PEMIMPIN, SUMPAH JABATAN, DAN FAKTA INTEGRITAS

PEMIMPIN, SUMPAH JABATAN, DAN FAKTA INTEGRITAS

“Tantangan Terbesar Untuk Kehidupan Yang Jujur Dan Berintegritas Adalah Ketika Kehidupan Sosial Tidak Mempersoalkan Cara Orang Untuk Memperkaya Diri.” ~ Djajendra

Pertanyaan

1. Langkah Apa Yang Harus Dilakukan Kepada Pemimpin Yang Kurang Jujur Dalam Melaksanakan Jabatanya ?

Djajendra Menjawab

Setiap pemimpin formal pasti diangkat melalui aturan formal dengan sumpah jabatan dan fakta integritas. Seorang pemimpin diperusahaan diangkat melalui RUPS; seorang pemimpin di sebuah organisasi diangkat melalui rapat anggota; seorang pemimpin negara, baik pusat maupun daerah, diangkat melalui pemilu; dan banyak pemimpin publik diberbagai bidang pelayanan kepada masyarakat diangkat melalui serangkaian aturan, peraturan, kebijakan, dan juga setelah lulus fit and proper test. Artinya, sudah sangat jelas bahwa semua pemimpin formal dipilih melalui proses rekrutmen yang sangat berlapis dengan tujuan, agar setelah terpilih para pemimpin tersebut dapat menjalankan kepemimpinannya secara etis dari integritas pribadi yang paling jujur.

Persoalannya, bila pemimpin bersikap kurang jujur dalam melaksanakan jabatannya, maka dia berarti telah mengingkari sumpah jabatan dan fakta integritas yang dia buat. Oleh karena itu, mekanisme pengawasan yang jujur dan adil harus dijadikan sebagai alat untuk mengingatkan semua pemimpin tentang sumpah jabatan, fakta integritas, tugas dan tanggung jawab, target, dan kinerja.

Bila pemimpin tetap bersikap tidak jujur dengan jabatannya, maka proses pemberhentian harus dilakukan. Contoh, kalau pemimpin di perusahaan harus diberhentikan melalui RUPS, pemimpin organisasi harus diberhentikan melalui rapat anggota, pemimpin negara harus diberhentikan melalui pemilu yang adil dan jujur, dan seterusnya, di mana setiap pemberhentian terhadap pemimpin yang tidak jujur dengan jabatanya harus dilakukan melalui mekanisme formal sesuai peraturan dan ketentuan yang ada. Artinya, setiap orang harus tunduk kepada aturan dan ketentuan. Kecuali untuk pemimpin informal. Sebab, pemimpin informal diangkat dari rasa percaya orang-orang yang membuatnya menjadi pemimpin, dan bila rasa percaya itu hilang, maka secara otomatis orang-orang akan tidak mempercayai dirinya untuk menjadi pemimpin mereka.

Pertanyaan

2. Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Sumpah Jabatan Menjadi Kebiasaan Untuk Persyaratan Serimonial Dan Fakta Intergritas Menjadi Kebiasaan Untuk Pencitraan Kejujuran, Dan Bagaimana Menyikapi Persoalan Ini, Untuk Bisa Mendidik Generasi Bangsa Agar Patuh Pada Integritas Dan Kejujuran?

Djajendra Menjawab

Ketika sumpah jabatan menjadi kebiasaan untuk tidak jujur dan fakta integritas menjadi kebiasaan untuk pencitraan tanpa kejujuran. Maka, realitas ini memperlihatkan fungsi kepemimpinan dan pengawasan yang adil dan jujur telah tidak berdaya. Oleh karena itu, harus ada keseriusan dan ketegasan dari semua kekuatan atau stakeholder untuk memperbaiki kualitas integritas dari fungsi kepemimpinan dan pengawasan.

Bila kualitas integritas dari fungsi kepemimpinan dan pengawasan selalu tidak dapat dipercaya, maka secara moral dan hukum pasti akan terjadi banyak ketidakjujuran.

Ketika hukum formal sudah tidak berdaya terhadap rendahnya kualitas integritas dari fungsi kepemimpinan dan pengawasan. Saatnya, diperlukan hukum sosial yang kuat untuk membuat orang-orang yang tidak jujur  menjadi malu dan tak punya harga diri di lingkungan kehidupan sosialnya.

Bila semua orang-orang tidak jujur yang rendah integritasnya terhadap jabatan dan kekuasaan dipermalukan melalui hukum sosial sampai ke anak cucu, maka semua orang yang punya jabatan dan kekuasaan pasti berlomba-lomba untuk menjadi orang jujur, serta selalu bekerja keras untuk meningkatkan kualitas integritasnya terhadap jabatan dan kekuasaan. Sebab, pada dasarnya, semua orang ingin dihargai secara sosial, dan tidak ingin harga dirinya dihina atau dilecehkan oleh siapapun.

Tetapi, bila di dalam sebuah komunitas atau bangsa, uang menjadi ukuran dari penghargaan sosial, serta jumlah kekayaan menjadi ukuran terhadap tingginya penghormatan dan meningkatnya harga diri seseorang, maka keserakahan ekonomi akan terus berlangsung. Sebab, kehidupan sosial telah memberikan dukungan untuk kehidupan yang tidak jujur, termasuk untuk kehidupan tanpa etika dan integritas.

Oleh karena itu, selama tidak adanya hukuman sosial melalui budaya malu, melalui budaya yang menurunkan harga diri seseorang secara sosial, karena tidak jujur terhadap menjalankan jabatan dan kekuasaan, maka setiap generasi akan merasa biasa-biasa saja untuk menjadi tidak jujur, dan ketidakjujuran akan menjadi budaya yang terus-menerus akan diwariskan ke setiap generasi.

Djajendra

About these ads