Menjalani Karier Sesuai Impian Dan Harapan Bukanlah Perkara Sulit

November 8, 2009

”Setiap Kali Menghadapi Kemunduran, Saya Memperbaiki Diri Dan Melanjutkan Hidup Karena Saya Percaya Pada Diri Saya Sendiri.” – Sir Philip Green, Miliarder, Pengusaha Ritel

”Sering Kali Seseorang Mencari Sesuatu, Tetapi Menemukan Yang Lain.” – Neem Karoli Baba

“Uang Bukanlah Tuhan Maupun Iblis Saya. Melainkan Sebentuk Energi Yang Cendrung Menegaskan Siapa Diri Kita, Apakah Seorang Tamak Atau Penyayang.” – Dan Millman, Penulis

Apakah Anda lebih suka memperjuangkan arah karier kerja Anda sesuai impian dan harapan Anda, atau Anda lebih suka mengalir seperti air dan membiarkan nasib yang menentukan karier kerja Anda?

Apa pun pekerjaan yang sedang Anda lakoni saat ini, bila Anda mau bertanggung jawab, fokus, tekun, jujur, berkomitmen, ulet, dan selalu belajar mencintai pekerjaan tersebut, maka yakinlah bahwa Anda pasti akan mencapai tingkat kepuasan tertinggi dari karier kerja yang sedang Anda jalani tersebut.

Apa pun pilihan Anda itu adalah hak Anda, tetapi sebaiknya jadikanlah diri Anda sebagai pusat kekuatan yang menentukan arah karier kerja Anda.

Menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala keinginan diri adalah hal terbaik, termasuk memiliki kesadaran total untuk berkarier dengan visi, komitmen, ketekunan, sikap jujur, dan tanggung jawab dalam mencapai semua impian dan harapan.

Menjalani karier kerja sesuai impian dan harapan bukanlah perkara sulit. Anda yang memiliki inteligensi emosi baik, inteligensi intelektual, inteligensi logika, dan inteligensi terhadap semua bakat dan potensi diri Anda, pasti mampu mengatur diri Anda untuk berkarier sesuai impian dan harapan.

Karier kerja yang hebat itu lahir dari sikap optimis diri sendiri untuk memperjuangkan pekerjaan yang sedang dilakoni secara total, tanpa pernah merasa lelah atau bosan. Jadi, jangan pernah Anda menempatkan keraguan apa pun atas setiap langkah Anda menuju perjuangan total dalam semangat mewujudkan karier kerja Anda yang hebat. Tetapi, pastikan Anda selalu bersemangat, bekerja cerdas, dan menjadi pemenang dalam setiap tekanan dan ketegangan yang mencoba membuat Anda ragu.

Jadilah pribadi tangguh yang mampu menyingkirkan semua hambatan yang mencoba menghalangi laju karier kerja Anda, dan miliki mental pemenang untuk menaklukan semua penghambat karier kerja Anda. Percayalah, Anda pasti mampu memperkuat keunggulan semua bakat dan potensi diri Anda, melalui sikap sabar, pikiran jernih, dan mental pejuang.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Good Corporate Governance Perlu Di Motivasi Ke Mind Set Karyawan

Oktober 22, 2009

“Sebelum Menganugerahi Anda Dengan Kesuksesan Besar, Kesempatan Biasanya Menguji Keteguhan Hati Anda Melalui Kesulitan.” – Napoleon Hill

Ketika tulisan ini di buat saya sedang berada di kota Jambi. Saya sedang melakukan sebuah perjalanan mengelilingi pulau Sumatra bersama tim good corporate governance dari sebuah perusahaan besar, yang memiliki banyak cabang di pulau Sumatra. Saya diajak tim good corporate governance tersebut untuk memberikan motivasi kepada para pegawai mereka, motivasi untuk menjalankan good corporate governance dan etika bisnis perusahaan secara baik.

Pelatihan yang saya lakukan bersama tim GCG ini sifatnya kolaborasi, kami semua menjadi satu tim yang saling melengkapi. Konsep pelatihan kolaborasi memang masih sangat jarang dipraktikan di Indonesia, tapi saya sangat kagum dengan kekompakkan dan kemenyatuan tim GCG bersama diri saya di dalam perjalanan yang sangat membahagiakan hati ini. Tidak ada rasa lelah, tidak ada keluh-kesah, tidak ada wajah tanpa senyum. Setiap orang mampu memainkan peran dan fungsi masing-masing dengan luar biasa hebat. Saya benar-benar menemukan kekuatan energi positif yang luar biasa dari tim GCG tersebut.

Sudah tidak zamannya lagi pelatihan pegawai bersifat satu arah, semua pelatihan pegawai harus bersifat multi arah. Artinya, setiap individu wajib secara proaktif berpartisipasi untuk mengutarakan pendapat dan ide mereka buat kemajuan perusahaan dan kemajuan diri mereka sendiri.

Diperlukan pencerahan untuk menerangi batin dan pikiran para pegawai, sebab di dalam kegelapan batin dan pikiran para pegawai tidak akan mampu melihat apa pun. Mereka hanya mampu mendengar suara tanpa mampu melihat, dan bila suara yang mereka dengar itu suara negatif, maka mereka akan menjadi pribadi negatif, walaupun di batin dan pikiran mereka ada benih-benih untuk berpikir dan bertindak positif. Diperlukan pencerahan secara berkelanjutan untuk membuat para pegawai benar-benar memahami prinsip-prinsip positif dibalik praktik good corporate governance. Diperlukan kalimat-kalimat positif yang menegaskan nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam good corporate governance. Diperlukan pribadi-pribadi yang berpikiran luas dan dewasa untuk menyampaikan kalimat-kalimat baik tentang good corporate governance dan etika bisnis. Dan, saya sangat beruntung dapat ditemani oleh sebuah tim GCG yang luar biasa cerdas, dewasa, dan menguasai semua seluk beluk permasalahan secara bijaksana.

Pelatihan yang baik tidak hanya tergantung kepada sang pelatih atau pembicara, tapi sangat tergantung kepada pengetahuan, pengalaman, kedewasaan, dan kebesaran hati dari para pribadi yang bertanggung jawab kepada pelatihan tersebut.

Di sepanjang perjalanan saya bersama tim GCG ini, saya menemukan pribadi-pribadi dewasa yang bijaksana dan sangat berpengalaman di bidang pekerjaan mereka, sehingga aura dan intuisi mereka lebih berbicara daripada kata-kata yang terucap.

Perjalanan saya bersama tim GCG ini masih tersisa satu minggu lagi, perjalanan bahagia yang sulit terlupakan. Saya menulis tulisan ini dari lobi Abadi Hotel & Convention Center, kota Jambi, di jalan Jend Gatot Subroto No.92-98.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Etika Bisnis Menyelamatkan Para Karyawan Dan Pimpinan Dari Perangkap Masalah

Oktober 22, 2009

”Hitung Hari Yang Hilang Di Mana Matahari Yang Tenggelam Mendapati Anda Tanpa Perbuatan Baik.” – Napoleon Hill

Aktifitas bisnis dilaksanakan dan ditujukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, dan  agar aktifitas bisnis mampu berjalan secara baik diperlukan etika bisnis. Di mana, etika bisnis mampu memagari perilaku pekerjaan sehari-hari di kantor untuk membuat para pemimpin dan karyawan agar tidak terperangkap dalam masalah.

Bila etika bisnis mampu dijalankan secara tegas dan konsisten, maka nilai-nilai yang ada di dalam etika bisnis tersebut dapat menciptakan sebuah aktifitas bisnis yang sehat dan berkualitas tinggi. Sebuah praktik bisnis yang bebas dari konspirasi buruk, yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, sehingga mampu mengoptimalkan shareholders value perusahaan.

Secara prinsip etika bisnis itu mengatur agar para pemimpin dan karyawan di perusahaan tidak menjadi korban dari kegiatan bisnis tersebut. Oleh karena itu, pemahaman etika bisnis harus diikuti dengan kekuatan sifat baik yang didukung oleh nilai-nilai moral kehidupan yang tinggi.

Etika bisnis wajib diimplementasikan secara baik oleh setiap orang di perusahaan, agar mampu memainkan peran dan fungsi manajemennya secara profesional, tanpa keluar dari aturan main yang ada di perusahaan, serta mampu memahami apa yang baik dan apa yang tidak baik secara bijaksana.

Etika bisnis itu seperti cahaya yang menerangi semua fungsi dan peran kerja karyawan dan pimpinan. Semakin terang pikiran si karyawan dan pimpinan untuk memahami dan mematuhi etika bisnis, akan semakin tinggi kualitas integritas dan kinerja mereka.

Bila para karyawan dan pimpinan mampu mematuhi etika bisnis secara sempurna, maka secara otomatis mereka akan menjadi energi positif perusahaan;  mereka akan menjadi pribadi yang membangun kebaikan di organisasi; mereka akan menjadi pribadi istimewa yang berpotensi meraih sukses tertinggi; mereka akan menjadi pribadi yang dicari-cari oleh perusahaan lain untuk direkrut.

Etika bisnis tidak sekedar aturan yang mengikat para karyawan dan pimpinan di perusahaan, tapi etika bisnis menjadi sebuah energi yang mampu menciptakan nilai tambah buat organisasi.

Etika bisnis adalah perilaku moral dan sikap baik yang menjadi inti dari kekuatan sebuah manajemen,  dan inti dari sebuah kekuatan bisnis.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Jangan Biarkan Loyalitas Terkikis Oleh Uang

Oktober 7, 2009

“Loyalitas Adalah Awal Untuk Menghasilkan Kinerja Terbaik. Loyalitas Adalah Awal Untuk Saling Berkontribusi, Saling Berkoordinasi, Saling Berkomunikasi, Saling Membantu Dalam Upaya Menghasilkan Hal-Hal Terbaik Buat Perusahaan Dan Buat Karyawan.” – Djajendra

Sikap loyalitas kepada perusahaan dari waktu ke waktu semakin terkikis oleh godaan uang. Pada saat ini begitu mudahnya seseorang pindah kerja hanya oleh alasan gaji dan fasilitas yang lebih besar dari perusahaan lain. Sepertinya rasa loyal dan rasa cinta pada perusahaan telah hilang oleh rayuan uang dari perusahaan tetangga.
Karyawan sudah tidak memiliki empati terhadap perusahaannya. Uang selalu berbicara di dalam diamnya para pemimpin untuk memperhatikan nasib karyawan, uang telah membuat pikiran teripnotis untuk meraih sukses secara instant dan melupakan semua makna tentang loyalitas. Padahal karyawan adalah inti kekuatan dari sistem dan kultur perusahaan, dan bila inti kekuatan ini hidup dalam keraguan, maka perusahaan pasti sulit mencapai kinerja maksimal.
Sudah saatnya para pemimpin memiliki kesadaran total terhadap karier para karyawannya, demikian juga dengan setiap karyawan seharusnya mendukung perjuangan dan kerja keras perusahaannya untuk menghasilkan kinerja yang hebat.
Hubungan saling mendukung dengan tingkat loyalitas yang tinggi akan mengantarkan perusahaan kelevel kinerja maksimal.
Perusahaan harus memiliki pengharapan yang realistik pada semua kekuatan sumber daya manusianya untuk mencapai visi dan misi perusahaan secara sempurna. Memiliki satu pandangan yang fleksible dalam memperhitungkan rencana dan masa depan kesuksesan perusahaan bersama semua kekuatan manusianya secara total dan utuh.
Kepemimpinan yang beretos kerja super hebat dalam bentuk kesadaran untuk secara tekun dan ulet membangun kualitas kompetensi dan keterampilan semua bawahannya adalah sebuah gaya manajemen yang pro pada kinerja.
Perusahaan selalu mencari kekuatan sumber daya manusia yang dapat dipercaya dan mampu memberi solusi terbaik bagi bisnis. Untuk itu, pemimpin wajib membangun iklim loyalitas dalam mewujudkan semua harapan perusahaan kepada manusianya.
Menata pikiran untuk memperlihatkan loyalitas kepada perusahaan adalah salah satu kekuatan kepemimpinan di masa depan. Bahasa pikiran positif akan membuat pemimpin menjadi terbiasa untuk mengeluarkan perilaku dan tindakan yang bercerita tentang semua kekuatan baik dalam wujud etos kerja yang andal. Menata pikiran loyal akan menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu bersikap positif dan jujur dalam Memperjuangkan setiap inci kepentingan perusahaan dalam bingkai kesetiaan yang tidak patut untuk diragukan.
Karyawan dan pemimpin yang berempati akan menemukan kekuatan untuk mencintai pekerjaan yang sedang ditekuni. Sebuah etos kerja loyalitas hanya akan ada pada saat semua kekuatan manusia perusahaan menyatu dalam kecocokan lingkungan dan jenis pekerjaan yang mereka jalani. Semakin senang mereka dengan hasil kinerja mereka di pekerjaan mereka, maka secara otomatis perasaan ikhlas yang tulus akan mengarahkan mereka untuk membuktikan pengabdiaan tanpa batas kepada perusahaan. Mencintai pekerjaan adalah sebuah etos kerja yang akan menguraikan tindakan, strategi, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memelihara keunggulan kompetitif sumber daya manusia dalam menjawab setiap tantangan dari loyalitas yang muncul akibat perubahan. Semakin sering berkerja dengan berfokus kepada kinerja optimal, akan menjadi semakin cemerlang kualitas loyalitas dari manusia perusahaan. Dengan memiliki integritas kepada kualitas, produktivitas, dan fokus kepada hasil kinerja terbaik, berarti telah berpartisipasi untuk membangun etos kerja yang andal dalam lingkungan kerja perusahaan.
Kinerja maksimal merupakan tujuan utama setiap organisasi bisnis, dan dengan memiliki etos kerja yang berfokus kepada kinerja, manusia perusahaan telah memberikan jawaban positif untuk memperoleh manfaat dari sikap loyal mereka pada perusahaan, sikap loyal pasti mendorong etos kerja yang menindaklanjuti tugas, artinya tidak akan terjadi peristiwa menunda pekerjaan, yang ada adalah sikap proaktif untuk menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin. Sikap loyalitas karyawan dan pimpinan pada perusahaan harus didukung dengan sistem informasi yang benar, misi pekerjaan yang jelas, prosedur dan kebijakan mengerjakan pekerjaan secara hebat, kualitas sumber daya yang tepat.
Sumber daya manusia yang loyal selalu mampu melakukan tindak lanjut pekerjaan dalam sinergi yang melibatkan semua pihak secara proporsional untuk memantau kemajuan dan menerima bantuan lebih lanjut.
Sumber daya manusia yang proaktif dalam menindaklanjuti semua pekerjaan, dalam sikap loyalitas yang tinggi, dengan kesadaran atas tanggung jawab, akan memberi kekuatan pada perusahaan untuk menciptakan nilai-nilai loyalitas sebagai etos kerja.

untuk seminar/training silakan hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Karyawan Kutu Loncat

September 28, 2009

”Buat Karyawan Kutu Loncat Pekerjaan Itu Sifatnya Profesional Yang Harus Saling Menguntungkan. Mereka Bukan Pribadi Yang Mampu Melakukan Pengabdian Total Tanpa Ada Bayaran Yang Wajar.” – Djajendra

Ada dua tipe karyawan yang selalu berjuang untuk meraih karier yang lebih baik dipekerjaan. Pertama, tipe karyawan yang secara setia fokus kepada sebuah perusahaan untuk mencapai jenjang karier tertinggi. Dan yang kedua, tipe karyawan yang suka mencari peluang melalui pindah-pindah kerja, yang biasanya disebut juga sebagai karyawan kutu loncat. Tipe karyawan kutu loncat selalu memiliki pemikiran bahwa hanya melalui pindah kerjalah dia mampu mencapai jabatan, gaji, dan kekuasaan yang lebih tinggi. Untuk itu, tipe karyawan kutu loncat ini selalu secara sempurna mempersiapkan dirinya dengan berbagai kualitas yang unggul, agar di dalam persaingannya dia mampu mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang lebih besar. Masalah loyalitas sangatlah jauh dari mind set para karyawan kutu loncat. Buat mereka pekerjaan itu sifatnya profesional yang harus saling menguntungkan. Mereka bukan pribadi yang mampu melakukan pengabdian total tanpa ada bayaran yang wajar.

Mereka juga tidak mudah diperdaya dan dimanfaatkan oleh perusahaan. Sifat dan karakter  karyawan kutu loncat ini biasanya sangat percaya diri dan sangat yakin bahwa ada jutaan perusahaan yang siap memberikan hal-hal lebih baik kepada mereka dari pada perusahaan mereka yang sekarang. Dan mereka juga sangat terdidik, pintar, cerdik, serta memiliki hubungan pergaulan yang luas. Sebenarnya para karyawan kutu loncat ini adalah aset-aset yang sangat berharga buat perusahaan, tapi karena tidak semua perusahaan pintar untuk memanfaatkan potensi dan kecerdasan mereka, maka para kutu loncat ini selalu berpetualang dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mendapatkan semua impian dan harapan mereka. Jarang sekali seorang karyawan kutu loncat bisa bertahan lebih dari tiga tahun di sebuah perusahaan. Dengan kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki, mereka tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan – pekerjaan baru yang lebih baik. Dalam banyak peristiwa yang saya amati, para karyawan kutu loncat ini selalu mencapai prestasi tinggi lebih cepat dibandingkan para karyawan yang fokus pada sebuah perusahaan. Pertanyaannya adalah siapakah Anda? Apakah Anda tipe karyawan kutu loncat yang suka berpetualangan dari satu perusahaan ke perusahaan lain, atau Anda seorang yang sangat loyal kepada perusahaan Anda? Hidup Anda adalah milik Anda dan semua keputusan Anda adalah hak Anda.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Setiap Pekerjaan Harus Dapat Diukur

September 24, 2009

”Jangan Pernah Mengabaikan Untuk Mengukur Dan Mengelola Kualitas Pekerjaan Yang Anda Kerjakan Sendiri. Miliki Integritas Untuk Mengatur Diri Anda Bersama Tanggung Jawab Pekerjaan Anda. Pastikan Anda Selalu Berhasil Mengelola Orang Lain Dengan Sempurna Dan Mengelola Diri Anda Sendiri Dengan Lebih Sempurna.” – Djajendra

Apakah benar seorang pekerja itu produktif? Apakah benar seorang pekerja itu menghasilkan mutu barang atau jasa yang berkualitas tinggi? Apakah benar seorang pekerja itu berkinerja optimal? Apakah benar seorang pekerja itu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang tinggi buat perusahaan?

Apakah benar seorang pekerja itu memiliki loyalitas yang tinggi kepada perusahaan? Apakah benar seorang pekerja itu bekerja berdasarkan etika bisnis yang mulia? Apakah benar seorang pekerja itu bahagia bersama perusahaan dan pekerjaannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tersebut biasanya diperlukan untuk memastikan bahwa sebuah pekerjaan dilakukan secara terukur dan benar.

Di zaman yang penuh persaingan ketat ini,  perusahaan sudah tidak lagi sekedar berpendapat tentang kualitas karyawannya, tapi wajib mengukur setiap pekerjaan karyawannya melalui data-data yang benar dan akurat, lalu mengembangkan kualitas para karyawannya untuk bekerja secara optimal sesuai sasaran tertinggi perusahaan.

Jika para manajer di setiap level dan di setiap unit kerja tidak bisa mengukur sebuah hasil pekerjaan, maka para manajer tersebut pasti tidak bisa mengelola pekerjaannya dengan baik. Hasilnya, mungkin perusahaan akan sulit bertahan dan bersaing di pasar bisnis yang ketat.

Sekarang ini zamannya di mana setiap manajer wajib bekerja dengan menggunakan data-data pekerjaan yang benar dan terukur, buat mengambil keputusan-keputusan penting dalam memaksimalkan sasaran dan target.

Setiap target, sasaran, dan upaya kerja harus didukung dengan informasi bisnis dan kemampuan perusahaan yang sesungguhnya. Bukan sekedar imajinasi yang bersifat spekulatif atau coba-coba.

Perusahaan harus membangun kekuatan kerjanya untuk tidak hanya sekedar bertahan melawan ketatnya kompetisi, tapi mengukur setiap pekerjaan diperusahaan dengan cara-cara yang benar, lalu memfokuskan perusahaan untuk berkembang sesuai visi dan misi.

Perusahaan wajib membangun sebuah standar pengukuran pekerjaan yang bersifat konsisten untuk setiap aspek kerja secara total. Ukuran-ukuran kerja itu bisa dalam wujud  persentase, uang, jumlah, jam, kepuasan kerja, perasaan bahagia, dan ukuran kinerja yang lainnya.

Setiap manajer tidak hanya harus pintar untuk mengukur kinerja para bawahannya, tapi juga harus pintar untuk mengukur dan mengelola kinerja dirinya sendiri secara profesional dan jujur.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Keputusan Yang Baik Dihasilkan Melalui Informasi Yang Benar Dan Akurat

September 23, 2009

“Sebuah Ide Cemerlang Yang Bila Tidak Searah Dengan Realitas Kehidupan, Maka Ide Cemerlang Itu Hanya Menjadi Cemerlang Sebatas Di Atas Kertas.” – Djajendra

Sering sekali kita mendapatkan ide-ide yang luar biasa cemerlang, lalu dengan ide-ide cemerlang tersebut kita mencoba membuat keputusan-keputusan yang luar biasa hebat. Tetapi setelah ide-ide hebat itu dikerjakan dan dijalankan, ternyata hasil akhirnya tidak seperti yang ada direncana kita. Lantas di mana salahnya? Salahnya adalah kita malas untuk memahami realitas dan informasi yang benar. Kita lebih suka menggunakan selera dan keyakinan kita dibandingkan fakta dan informasi yang benar.

Kita selalu lalai untuk melakukan pengukuran, penganalisaan, dan menghubungkan ide-ide cemerlang kita kepada realitas kebutuhan. Kita selalu berpikir bahwa pekerjaan mengukur, menganalisa, dan menghubungkan adalah pekerjaan sia-sia yang hanya membuang-buang waktu dan tidak efektif. Padahal sebuah ide cemerlang yang bila tidak searah dengan realitas kehidupan, maka ide cemerlang itu hanya menjadi cemerlang sebatas di atas kertas.

Memang benar bahwa kita semua harus menjadi pribadi yang tegas dan berani dalam menjalankan ide-ide terbaik kita. Tetapi bukan berarti kita langsung terjun bersama ide-ide hebat tersebut tanpa memahami realitas yang ada di lapangan.

Suatu ketika ada seorang kenalan yang bercerita tentang kisah kegagalan bersama proyek cemerlang. Kenalan saya itu merasa ide-idenya sudah luar biasa hebat, dan dia langsung melompat ke dalam tindakan dan terus bergerak maju tanpa sedikitpun ragu tentang keberhasilan dirinya bersama proyek cemerlangnya tersebut. Beberapa hari lalu dia bercerita kisah sedih tentang kerugian dan kehilangan banyak uang oleh proyek cemerlangnya tersebut. Di mana salah dia? Ternyata salahnya ada pada keyakinan yang berlebihan, tapi miskin dengan informasi yang benar dan akurat. Hasilnya bukan kinerja hebat yang dia dapatkan, tapi kerugian demi kerugian yang akhirnya membuat dirinya terperangkap pada kebingungan untuk menjalani hari esok.

Sehebat apa pun ide-ide yang Anda miliki ada baiknya Anda bersedia untuk mengukur kemampuan ide-ide Anda tersebut dalam menghasilkan manfaat buat kehidupan orang lain. Sebab, bila ide-ide Anda tersebut tidak mampu menghasilkan manfaat buat orang lain, maka dapat dipastikan ide-ide Anda tersebut sulit menciptakan nilai tambah kebaikan buat kehidupan diri Anda dan buat orang-orang disekitar Anda.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Jadikan Suasana Meeting Anda Berkualitas

September 7, 2009

“Pengambilan Keputusan Yang Hebat Didasari Oleh Mempercayai Dan Mengikuti Intuisi Serta Insting Anda.” – Ruben Gonzalez

Tanpa sadar sering sekali para pimpinan masuk dalam perangkap meeting, di mana terus-menerus berdebat sambil mempertahankan ide. Biasanya akan berlangsung berlarut-larut tanpa ada yang dapat menghentikannya, serta sangat melelahkan dan membosankan semua pihak.

Sebuah perilaku meeting adalah gambaran utuh tentang organisasi, kepemimpinan, keterampilan manajemen, kompetensi, dan budaya kerja.

Saat para pimpinan sibuk berdebat tanpa solusi, maka organisasi tersebut menggambarkan cara kerja yang tidak efektif dan tidak efisien. Oleh karena itu, meeting atau pertemuan harus dikelola dengan komitmen yang jelas untuk menghasilkan solusi-solusi yang andal, tanpa memikirkan ego dan kepentingan pribadi.

Para eksekutif dan pimpinan wajib menjadikan  meeting mereka sebagai ajang mencari solusi, sambil menyediakan pokok-pokok pikiran dan pokok-pokok masalah yang sesuai dengan tema meeting tersebut. Dan, setiap pihak wajib menjaga etika dan sopan santun untuk tidak mencederai semangat meeting.

Meeting harus mampu menghapus kekecewaan yang ada, harus mampu menciptakan kepuasan buat setiap pihak, harus mampu membangkitkan semangat, gairah, kreativitas, dan semua potensi unggul yang lain.

Para pimpinan wajib menghindari setiap potensi konflik dengan mengajak setiap pihak untuk berpikir positif, agar mampu meningkatkan kualitas meeting melalui partisipasi, interaksi, produktivitas dan output. Dengan hasil akhir merangkul semua kekuatan organisasi dan Mengarahkannya pada kinerja bisnis yang hebat.

Berikut tips untuk membuat meeting Anda berkualitas tinggi:

1. Jangan pernah membahas tentang urusan pribadi di ruang meeting.

2. Hindari kata-kata negatif dalam percakapan yang dapat merusak moods orang lain.

3. Fokus dan perhatikan setiap orang dengan penuh perhatian dan kepedulian.

4. Jangan memulai meeting dalam bahasa yang bertele-tele. Gunakan kata-kata yang dramatis, pernyataan yang relevan dengan tema meeting, dan ajak setiap orang untuk proaktif berdiskusi secara cerdas dan profesional.

5. Tuntaskan semua materi meeting di ruang meeting, dan jangan biarkan perbedaan pendapat keluar dari ruang meeting.

6. Jangan ada yang secara sepihak mempengaruhi hasil meeting. Pastikan hasil meeting melalui diskusi dan brainstorming, yang  merangkul setiap ide secara efektif sebelum proses pengambilan keputusan dan resolusi.

7. Pastikan setiap pemimpin memiliki kearifan kolektif, untuk menggunakan forum meeting sebagai forum diskusi yang sehat, dalam upaya membangun kualitas unit kerja yang diwakili menjadi lebih unggul.

8. Pastikan semua pihak memiliki mental, sikap dan karakter  untuk mendukung keputusan akhir meeting dengan sepenuh hati.

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Djajendra Menjawab! Mengatasi Kendala Jenjang Karir Di Perusahaan

Agustus 29, 2009

“Perilaku Kerja Perusahaan Yang Hanya Difokuskan Pada Angka-Angka, Tanpa Sikap Untuk Memberdayakan, Menyemangati, Menggugah, Dan Memberi Penghargaan Kepada Para Karyawan, Akan Menjadi Tidak Efektif.” – Djajendra

3772414_c451d991f1_sq

Yth, Bp. Djajendra

Salam kenal….Terima kasih atas artikel-artikel corporate wisdom dari  bapak. Dalam kesempatan ini saya ingin solusi dari bapak mengenai problem  yang terjadi dilingkungan kerja kami, yaitu antara engineer dengan crew mesin atau operator. Technician rata2 lulusan diploma dengan masa kerja 5  tahunan dan atau SMK dengan masa kerja 9 tahun keatas, sedang operator  rata-rata lulusan SMK fresh sampai paling lama 5 tahunan. Seiring dengan  pertumbuhan/expansi perusahaan kami bekerja yang jadi kendala mengenai  jenjang karir dikarenakan banyaknya Operator mendapat promosi menjadi  Foreman/ unit head dimana ini setara dengan senior technician atau engineer dan rata-rata gaji technician/engineer setara bahkan ada yang  kalah dengan operator. Padahal dahulu jenjang karir technician yang sudah  tidak capable karena pengaruh umur dimasukkan ke administratif atau jadi  unit head disamping senioritas.  Untuk itu mohon masukkan dan solusi dari bapak mengenai hal ini sehingga  para technicia/ engineer tidak mengalami demotivasi yang pada akhirnya  akan mempengaruhi kinerja karyawan. Kalau diengineering tidak ada jejang  karir struktural bagaimana mencari solusinya.

Sekian terima kasih atas perhatian Bapak.

Salam, Noor Hidayat.

Djajendra Menjawab!

Yth. Bp.  Noor Hidayat.

Salam Bahagia.

Problem yang terjadi dilingkungan kerja adalah hal yang wajar selama problem itu bisa diselesaikan dengan bijaksana dan profesional. Dalam kasus lingkungan kerja Anda, problem antara engineer dengan crew mesin atau operator terjadi disebabkan oleh ketidakkonsisten manajemen dalam menjalankan prinsip-prinsip kerja yang berlandaskan asas keadilan, keterbukaan, kejujuran, dan pertanggungjawaban.

Ketidakkonsistennya manajemen dapat dibuktikan dari sikap manajemen, dahulu jenjang karir technician yang sudah  tidak capable karena pengaruh umur dimasukkan ke administratif atau jadi  unit head disamping senioritas. Tetapi, sekarang pekerjaan itu diisi oleh para operator yang secara pendidikan dan pengalaman masih dibawah technician.

Sikap tidak konsisten ini akan berdampak negatif buat pemberdayaan dan pengembangan kualitas karyawan dalam pencapaian kinerja perusahaan yang maksimal. Dan bila kondisi ini berlangsung secara terus-menerus, perusahaan akan kehilangan momentum untuk membangun etos kerja yang hebat, untuk menjadikan setiap karyawan bekerja dengan kualitas prima di perusahaan.

Saran saya, secepatnya persoalan ini diatasi dengan cara membuat konsep jenjang karir dan konsep penggajian yang didasarkan pada hal-hal yang bersifat konsisten. Selanjutnya sikap konsisten ini harus diperlihatkan perusahaan melalui peraturan, kebijakan, dan perilaku manajemen yang adil, jujur, terbuka, realistis, bersikap profesional, berempati, dan bersahabat dengan semua karyawan.

Manajemen harus segera memperbaiki hal-hal yang membuat para technician / engineer merasa tidak adil; perusahaan harus segera menghapus perilaku manajemen yang tidak adil dan tidak jelas; lalu, menciptakan perilaku manajemen yang efektif dan yang dicintai oleh setiap karyawan.

Pertumbuhan atau ekspansi bisnis perusahaan harus diikuti juga dengan penajaman pada kekuatan perilaku dan budaya kerja karyawan yang sesuai dengan strategi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang baik pasti memiliki sistem yang jelas untuk pemberdayaan dan pengembangan semua unsur dari kekuatan sumber daya manusianya. Jadi, kalau diengineering tidak ada jejang karir struktural, solusinya adalah perusahaan wajib membuat peta perjalanan karir para technician / engineer sehingga ada jenjang karir buat mereka di struktur organisasi perusahaan.

Saat para technician / engineer memahami jenjang karir mereka di perusahaan, mereka akan bekerja dengan harapan dan semangat yang lebih tinggi. Mereka juga akan merasa bahagia bisa bekerja bersama perusahaan yang memperhatikan karir dan masa depan mereka.

Sekian dulu ya, pak. Semoga Anda bisa menyelesaikan semua persoalan kantor Anda dengan bijaksana. Thanks, have a great day!

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com


Djajendra Menjawab! Bagaimana Caranya Membuat Karyawan Fresh Graduates Bisa Bekerja Dengan Kualitas Terbaik?

Agustus 21, 2009

“Didiklah Para Fresh Graduates Untuk Memahami Semua Kebutuhan Perusahaan, Dan Kemampuan Untuk  Mencari Solusi-Solusi Terbaik Buat Keberhasilan Perusahaan.” – Djajendra

Yth Bapak Djajendra,

Setelah melakukan rekrutmen fresh graduates untuk berbagai posisi dan jabatan kerja di perusahaan. Training seperti apa yang seharusnya kita berikan kepada mereka. Mengingat mereka baru selesai kuliah S1 atau S2. Apa yang harus perusahaan lakukan, agar para karyawan baru yang fresh graduates ini bisa bekerja dengan kualitas terbaiknya? Terima kasih, Santy, Jakarta.

Djajendra Menjawab!

Dear Santy,

Para karyawan baru yang baru selesai kuliah pastinya telah banyak belajar tentang teori dan konsep yang hebat. Artinya, perusahaan tidak perlu lagi mengajarkan hal-hal yang telah mereka pelajari sekian tahun di bangku kuliah.

Setelah perusahaan memastikan bahwa para fresh graduates ini telah memiliki fondasi pengetahuan yang sesuai misi dan karakter kerja perusahaan. Perusahaan wajib mendidik para fresh graduates ini dengan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan visi, misi, value, budaya, kepemimpinan, manajemen, organisasi, produk, jasa, etos kerja, bisnis, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan operasional perusahaan. Jadi, fokuskan pelatihan para fresh graduates ini untuk mempelajari perusahaan secara total, agar mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjalankan dan melayani fungsi dan peran kerja mereka masing-masing secara dewasa di perusahaan.

Lakukan proses  menginternalisasikan core value perusahaan dan keterampilan kerja yang sesuai dengan SOP perusahaan. Jadikan SOP sebagai materi untuk melatih keterampilan kerja para fresh graduates ini, dan jadikan core value sebagai materi pelatihan etos kerja perusahaan. Artinya, saat para fresh graduates ini sudah mampu memahami dan menjadikan SOP dan core value sebagai panduan dalam melayani perusahaan dan pelanggan, maka secara otomatis para fresh graduates tersebut sudah bisa bekerja dengan kualitas kerja yang sesuai dengan semangat perusahaan. Selain itu tanamkan juga nilai-nilai moral, spiritual, dan etika kepada para fresh graduates.

Gunakan para pengajar dari internal perusahaan untuk mengajarkan keterampilan kerja, dan gunakan para pengajar dari luar perusahaan untuk mengajarkan nilai-nilai etika, moral, dan pembentukan karakter si karyawan baru tersebut sesuai dengan core value perusahaan.

Ingat! perilaku kerja para fresh graduates tersebut harus sama dengan semangat core value perusahaan dan harus sesuai dengan SOP perusahaan.

Dalam pembekalan terhadap para fresh graduates ini perusahaan harus memahami setiap kebutuhan perusahaan, lalu secara tegas menginternalisasikan semua tatacara kerja dan nilai-nilai kerja yang dibutuhkan perusahaan dalam melayani semua pihak. Jangan mendidik para fresh graduates ini untuk melakukan sebuah tindakan, tapi didiklah mereka untuk memahami semua kebutuhan perusahaan untuk kemudian mencari solusi-solusi terbaik buat keberhasilan perusahaan. Sekian dulu ya, Santy! Thanks and Have a great day!

Untuk seminar/training hubungi www.ninecorporatetrainer.com