagia mereka dengan sikap mereka itu. Apabila mereka dan keluarga mereka menikmati semua itu secara wajar, maka tidak ada persoalan apa-apa dengan mencampuradukkan waktu kantor dengan waktu rumah, tapi hal ini jelas berdampak negatif pada sikap kerja yang profesional. Sebab, profesionalisme mengharuskan seseorang untuk mampu memisahkan urusan kantor dan urusan rumah secara tegas dan jelas. Jadi, ketika seseorang membawa urusan kantor sampai ke rumah, maka sesungguhnya ia telah membohongi dirinya sendiri sebagai profesional sejati.
Ketika Anda sulit meninggalkan urusan kantor di kantor, maka sesungguhnya Anda telah gagal menjadi seorang eksekutif yang profesional. Oleh sebab itu, diperlukan upaya serius yang tekun dan penuh disiplin untuk mengajari diri sendiri, agar menjadi lebih patuh pada semua praktik-praktik kerja yang sehat dan baik. Melalui praktik-praktik kerja yang sehat dan baik, Anda akan mendapatkan nilai-nilai kehidupan kerja yang lebih terbuka, lebih adil, lebih jujur, dan lebih bertanggungjawab dalam integritas kerja yang utuh dan profesional.
Mungkin di hari ini Anda bisa sangat menikmati perilaku kerja yang super sibuk, yang membuat Anda tidak mampu membedakan antara waktu kantor dan waktu rumah, tapi perilaku Anda ini akan sangat merugikan potensi Anda untuk jangka panjang, dan Anda akan terperangkap pada rutinitas kerja yang memperbudak Anda. Untuk tujuan menyelamatkan potensi hebat Anda buat masa depan yang lebih cemerlang, Anda harus mau melatih diri secara cerdik agar tidak sulit meninggalkan urusan kantor di kantor, dan Anda mampu memanfaatkan waktu luang  untuk bersama keluarga Anda, sambil mengasah potensi hebat Anda buat masa depan  yang lebih cemerlang.
Ketika Anda sulit meninggalkan urusan kantor di kantor, maka Anda harus bangkit dan berupaya untuk bisa keluar dari perangkap kerja. Bila Anda sulit keluar dari perangkap beban kerja yang berlebihan, Anda hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk diserang dan dikuasai oleh stress, insomnia, depresi, ketegangan otot, dan perasaan yang tidak stabil. Di mana, semua itu merupakan penyakit dari hilangnya titik keseimbangan hidup.
Setiap orang memiliki hak mutlak untuk bersikap seperti yang diinginkannya dalam sebuah pekerjaan, tapi saya menyarankan agar Anda bersikap lebih cerdik sebelum waktu penyesalan tiba.
Apabila Anda terlanjur masuk perangkap rutinitas kerja dengan beban berlebihan, saatnya Anda melakukan perbaikan secara bertahap, Anda tidak mungkin keluar dari perangkap beban kerja berlebihan itu dengan sekaligus, tapi  butuh selangkah demi selangkah untuk melakukan konsolidasi diri seperti yang seharusnya. Oleh sebab itu, saya sarankan Anda sebaiknya memiliki praktik-praktik kerja yang efesien, efektif, produktif, yang Anda yakini mampu mengeluarkan Anda dari perangkap beban kerja berlebihan itu. Pastikan bahwa Anda menguasai tehnik-tehnik kerja yang lebih efektif dan efisien untuk digunakan dalam menyelesaikan semua beban kerja berlebihan tersebut. Latilah diri Anda dengan tehnik-tehnik kerja yang lebih efektif dan efisien itu dan biasakan, lalu jadikan semua itu sebagai etos kerja Anda. Evaluasi semua aktivitas Anda itu secara regular per minggu, per bulan, per tiga bulan, per enam bulan, dan seterusnya, hingga Anda benar-benar terbebas dari perangkap beban kerja berlebihan dan rutinitas kerja yang memperbudak Anda. Hal terpenting adalah secara bertahap Anda mampu meninggalkan urusan kantor di kantor, dan Anda mampu membagi waktu hidup Anda untuk urusan kantor dan untuk urusan rumah secara sehat dan baik. Semua itu akan menghasilkan titik keseimbangan hidup Anda dalam wujud daya tahan mental, emosi, fisik, spiritual, yang lebih unggul dan cemerlang.

Untuk seminar/training silakan hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Memodel Integritas (Modeling Integrity)

Oktober 12, 2009

“Nilailah Integritas Karyawan Melalui Ukuran-Ukuran Yang Jelas Dan Terukur. Jangan Pernah Memiliki Inisiatif Liar Di Luar Ukuran-Ukuran Yang Disepakati Manajemen Puncak.” – Djajendra

Di dalam sebuah acara pelatihan untuk sebuah perusahaan migas di hotel Abadi Suite, kota Jambi. Seorang peserta bertanya tentang cara mengukur integritas. Dan, memang betul bahwa mengukur integeritas selalu bersifat suka-suka si penilai. Dari pengalaman saya, memang tidak ada sebuah ukuran yang seragam dan pasti dalam menentukan integritas seseorang terhadap perusahaan dan pekerjaan.

Jadi, saya suka dengan pertanyaan si peserta itu. Pertanyaan yang sederhana tapi memiliki dampak yang sangat besar di dalam pengelolaan kualitas dan mutu sumber daya manusia. Oleh karena itu, menurut saya pertanyaan si peserta itu sangat bagus dan sangat cerdas. Memang betul bahwa integritas tidak boleh dinilai secara asal-asalan atau suka-suka. Integritas adalah identitas kepribadian seseorang. Integritas adalah kualitas, mutu, kompetensi, kemampuan, kehormatan diri, kejujuran, dan kepatuhan seorang pribadi terhadap tugas dan tanggung jawabnya.  Artinya, persoalan integritas tidaklah boleh dinilai secara sembarangan atau secara asal-asalan. Lantas bagaimana cara sebuah perusahaan menghitung atau menilai integritas para pegawainya? Pertama, perusahaan harus terlebih dahulu membuat definisi integritas yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Setelah definisi integritas tersebut  disepakati melalui keputusan manajemen level tertinggi, maka selanjutnya menentukan hal-hal yang menjadi ukuran di dalam penentuan integritas karyawan. Semua hal-hal yang bersifat kualitatif harus diberi bobot agar bisa dijadikan kuantitatif. Sebab, selama hal-hal tersebut masih di dalam ukuran kualitatif, maka akan sangat sulit untuk melakukan penghitungan yang bersifat jujur dan adil.  Oleh karena itu, setiap bobot yang diberikan kepada setiap kalimat yang mendukung penilaian integritas tersebut haruslah disetujui dan disepakati secara bersama oleh setiap kekuatan diperusahaan. Dan selanjutnya, hasil yang disepakati tersebut wajib dilaksanakan dengan komitmen yang tinggi di dalam konsistensi yang sempurna.

Para manajer di perusahaan wajib melakukan penilaian integritas karyawan melalui ukuran-ukuran yang jelas, ukuran-ukuran yang telah disepakati secara bersama di level manajemen puncak. Tidak boleh ada manajer yang memperlihatkan sikap pribadi di dalam penilaian integritas karyawan. Para manajer  juga wajib memperlihatkan integritas diri masing-masing secara lebih sempurna di dalam melakukan penilaian integritas si karyawan.

Agar para karyawan memiliki integritas yang tinggi terhadap perusahaan, pekerjaan, dan tanggung jawabnya, maka para manajer wajib secara proaktif menginspirasi, memotivasi, dan mendorong energi sukses para karyawan dengan visi dan strategi kerja yang jelas. Para manajer juga harus mampu berpikir berorientasi jangka pendek dan jangka panjang, melalui pengorganisasian, mengalokasikan, pengendalian, dan pemantauan sumber daya secara efektif dan efisien. Termasuk menjadi teladan yang memberi contoh tentang integritas terbaik kepada para karyawan.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Apakah Anda bisa dipercaya?

Oktober 11, 2009

“Hubungan Kepercayaan Yang Dibangun Atas Fondasi Integritas Tertinggi Untuk Saling Memberi Dan Saling Bertoleransi, Tetap Akan Abadi Dan Tidak Akan Pernah Rusak Oleh Badai Kehidupan Apa Pun.” – Djajendra

Ketika saya diminta oleh sebuah perusahaan untuk membangun mental karyawannya dalam rangka mempersiapkan organisasi yang saling mempercayai (trust), mind set saya hanya berpikir kepada sebuah tema “Apakah Anda Bisa Dipercaya?”….Kepercayaan adalah landasan terpenting di dalam bisnis, di dalam kehidupan pribadi, dan di dalam berperusahaan, tetapi sering sekali kebanyakan orang menganggap remeh kepada aspek kepercayaan. Padahal hanya melalui lingkungan kerja yang saling mempercayai, perusahaan akan dapat meningkatkan pelaksanaan good corporate governance secara lebih baik.

Konsep Trust (saling percaya) seharusnya menjadi sebuah awal untuk memantapkan diri Anda, agar diri Anda menjadi pribadi yang terpercaya dan yang dapat dipercaya. Ketika diri Anda sudah menjadi pribadi yang dapat dipercaya, maka Anda sesungguhnya telah menjadi pribadi yang mampu menjalankan semua prinsip good corporate governance secara luar biasa. Sikap jujur Anda dan integritas Anda kepada semua aspek kehidupan secara total akan mengantar Anda kepada kekuatan untuk menjadi pribadi yang terpercaya dan pribadi yang selalu dapat dipercaya dalam situasi dan kondisi apa pun. Oleh karena itu, mulai detik ini juga kembangkan integritas Anda melalui sikap, perilaku, emosi, dan mind set yang menjadikan Anda sebagai pribadi terpercaya, atau pun menjadi pribadi yang selalu dapat dipercaya oleh siapa pun.

Di setiap aspek dan fungsi perusahaan diperlukan peran kepercayaan. Peran kepercayaan di dalam penjualan, peran kepercayaan di dalam manajemen, peran kepercayaan di dalam operasional, peran kepercayaan di dalam pengawasan, peran kepercayaan di dalam branding dan pemasaran, peran kepercayaan di dalam layanan pelanggan, peran kepercayaan di dalam administrasi perusahaan, peran kepercayaan di dalam  kepemimpinan, dan peran kepercayaan di dalam setiap aspek dan aktivitas perusahaan secara tidak terbatas.

Peran kepercayaan ini harus menjadi alat yang memperkuat setiap orang di perusahaan untuk saling merangkul, saling berkontribusi secara profesional, saling berkolaborasi secara baik,  saling mendapatkan kepercayaan, saling memetik hasil kinerja terbaik, dan  saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Kebenaran tentang Trust di Bisnis akan membantu Anda memperkuat semua hubungan Anda dan memungkinkan Anda untuk membangun bisnis dan kehidupan pribadi yang kokoh berdasarkan visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan Anda.

Kepercayaan yang mendalam di organisasi akan memperkuat core value perusahaan kepada penyatuan ke dalam batin para pegawainya, dan semua ini pada akhirnya akan menciptakan cara kerja yang efektif dan yang berkinerja maksimal.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Jangan Biarkan Loyalitas Terkikis Oleh Uang

Oktober 7, 2009

“Loyalitas Adalah Awal Untuk Menghasilkan Kinerja Terbaik. Loyalitas Adalah Awal Untuk Saling Berkontribusi, Saling Berkoordinasi, Saling Berkomunikasi, Saling Membantu Dalam Upaya Menghasilkan Hal-Hal Terbaik Buat Perusahaan Dan Buat Karyawan.” – Djajendra

Sikap loyalitas kepada perusahaan dari waktu ke waktu semakin terkikis oleh godaan uang. Pada saat ini begitu mudahnya seseorang pindah kerja hanya oleh alasan gaji dan fasilitas yang lebih besar dari perusahaan lain. Sepertinya rasa loyal dan rasa cinta pada perusahaan telah hilang oleh rayuan uang dari perusahaan tetangga.
Karyawan sudah tidak memiliki empati terhadap perusahaannya. Uang selalu berbicara di dalam diamnya para pemimpin untuk memperhatikan nasib karyawan, uang telah membuat pikiran teripnotis untuk meraih sukses secara instant dan melupakan semua makna tentang loyalitas. Padahal karyawan adalah inti kekuatan dari sistem dan kultur perusahaan, dan bila inti kekuatan ini hidup dalam keraguan, maka perusahaan pasti sulit mencapai kinerja maksimal.
Sudah saatnya para pemimpin memiliki kesadaran total terhadap karier para karyawannya, demikian juga dengan setiap karyawan seharusnya mendukung perjuangan dan kerja keras perusahaannya untuk menghasilkan kinerja yang hebat.
Hubungan saling mendukung dengan tingkat loyalitas yang tinggi akan mengantarkan perusahaan kelevel kinerja maksimal.
Perusahaan harus memiliki pengharapan yang realistik pada semua kekuatan sumber daya manusianya untuk mencapai visi dan misi perusahaan secara sempurna. Memiliki satu pandangan yang fleksible dalam memperhitungkan rencana dan masa depan kesuksesan perusahaan bersama semua kekuatan manusianya secara total dan utuh.
Kepemimpinan yang beretos kerja super hebat dalam bentuk kesadaran untuk secara tekun dan ulet membangun kualitas kompetensi dan keterampilan semua bawahannya adalah sebuah gaya manajemen yang pro pada kinerja.
Perusahaan selalu mencari kekuatan sumber daya manusia yang dapat dipercaya dan mampu memberi solusi terbaik bagi bisnis. Untuk itu, pemimpin wajib membangun iklim loyalitas dalam mewujudkan semua harapan perusahaan kepada manusianya.
Menata pikiran untuk memperlihatkan loyalitas kepada perusahaan adalah salah satu kekuatan kepemimpinan di masa depan. Bahasa pikiran positif akan membuat pemimpin menjadi terbiasa untuk mengeluarkan perilaku dan tindakan yang bercerita tentang semua kekuatan baik dalam wujud etos kerja yang andal. Menata pikiran loyal akan menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu bersikap positif dan jujur dalam Memperjuangkan setiap inci kepentingan perusahaan dalam bingkai kesetiaan yang tidak patut untuk diragukan.
Karyawan dan pemimpin yang berempati akan menemukan kekuatan untuk mencintai pekerjaan yang sedang ditekuni. Sebuah etos kerja loyalitas hanya akan ada pada saat semua kekuatan manusia perusahaan menyatu dalam kecocokan lingkungan dan jenis pekerjaan yang mereka jalani. Semakin senang mereka dengan hasil kinerja mereka di pekerjaan mereka, maka secara otomatis perasaan ikhlas yang tulus akan mengarahkan mereka untuk membuktikan pengabdiaan tanpa batas kepada perusahaan. Mencintai pekerjaan adalah sebuah etos kerja yang akan menguraikan tindakan, strategi, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memelihara keunggulan kompetitif sumber daya manusia dalam menjawab setiap tantangan dari loyalitas yang muncul akibat perubahan. Semakin sering berkerja dengan berfokus kepada kinerja optimal, akan menjadi semakin cemerlang kualitas loyalitas dari manusia perusahaan. Dengan memiliki integritas kepada kualitas, produktivitas, dan fokus kepada hasil kinerja terbaik, berarti telah berpartisipasi untuk membangun etos kerja yang andal dalam lingkungan kerja perusahaan.
Kinerja maksimal merupakan tujuan utama setiap organisasi bisnis, dan dengan memiliki etos kerja yang berfokus kepada kinerja, manusia perusahaan telah memberikan jawaban positif untuk memperoleh manfaat dari sikap loyal mereka pada perusahaan, sikap loyal pasti mendorong etos kerja yang menindaklanjuti tugas, artinya tidak akan terjadi peristiwa menunda pekerjaan, yang ada adalah sikap proaktif untuk menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin. Sikap loyalitas karyawan dan pimpinan pada perusahaan harus didukung dengan sistem informasi yang benar, misi pekerjaan yang jelas, prosedur dan kebijakan mengerjakan pekerjaan secara hebat, kualitas sumber daya yang tepat.
Sumber daya manusia yang loyal selalu mampu melakukan tindak lanjut pekerjaan dalam sinergi yang melibatkan semua pihak secara proporsional untuk memantau kemajuan dan menerima bantuan lebih lanjut.
Sumber daya manusia yang proaktif dalam menindaklanjuti semua pekerjaan, dalam sikap loyalitas yang tinggi, dengan kesadaran atas tanggung jawab, akan memberi kekuatan pada perusahaan untuk menciptakan nilai-nilai loyalitas sebagai etos kerja.

untuk seminar/training silakan hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Karyawan Kutu Loncat

September 28, 2009

”Buat Karyawan Kutu Loncat Pekerjaan Itu Sifatnya Profesional Yang Harus Saling Menguntungkan. Mereka Bukan Pribadi Yang Mampu Melakukan Pengabdian Total Tanpa Ada Bayaran Yang Wajar.” – Djajendra

Ada dua tipe karyawan yang selalu berjuang untuk meraih karier yang lebih baik dipekerjaan. Pertama, tipe karyawan yang secara setia fokus kepada sebuah perusahaan untuk mencapai jenjang karier tertinggi. Dan yang kedua, tipe karyawan yang suka mencari peluang melalui pindah-pindah kerja, yang biasanya disebut juga sebagai karyawan kutu loncat. Tipe karyawan kutu loncat selalu memiliki pemikiran bahwa hanya melalui pindah kerjalah dia mampu mencapai jabatan, gaji, dan kekuasaan yang lebih tinggi. Untuk itu, tipe karyawan kutu loncat ini selalu secara sempurna mempersiapkan dirinya dengan berbagai kualitas yang unggul, agar di dalam persaingannya dia mampu mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang lebih besar. Masalah loyalitas sangatlah jauh dari mind set para karyawan kutu loncat. Buat mereka pekerjaan itu sifatnya profesional yang harus saling menguntungkan. Mereka bukan pribadi yang mampu melakukan pengabdian total tanpa ada bayaran yang wajar.

Mereka juga tidak mudah diperdaya dan dimanfaatkan oleh perusahaan. Sifat dan karakter  karyawan kutu loncat ini biasanya sangat percaya diri dan sangat yakin bahwa ada jutaan perusahaan yang siap memberikan hal-hal lebih baik kepada mereka dari pada perusahaan mereka yang sekarang. Dan mereka juga sangat terdidik, pintar, cerdik, serta memiliki hubungan pergaulan yang luas. Sebenarnya para karyawan kutu loncat ini adalah aset-aset yang sangat berharga buat perusahaan, tapi karena tidak semua perusahaan pintar untuk memanfaatkan potensi dan kecerdasan mereka, maka para kutu loncat ini selalu berpetualang dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mendapatkan semua impian dan harapan mereka. Jarang sekali seorang karyawan kutu loncat bisa bertahan lebih dari tiga tahun di sebuah perusahaan. Dengan kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki, mereka tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan – pekerjaan baru yang lebih baik. Dalam banyak peristiwa yang saya amati, para karyawan kutu loncat ini selalu mencapai prestasi tinggi lebih cepat dibandingkan para karyawan yang fokus pada sebuah perusahaan. Pertanyaannya adalah siapakah Anda? Apakah Anda tipe karyawan kutu loncat yang suka berpetualangan dari satu perusahaan ke perusahaan lain, atau Anda seorang yang sangat loyal kepada perusahaan Anda? Hidup Anda adalah milik Anda dan semua keputusan Anda adalah hak Anda.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Setiap Pekerjaan Harus Dapat Diukur

September 24, 2009

”Jangan Pernah Mengabaikan Untuk Mengukur Dan Mengelola Kualitas Pekerjaan Yang Anda Kerjakan Sendiri. Miliki Integritas Untuk Mengatur Diri Anda Bersama Tanggung Jawab Pekerjaan Anda. Pastikan Anda Selalu Berhasil Mengelola Orang Lain Dengan Sempurna Dan Mengelola Diri Anda Sendiri Dengan Lebih Sempurna.” – Djajendra

Apakah benar seorang pekerja itu produktif? Apakah benar seorang pekerja itu menghasilkan mutu barang atau jasa yang berkualitas tinggi? Apakah benar seorang pekerja itu berkinerja optimal? Apakah benar seorang pekerja itu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang tinggi buat perusahaan?

Apakah benar seorang pekerja itu memiliki loyalitas yang tinggi kepada perusahaan? Apakah benar seorang pekerja itu bekerja berdasarkan etika bisnis yang mulia? Apakah benar seorang pekerja itu bahagia bersama perusahaan dan pekerjaannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tersebut biasanya diperlukan untuk memastikan bahwa sebuah pekerjaan dilakukan secara terukur dan benar.

Di zaman yang penuh persaingan ketat ini,  perusahaan sudah tidak lagi sekedar berpendapat tentang kualitas karyawannya, tapi wajib mengukur setiap pekerjaan karyawannya melalui data-data yang benar dan akurat, lalu mengembangkan kualitas para karyawannya untuk bekerja secara optimal sesuai sasaran tertinggi perusahaan.

Jika para manajer di setiap level dan di setiap unit kerja tidak bisa mengukur sebuah hasil pekerjaan, maka para manajer tersebut pasti tidak bisa mengelola pekerjaannya dengan baik. Hasilnya, mungkin perusahaan akan sulit bertahan dan bersaing di pasar bisnis yang ketat.

Sekarang ini zamannya di mana setiap manajer wajib bekerja dengan menggunakan data-data pekerjaan yang benar dan terukur, buat mengambil keputusan-keputusan penting dalam memaksimalkan sasaran dan target.

Setiap target, sasaran, dan upaya kerja harus didukung dengan informasi bisnis dan kemampuan perusahaan yang sesungguhnya. Bukan sekedar imajinasi yang bersifat spekulatif atau coba-coba.

Perusahaan harus membangun kekuatan kerjanya untuk tidak hanya sekedar bertahan melawan ketatnya kompetisi, tapi mengukur setiap pekerjaan diperusahaan dengan cara-cara yang benar, lalu memfokuskan perusahaan untuk berkembang sesuai visi dan misi.

Perusahaan wajib membangun sebuah standar pengukuran pekerjaan yang bersifat konsisten untuk setiap aspek kerja secara total. Ukuran-ukuran kerja itu bisa dalam wujud  persentase, uang, jumlah, jam, kepuasan kerja, perasaan bahagia, dan ukuran kinerja yang lainnya.

Setiap manajer tidak hanya harus pintar untuk mengukur kinerja para bawahannya, tapi juga harus pintar untuk mengukur dan mengelola kinerja dirinya sendiri secara profesional dan jujur.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com